Terima Kasih, Bu..

thank-you-note11*Gambar dari sini
Ibu,

saya ikut perih. Ikut sedih dan sakit hati saat membaca berita tentang anak Ibu yang jadi korban kekerasan di sekolahnya. Anak yang dijaga sejak dalam kandungan, dilepas dengan berat hati saat mulai sekolah. Dipilihkan sekolah yang cukup mahal dengan harapan harga yang harus dibayarkan sebanding dengan kualitasnya. Biarlah kita kerja lebih keras, badan remuk asal anak dapat yang bagus. Tapi ternyata, justru di sekolah itu malapetaka terjadi.

Ibu,

uang bisa diganti, bisa dicari lagi. Tapi hati anak, psikis anak yang kadung terluka, berat menyembuhkannya. Jangankan dari kejahatan yang begitu keji, kita kelepasan memarahi keras-keras saja beberapa hari berikutnya anak masih manyunin kita kan, Bu? Kami semua yang mengikuti apa yang terjadi, ikut mendoakan, Bu. Semoga anak ibu lekas pulih, fisik dan psikis. Lekas ceria, dan senyumnya kembali. Sesungguhnya senyum anak mahal harganya, ya, Bu. Pulang kerja capek luar dalam, tapi lihat anak tertawa gelak menyambut kita rasanya capek langsung hilang.

Ibu,

kejadian itu menyentak kami. Terus terang setiap hari ada saja saya membaca kasus seperti ini. Saya akan prihatin, lalu lupa. Karena dalam benak saya akan terpikir, ah itu, kan, kejadiannya di kampung yang isinya orang-orang nggak jelas; ah itu, kan, di tempat yang kurang pengawasan; ah itu, kan, anak-anak yang suka main di jalan/sembarangan, anak saya di tempat yang aman. Tapi ternyata salah, ya, Bu. Harusnya kami tidak boleh selengah itu, ya? Penjahat bisa ada di mana saja, berbaju apa saja, dan menjadi siapa saja.

Ibu,

saya kagum pada Ibu. Saya sangat kagum. Ibu dengan berani berdiri dan berbicara di tengah ancaman pihak sekolah yang backing-nya pasti bukan main-main. Kementerian saja berani mereka lawan. Kalau saya mungkin akan kalah dengan ancaman sekolah, Bu. Belum lagi saya akan memilih diam ketimbang kehilangan muka di depan keluarga atau teman-teman kolega dan lingkungan pergaulan saya. Diam walau akan mengorbankan perasaan anak saya yang tidak terbela. Egois saya ini, ya, Bu. Nggak seperti Ibu yang dengan mengesampingkan itu semua, anak-anak lain bisa terselamatkan. Teman-teman anak Ibu sendiri, dan bahkan anak-anak di sekolah-sekolah lain.

Anak-anak yang ternyata juga telah menjadi korban, jadi berani ikut bicara. Yang tidak, jadi lebih waspada. Berkat keberanian Ibu dan anak Ibu, komisi sekolah-sekolah diserbu pertanyaan para orangtua yang ingin memastikan keamanan masing-masing sekolah. Ikut mengecek staf dan perusahaan outsource yang disewa sekolah, menanyakan pemasangan CCTV dan memastikan tidak rusak, memperketat sistem antar-jemput, sampai program sekolah tentang sex education dan bagaimana mengenali dan menghadapi orang jahat. Sebelumnya mungkin ho-oh saja dengan apa kata sekolah.

Dan yang terpenting, Bu, berkat Ibu, kami bicara lagi pada anak-anak. Kami bertanya tentang sekolah, teman-teman mereka, dan kegiatan mereka. Sesuatu yang tadinya jarang kami lakukan. Sekarang kami ingin anak-anak berani bicara pada kami, Bu. Seperti anak Ibu bicara pada Ibu. Ibu pasti dekat sekali dengan anak Ibu, ya? Jadi dia tidak takut bicara pada Ibu dan menguak semuanya. Anak-anak kami belum tentu seperti itu. Kami nggak mau anak takut dan enggan bicara pada kami sampai semua terlambat. Makin cepat ketahuan makin cepat tindakan bisa diambil, kan? Nggak terbayang kalau kasusnya seperti anak Ibu dan baru ketahuan berbulan-bulan kemudian. Ibu yang cepat ketahuan saja masih perlu beberapa minggu untuk bisa mengorek cerita lengkap dari anak, ya, Bu?

Ibu,

semoga anak dan keluarga Ibu bisa melewati cobaan ini. Semoga proses pemeriksaan lancar, dan semua pelaku mendapat hukuman setimpal. Sehingga orang-orang yang tadinya punya niat yang sama jahatnya, mengurungkan niatnya. Semoga sekolah yang bersangkutan juga dapat dikenai konsekuensi yang tepat. Karena dengan menutup begitu saja, bagaimana nasib murid-murid yang lain?

Ibu,
terimakasih, Bu, telah mengingatkan kami.
Salam dan peluk dari sesama Ibu.

8 Comments - Write a Comment

  1. Mewek deh, bacanya :'(

    Tapi setuju, kita semua HARUS berterimakasih sama si ibunya korban, kalau nggak berkat kegigihan dia, karena keberanian dia, kita nggak ada yang tau. Kita tetap nggak peduli, kita tetap beranggapan bahwa pelecehan seksual terhadap anak hanya terjadi di belantara sana, bukan sama anak-anak kita yang nyaman dan aman di dalam rumah :’)

    Terimakasih ya, Bu..

  2. Bagus banget Kir, bikin berkaca-kaca :(

    Iya bener, kasus ini membuat kita peduli dan membuka mata. Sangat disayangkan ada korban dulu :(
    Hal ini membuat gue sekarang tiap hari banyak tanya sama Maika dan berusaha Maika untuk cerita semua kejadian di sekolah. Sadar juga bahwa sex education sudah harus dilakukan.

    Terima kasih, Ibu. Semoga semua berakhir dengan baik.

  3. Sedih, amat ini artikelnya. Tapi, bener, ya. Setelah kejadian tersebut, ibaratnya kita para ibu2 (khususnya gue) jadi kembali sadar kalau pelecehan seksual memang terjadi di depan mata. Bahkan di sekolah yang kita pikir tingkat keamanannya sudah sangat bagus, ternyata ‘bocor’ juga.

    Terima kasih, ya, Bu…

  4. efek luar biasa dr kejadian ini sih, cm krn kebodohan beberapa menit dr pekerja yg ‘mungkin’ disepelekan di sebuah instansi, bisa kasih efek luar biasa ke sekolah itu..

    sebenernya, kalo mau cari korban2 beginian gak susah kok. cari di pasar2, jalanan, anak2 pengamen. cm krn mereka gak berani bersuara aja jd gak sedahsyat ini. yaah kalaupun bersuara, palingan jg gak didenger sm pemerintah atau kepolisian..

    semoga anak2 kita terhindar dr segala macam hal buruk..
    jangan sampai lengah kalo udah urusan anak..

    1. betul…makanya saya bilang sering baca sering dengar kasus seperti ini. tapi karena merasa terjadinya di ‘bukan lingkungan gue’ jadi terabaikan, nggak waspada.
      klo kasus ini kan bagi kebanyakan orang justru di ‘lingkungan yg lebih bagus dr gue’, makanya jd shock therapy.

      but still, tanpa keberanian si ibu kita semua ga akan pernah tau kejadian ini.

Post Comment