13 Kesalahan Komunikasi Pasangan Baru, Bisa Bikin Pernikahan Gagal!

Marriagedetail-thumb

Baru menikah tapi sering salah paham? Ini daftar kesalahan komunikasi yang sering terjadi. Jangan dibiarkan, karena bisa bikin pernikahan retak!

Awal pernikahan sering disebut sebagai masa penyesuaian. Dua orang dengan latar belakang, kebiasaan, dan cara berpikir berbeda kini hidup dalam satu atap. Dulu, perbedaan mungkin terasa lucu atau bahkan menggemaskan. Tapi setelah menikah, hal kecil seperti cara menaruh handuk atau memilih lampu kamar mandi bisa berubah jadi sumber konflik.

Masalahnya sering kali bukan karena perbedaan itu sendiri, melainkan karena kesalahan komunikasi yang tanpa sadar dilakukan oleh pasangan baru. Psikolog dan konselor pasangan Karla Ivankovich, Ph.D., bilang, “Bayangkan betapa membosankannya dunia ini jika kita semua sama. Berbeda pendapat itu biasa selama disampaikan dengan cara yang saling menghormati.”

Kesalahan Komunikasi yang Sering Dilakukan Pasangan Baru

Berikut ini 13 kesalahan komunikasi yang sering dilakukan pasangan baru, lengkap dengan penjelasan dan cara memperbaikinya agar hubungan tetap sehat dan saling terhubung.

BACA JUGA: Ekspektasi VS Realita Pernikahan di Tahun Pertama, Apa Kata Mereka?

1. Menghindari percakapan sulit

Banyak pasangan baru memilih diam demi menjaga suasana tetap aman. Topik seperti keuangan, pembagian peran, hubungan dengan keluarga besar, atau kebutuhan emosional sering ditunda karena takut memicu pertengkaran.

Sayangnya, menghindari konflik justru membuat masalah tidak pernah benar-benar selesai. Emosi yang dipendam bisa berubah menjadi jarak emosional atau rasa kesal yang sulit dijelaskan.

Cara memperbaiki:

Bahas topik sensitif di waktu netral, bukan saat emosi memuncak. Jadikan diskusi sebagai upaya mencari solusi bersama, bukan mencari siapa yang salah.

2. Menjawab berdasarkan asumsi

Banyak konflik dimulai dari asumsi: “Dia pasti marah,” atau “Dia sengaja bilang begitu.” Padahal, maksud pasangan bisa saja berbeda. Asumsi membuat pasangan merasa tidak dipahami dan memicu salah paham berulang.

Cara memperbaiki:

Biasakan bertanya dan klarifikasi. Jangan cepat bereaksi dan mau mencari kejelasan bisa mencegah konflik yang tidak perlu.

Foto: Timur Weber/Pexels

3. Balasan singkat dan dingin

Jawaban singkat seperti “ok”, “ya”, atau “terserah” memang praktis, tapi jika terlalu sering digunakan, pasangan bisa merasa diabaikan. Lama-kelamaan, komunikasi terasa hambar, tidak hangat, dan perasaan kesal. Ini dapat memicu terjadinya silent treatment. 

Balasan dingin juga sering membuat pasangan overthinking dan mempertanyakan posisi dirinya dalam hubungan.

Cara memperbaiki:

Tambahkan emosi dan nada yang ramah. Respons yang lebih hangat menunjukkan bahwa kita benar-benar cinta dan peduli.

4. Tidak mendengarkan secara aktif

Banyak pasangan baru merasa sudah “mendengar”, padahal sebenarnya hanya menunggu giliran untuk membalas. Saat pasangan bicara, fokus kita justru sibuk menyusun argumen, membela diri, atau bahkan menyela sebelum kalimatnya selesai. Tanpa sadar, ini membuat pasangan merasa tidak didengar dan tidak penting karena kita kurang apresiasi.

Dalam pernikahan, rasa didengarkan bukan sekadar soal informasi, tapi soal validasi emosi. Ketika seseorang merasa ceritanya dipotong atau diabaikan, ia cenderung menarik diri dan enggan terbuka di kemudian hari.

Cara memperbaiki:

Latih active listening dengan benar-benar hadir saat pasangan bicara. Biarkan pasangan menyelesaikan kalimatnya, jaga kontak mata, dan ulangi inti ucapannya dengan kata-kata sendiri. Cara ini menunjukkan bahwa kita bukan hanya mendengar, tapi juga berusaha memahami.

5. Menggunakan kata-kata menyalahkan dan kritik personal

Kalimat seperti “Kamu selalu begitu” atau “Kamu memang nggak pernah peka” sering keluar tanpa sadar, terutama saat emosi memuncak. Sayangnya, kata-kata menyalahkan langsung menyerang karakter pasangan, bukan masalahnya.

Akibatnya, pasangan akan bersikap defensif, menutup diri, atau balik menyerang. Komunikasi pun berubah menjadi adu ego, bukan diskusi.

Cara memperbaiki:

Fokus pada perilaku dan perasaan, bukan karakter. Gunakan “I statements” seperti, “Aku merasa kewalahan saat semua harus aku kerjakan sendiri,” dibandingkan, “Kamu nggak pernah bantu.” Pendekatan ini membuat pasangan lebih terbuka mendengarkan.

6. Multitasking dan gangguan digital saat berbicara

Berbicara sambil memegang ponsel, menonton TV, atau mengecek notifikasi membuat pasangan merasa hanya mendapat sisa perhatian. Walau terlihat sepele, kebiasaan ini bisa mengikis kedekatan emosional sedikit demi sedikit.

Beberapa konselor perkawinan dan hubungan bahkan menyebut ponsel di meja sebagai “pihak ketiga” dalam pernikahan karena mengurangi kontak mata dan empati.

Cara memperbaiki:

Buat kesepakatan tech-free talk time, terutama saat membahas hal penting. Letakkan ponsel di luar jangkauan selama 10–15 menit agar pasangan merasa benar-benar diperhatikan.

BACA JUGA: 8 Cara Bertengkar dengan Sehat dalam Pernikahan, biar Makin Sayang!

7. Mengungkit masalah lama saat membahas konflik baru

Saat emosi naik, godaan untuk membuka “arsip lama” sangat besar. Masalah yang seharusnya sederhana akhirnya melebar karena ditumpuki luka lama yang belum selesai. Hal ini membuat pasangan merasa diserang secara bertubi-tubi dan sulit fokus pada solusi.

Cara memperbaiki:

Bahas satu masalah dalam satu waktu. Jika isu lama memang belum tuntas, bicarakan secara terpisah di momen yang lebih tenang dan fokus.

8. Waktu yang tidak tepat dan emosi yang terlalu penuh

Banyak pasangan baru membahas topik berat saat salah satu sedang lelah, lapar, atau stres. Dalam kondisi ini, otak cenderung masuk mode bertahan, bukan berdiskusi. Akibatnya, pembicaraan mudah berubah menjadi pertengkaran.

Cara memperbaiki:

Biasakan bertanya, “Sekarang waktu yang tepat nggak untuk ngobrol?” Jika emosi mulai meluap, ambil jeda sekitar 20 menit untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan diskusi.

9. Mengira pasangan bisa membaca pikiran

Berharap pasangan otomatis tahu apa yang kita inginkan sering berujung kekecewaan. Banyak pasangan baru merasa, “Kalau dia sayang, harusnya paham,” padahal setiap orang punya cara berpikir berbeda.

Ketidakjelasan ini bisa menciptakan jarak emosional dan rasa tidak dihargai.

Cara memperbaiki:

Ungkapkan perasaan dan kebutuhan secara jelas dan spesifik. Komunikasi langsung membantu pasangan memahami apa yang benar-benar kita butuhkan tanpa harus menebak-nebak.

13 Kesalahan Komunikasi Pasangan Baru, Bisa Bikin Pernikahan Gagal!

Foto: Yan Krukau/Pexels

10. Terlalu fokus ingin menang dalam argumen

Saat diskusi berubah menjadi ajang pembuktian siapa yang benar, hubungan justru kehilangan esensinya. Memenangkan argumen sering kali berarti kehilangan koneksi.

Pasangan mungkin diam, tapi bukan berarti setuju. Bisa jadi dia hanya lelah.

Cara memperbaiki:

Ubah tujuan diskusi dari menang menjadi memahami. Dengarkan sudut pandang pasangan, bahkan jika kamu tidak sepenuhnya setuju.

11. Memendam emosi atau terlalu meledak-ledak

Menurut terapis pasangan Terry Real, dua ekstrem ini sama-sama merusak. Memendam emosi demi menjaga damai sering berujung ledakan, sementara meluapkan emosi tanpa kontrol bisa melukai pasangan. Keduanya membuat komunikasi tidak aman secara emosional.

Cara memperbaiki:

Cari jalan tengah. Ungkapkan emosi secara jujur, tapi tetap bertanggung jawab dan penuh respek.

12. Gaya bicara: menginformasikan vs mengarahkan

Menurut Carol A. Linden, seorang ahli tipe kepribadian dan gaya komunikasi, sebagian orang nyaman dengan arahan langsung, sementara lainnya merasa dikontrol jika diberi perintah. Perbedaan gaya ini sering memicu konflik tanpa disadari.

Cara memperbaiki:

Perhatikan pilihan kata. Jika merasa “diperintah”, sampaikan dengan jujur. Komunikasi terbuka membantu pasangan menyesuaikan gaya bicara.

13. Satu tenang, satu emosional saat bertengkar

Laurie dan Joe Battaglia menjelaskan bahwa Thinkers dan Feelers berbicara dengan bahasa berbeda. Yang satu cepat move on, yang lain butuh waktu memproses emosi. Tanpa pemahaman, keduanya bisa merasa tidak dipahami.

Cara memperbaiki:

Psikolog Karla Ivankovich menyarankan untuk mengulang kembali respons pasangan dan menjelaskan dampak emosionalnya. Cara ini membantu kedua pihak merasa divalidasi.

BACA JUGA: Isi KUHP Baru tentang Pernikahan dan Rumah Tangga yang Perlu Dipahami Keluarga

Cover: Timur Weber/Pexels