
Dari tanggung jawab dan peran yang berubah, itulah yang bikin hubungan setelah menikah terasa beda dibandingkan saat pacaran. Berikut penjelasan psikolog.
Adakah Mommies dan Daddies di sini yang merasa hubungan setelah menikah itu beda dibandingkan dulu pacaran? Mungkin beberapa merasa pasangan berubah nggak seromantis dan semenyenangkan seperti dulu ketika masih kasmaran.
Pengalaman tersebut mungkin bikin Mommies dan Daddies bertanya-tanya apakah perubahan tersebut wajar atau justru pertanda hubungan bermasalah?
Nah, tenang saja, Mommies dan Daddies. Perubahan dinamika hubungan tersebut ternyata hal yang lazim terjadi dan dapat dijelaskan secara psikologis. Untuk membahas topik ini, Mommies Daily sudah menghubungi langsung Nadya Pramesrani, M.Psi., Psikolog., selaku Psikolog Klinis Dewasa dan Co-Founder Rumah Dandelion.
BACA JUGA: Awal Pernikahan Tak Selalu Manis: 7 Hal Ini Sering jadi Sumber Konflik
Menurut penjelasan Psikolog Nadya, salah satu faktor utama yang membuat hubungan setelah menikah terasa berbeda adalah perubahan peran. Saat pacaran, individu cenderung masih berfokus pada diri sendiri dan hubungan romantis semata. Namun setelah menikah, seseorang menjalani peran baru sebagai suami atau istri, bahkan ayah atau ibu.

“Peran baru sebagai istri atau suami dan ayah atau ibu artinya tanggung jawab baru juga. Adaptasi terhadap tanggung jawab baru itu yang bisa mempengaruhi pola hubungan yang tadinya (ketika pacaran) dominan masih berpusat pada diri sendiri,” jelasnya.
Mulai dari mengelola keuangan, pekerjaan rumah tangga, hingga pengasuhan anak, semuanya menuntut energi dan perhatian. Nah, tanggung jawab dan adaptasi terhadap peran baru itulah yang bisa mengubah dinamika hubungan, bukan berarti rasa cintanya hilang atau berkurang.
BACA JUGA: 8 Cara Bertengkar dengan Sehat Dalam Pernikahan, biar Makin Sayang!
Psikolog menegaskan bahwa menikah seharusnya tidak dipandang sebagai “akhir cerita” seperti dalam dongeng. Sebaliknya, pernikahan adalah babak baru yang membuka ruang untuk terus belajar dan mengenal pasangan secara lebih dalam. Coba, siapa Mommies dan Daddies di sini yang kerap menemukan sisi baru pasangan setelah menikah dibandingkan dulu saat pacaran?
“Menikah itu bukan the end kayak di cerita-cerita. Tapi babak baru, yang artinya selalu ada hal baru juga yang baru kita ketahui, kita pelajari, dan kita usahakan bersama,” ujar Psikolog Nadya.

Dalam konteks ini, perubahan bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Setiap fase kehidupan membawa tantangan dan pembelajaran baru, termasuk dalam hubungan suami istri. Yang lebih penting adalah bagaimana Mommies dan Daddies menghadapi dan melalui tantangan itu bersama-sama.
Meskipun sudah menikah, Mommies dan Daddies tetap perlu “pacaran” supaya nggak stuck dengan rutinitas dan tanggung jawab yang baru. Psikolog Nadya menjelaskan bahwa hal ini perlu dilakukan untuk mengenal dan mengetahui satu sama lain.
“Jadi meskipun status udah jadi suami istri, ‘kegiatan pacaran’ tetap perlu dilakukan. Mengenal dan mengetahui satu sama lain, supaya nggak terjebak hanya pada rutinitas dan tanggung jawab-tanggung jawab yang ada.” pungkasnya.
Mommies dan Daddies bisa melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu dilakukan saat pacaran, siapa tahu bisa sekalian nostalgia.
Selain itu, penting untuk menyadari bahwa pasangan terus berkembang seiring waktu. Mengenal pasangan setelah menikah berarti mengenal versi terbarunya, dengan pengalaman, tekanan, dan harapan yang mungkin berbeda dari sebelumnya.
Pada akhirnya, hubungan yang terasa berbeda setelah menikah adalah hal yang wajar. Perubahan peran dan tanggung jawab dapat memengaruhi dinamika hubungan. Meski begitu, hubungan setelah menikah tetap bisa terasa hangat dan menyenangkan karena Mommies dan Daddies tumbuh bersama di fase kehidupan yang baru.
BACA JUGA: Ternyata Ini 10 Hal yang Paling Bikin Pasangan Baru Menikah Overthinking soal Anak
Penulis: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: Freepik