
Pernikahan terasa makin sensitif dan gampang ribut? Bisa jadi attachment issues-lah biang keladinya. Yuk, kenali terlebih dulu attachment style pasangan.
Mommies pernah nggak merasa cinta sama pasangan, tapi kok rasanya juga mudah banget tersulut emosi, gampang curiga, atau malah jadi makin jauh secara perasaan? Kadang bukan karena kita atau pasangan “kurang cinta”, tetapi karena ada pola hubungan dari masa kecil yang tanpa sadar kebawa sampai sekarang. Yes, kemungkinan besar attachment style lah “aktor tak terlihat” dalam drama hubungan Mommies.
Dalam kehidupan pernikahan yang super dinamis, mulai dari pembagian tugas rumah, pekerjaan, persiapan anak sekolah, sampai momen debat kecil “mau makan apa hari ini”, attachment style bisa menentukan apakah konflik selesai dalam 10 menit atau jadi silent war sampai seminggu. Karena emotional attachment seseorang ke pasangannya terbentuk sejak kecil, maka tanpa kita sadari hubungan dewasa yang kita jalani sering kali hanya “mengulang pola”.
Yuk, kenali apa itu attachment style, jenis-jenisnya, dan bagaimana efek attachment issues pada hubungan dan pernikahan.
BACA JUGA: Aturan 70/30 dalam Hubungan Bisa Bikin Cinta Lebih Tahan Lama?
Attachment theory dikembangkan oleh psikolog John Bowlby dan kemudian dilanjutkan oleh Mary Ainsworth. Intinya: cara kita diperlakukan oleh pengasuh utama saat kita kecil membentuk peta mental bagaimana seharusnya cinta dan attachment bekerja di dalam hubungan.
Kalau waktu kecil kita merasa dicintai, aman, valid, dan diterima, besar kemungkinan kita bakal tumbuh dengan secure attachment. Tapi kalau hubungan dengan pengasuh penuh ketidakpastian, berjarak secara emosional, atau bahkan chaos, kita mungkin mengembangkan insecure attachment.
Seperti yang dijelaskan oleh terapis hubungan Laura Caruso, “Attachment adalah ikatan penting antara anak dan pengasuh yang nantinya memengaruhi dinamika hubungannya saat dewasa. Kesulitan dalam attachment pada hubungan dewasa berkembang akibat pengalaman masa kecil dengan pengasuh yang tidak konsisten atau jauh dari kata ideal.”

Ada 4 attachment style yang umum ditemukan:
Ini adalah attachment style ideal. Individu dengan secure attachment nyaman dengan kedekatan emosional, tapi juga tetap mandiri. Mereka bisa berkomunikasi terbuka, percaya, dan menyelesaikan konflik dengan tenang.
Dalam pernikahan, pasangan dengan secure attachment biasanya:
Orang dengan anxious attachment takut banget ditinggalkan. Mereka butuh reassurance terus-menerus dan jadi sangat sensitif dengan perubahan mood pasangan.
Dalam kehidupan pernikahan, cirinya bisa berupa:
Tanpa disadari, clinginess seperti ini bisa bikin pasangan menjauh — makin jauh, makin panik, makin clingy. Siklusnya berlanjut terus.
Attachment style ini menolak keintiman terlalu dalam. Ketika hubungan mulai serius atau emosional, mereka cenderung menjauh.
Pada pernikahan, wujudnya:
Akibatnya, pasangan bisa merasa seperti roommate, bukannya soulmate.
Ini juga disebut disorganized attachment dan biasanya paling kompleks. Orang dengan attachment ini ingin kedekatan, tapi kedekatan juga memicu ketakutan mendalam. Akhirnya, mereka mendekat — lalu tiba-tiba menjauh tanpa alasan jelas.
Dalam pernikahan, perilaku emosional mereka terasa tidak konsisten:
Attachment style bukan diagnosis, tapi indikator pola emosional yang terbentuk dari masa kecil. Menurut Grady Shumway, LMHC, “Memahami attachment style memberi wawasan tentang bagaimana pengalaman awal membentuk hubungan dewasa. Mengenali dan menangani attachment yang tidak sehat dapat menghasilkan hubungan yang lebih aman dan memuaskan.”

Pernah nggak, pasangan tiba-tiba “adem” waktu obrolan mulai serius? Kayak baru mau cerita soal perasaan kok dia langsung jawab, “Aku capek, nanti aja ya.” Buat yang punya avoidant attachment, kedekatan emosional memang terasa seperti alarm waspada. Masalahnya, pasangan bisa merasa ditolak.
Kalau pasangan tipe yang butuh kepastian tiap saat, chat nggak dibales 7 menit sudah deg-degan itu bukan “posesif,” tapi anxious attachment. Niatnya mau dekat, tapi pasangan bisa merasa “kok aku kayak diikutin CCTV ya?” Cobalah tenang. Tarik napas dan bilang,“Semua baik-baik aja. Dia tetap sayang, hanya lagi sibuk.” Efeknya bisa beda banget.
Ini momen klasik dalam pernikahan:
Dia telat balas chat, Mommies mikirnya “dia nggak peduli.”
Kita minta berduaan dia mikirnya “kok clingy banget sih?”
Dan akhirnya ribut bukan karena masalah, tapi karena asumsi. Obatnya? Bukan tebak-tebakan perasaan tapi klarifikasi.
Ada yang kalau sedang sedih langsung setel mode: “Aku nggak apa-apa, santai.” Padahal dalam hati: “Tolong peluk aku, dong.”Ini adalah dinding emosional khas avoidant attachment. Tujuannya supaya nggak kecewa, tapi efeknya justru bikin pasangan nggak bisa masuk dan memberi dukungan.
Kalau dulu hubungan dengan pengasuh/orang tua nggak stabil, alam bawah sadar bisa merekam: “Orang yang aku sayang bisa pergi kapan saja.” Kita jadi sulit percaya, selalu merasa waspada, atau malah menyabotase hubungan karena berpikir “pasti nanti ujung-ujungnya juga ditinggal.”
Cemburu itu manusiawi. Tapi kalau sampai cek ponsel pasangan, tanya “kamu di mana” berkali-kali, atau curiga sama semua teman lawan jenisnya itu tanda insecure attachment sedang pegang kendali.
Banyak pasangan berpikir diam itu lebih baik daripada ribut. Padahal diam bisa jadi bom waktu emosional. Setuju padahal nggak mau, tersinggung tapi pura-pura santai, ada masalah tapi hanya disapu ke bawah karpet. Lama-lama bikin lelah.
Kalau Mommies merasa salah satu dari ini sering muncul, attachment issues bisa jadi pemicunya:
Berita baiknya: attachment style bisa diubah. Beberapa langkah yang bisa dicoba bersama pasangan:
Sadari kalau pola ini terbentuk bukan karena kurang cinta, tapi karena pengalaman masa kecil.
Kedekatan emosional bukan berarti kehilangan kemandirian, begitu juga sebaliknya.
Bukan “Kamu selalu…” tapi “Aku merasa… saat…”
Orang dengan anxious attachment sering lupa self-care, sedangkan yang avoidant attachment sering lupa emotional-care.
Konseling pasangan bukan tanda hubungan rusak justru tanda hubungan sedang diperbaiki.
BACA JUGA: Fenomena “Grey Divorce”, Ketika Rumah Tangga Runtuh di Usia Senja
Cover: Katerina Holmes/Pexels