banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

Kenali 10 Ciri Pasangan yang Berpotensi Melakukan KDRT

author

Sisca Christina19 Oct 2022

Kenali 10 Ciri Pasangan yang Berpotensi Melakukan KDRT

Menurut psikolog, beberpa ciri dari pasangan yang berpotensi melakukan KDRT nggak selalu kentara. Please beware sebelum menjadi korban kekerasan fisik.

 Pepatah: lain pacaran, lain menikah, mungkin ada benarnya bagi sebagian pasangan. Ketika pacaran, semua tampak manis. Setelah menikah, mulai terkuak tabir perilaku asli pasangan, alias kasar. KDRT mulai jadi bagian dalam rumah tangga.

Menurut data dari KemenPPPA seperti dilansir dari MetroTVNews.com, hingga Oktober 2022 terdapat 18.261 kasus KDRT di seluruh Indonesia. Sebanyak 79,5% atau 16.745 korban adalah perempuan, dan 2.948 korban adalah laki-laki. Tak berbeda jauh, data statistik di Amerika juga menunjukkan bahwa 1 dari 4 wanita dan 1 dari 9 pria mengalami kekerasan fisik dari pasangannya.

KDRT Umumnya Diawali dengan Kekerasan Non Fisik

KDRT nggak selalu langsung terjadi di awal pernikahan. Bahkan, KDRT umumnya tak langsung berwujud kekerasan fisik. Melansir Goodhousekeeping.com, menurut Judy Ho, Ph.D., seorang pakar neuropsikologi klinis, ada tanda-tanda awal berupa kekerasan non fisik sebelum terjadi kekerasan fisik. Tanda-tanda ini nggak selalu kentara, bahkan sekilas nggak tampak berbahaya pada awalnya.

Namun, justru di situlah perangkapnya. Sebab, itu adalah cara cara pelaku untuk mengisolasi dan menanamkan rasa takut kepada pasangan, sehingga pasangan merasa tak punya tempat untuk meminta bantuan. Ketika sudah semakin terisolasi, maka pelaku KDRT akan mulai melancarkan aksi kekerasan fisik.

Kenali Ciri Pasangan yang Berpotensi Melakukan KDRT

Para pakar menyarankan, jika pasangan Anda menunjukkan ciri-ciri berikut, fix, Anda harus cari bantuan sebelum mengalami kekerasan fisik.

1. Menghujani Anda dengan cinta

Siapa sangka rajin menghujani pasangan dengan pujian dan kasih sayang secara berlebihan justru bisa menjadi salah satu ciri pasangan yang bisa melakukan KDRT? Menurut para ahli, seringkali para pelaku memulai KDRT dengan love bombing. Mereka menciptakan siklus perilaku dari yang sangat manis, kemudian dibumbui dengan sikap kasar, kemudian berubah kembali menjadi manis, begitu seterusnya. Sikap manis pelaku dibuat untuk menanamkan memori di benak pasangan bahwa pelaku memang baik, sehingga mempermudah korban untuk memaafkan pelaku, dan korban tak menyadari bahwa kekerasan sudah berlangsung.

2. Berkepribadian ganda

Di depan umum, pelaku bisa menampilkan kepribadian yang sangat manis. Namun ketika hanya berdua dengan Anda, berubah 180 derajat. Ini ditujukan agar tak ada yang percaya pada Anda ketika Anda mengatakan hal buruk tentangnya. Menurut psikolog klinis di Pennsylvania, Jaime Zuckerman, hal ini bahkan bisa membuat korban meragukan instingnya sendiri.

3. Memanipulasi pasangannya

Pelaku yang berpotensi melakukan KDRT biasanya juga sering memanipulasi pasangannya. Tujuannya, supaya Anda merasa Andalah masalahnya, bukan mereka. Ketika mereka berlaku kasar, menyalahkan Anda atau menjadikan Anda sebuah alasan. Contohnya: “Saya melakukan ini karena saya ingin melindungi kamu, karena saya mencintaimu dan nggak ingin kamu kenapa-kenapa.”

Baca juga: Waspada Bahaya Gaslighting, Pelecehan Emosional Dalam Hubungan

4. Mengisolasi Anda dari lingkungan sekitar

Kalau Anda menyadari bahwa Anda semakin terisolir dari keluarga, teman-teman dan komunitas lainnya, sadarilah, itu artinya pasangan sedang menaruh Anda di bawah kendalinya. Mereka ingin Anda jauh dari orang lain agar tak bisa meminta bantuan saat KDRT terjadi. Pelaku KDRT ingin meyakinkan korbannya bahwa merekalah satu-satunya yang bisa Anda andalkan.

5. Berbagai tentang segalanya, yang privat sekalipun

Ini termasuk berbagi sandi akun media sosial, rekening bank, sandi ponsel, dan setiap halnya. Pasangan akan memberi Anda akses untuk hal-hal pribadinya guna membuat Anda percaya kepadanya untuk melakukan hal yang sama. Padahal, itu adalah perangkap agar ia bisa memantau setiap aktivitas Anda, baik itu pesan teks, lokasi, hingga pengeluaran pribadi. Lagi-lagi, ini adalah tanda bahwa pasangan berupaya memegang kendali atas diri Anda.

6. Cemburu berlebihan, hingga menuduh pasangannya berselingkuh

Perhatikanlah ketika pasangan mulai melontarkan kecemburuan yang kurang logis. Misalnya, Anda rajin berolahraga karena dituduh ingin dilihat seksi oleh rekan di kantor. Contoh lain, cemburu terhadap sepupu berlawanan jenis yang menelepon Anda, terhadap komentar-komentar di postingan media sosial yang datang dari lawan jenis, hingga melemparkan tuduhan selingkuh. Itu bisa jadi salah satu ciri pasangan yang berpotensi melakukan KDRT.

7. Tak sungkan menghina pasangannya

Kekerasan fisik seringkali diawali atau disertai dengan kekerasan emosi. Salah satunya dengan melontarkan kata-kata yang menghina pasangannya. Ini bisa diawali dengan ejekan ringan. Ketika Anda nggak keberatan atau tampak nggak menyadarinya, maka ejekan meningkat menjadi hinaan. Baik itu menghina penampilan, selera atau inteligensi (pendapat atau ide) Anda. Misalnya melontarkan: “Kamu kayak badut kalau pakai baju itu,” atau “Hah, serius kamu suka furniture yang itu? Itu tuh jelek banget, nggak modern, tahu nggak sih?”

Baca juga: Bedakan Antara Menutup Aib Suami dengan Menormalisasi KDRT

8. Mengontrol pasangan 

Apa yang Anda pakai, makan, beli, semua harus persetujuan pasangan. Mereka memutuskan segala hal untuk Anda. Awalnya mungkin Anda tersanjung ketika Anda bertanya: “Baju ini bagus nggak di aku?”, lalu pasangan menjawab kurang bagus, dan dia memilihkannya untuk Anda. Tapi hari-hari selanjutnya, Anda akan terlalu dikontrol untuk menentukan hal yang paling sederhana sekalipun dalam hidup Anda. Anda juga bakal diwajibkan untuk segera merespon ketika dia hubungi.

9. Ada ledakan emosi yang tak terduga

Pasangan yang kasar dapat bertindak lekas marah atau memiliki temperamen yang tidak terduga. Parahnya lagi, mereka mungkin menyalahkan Anda atas ledakan kekerasan mereka, kemudian diikuti dengan mengancam untuk membahayakan Anda atau diri sendiri.

10. Menyakiti hewan peliharaan

Walau ciri yang satu ini nggak selalu ada pada setiap pasangan yang berpotensi melakukan KDRT, namun jika pasangan Anda suka menyakiti hewan, maka sebaiknya Anda berjaga-jaga. Misalnya, pasangan menendang anjing yang menggonggong pada tetangga, memukul kucing yang menggaruk sofa, dan seterusnya. Menurut Zuckerman, ini bisa jadi tanda mereka mampu berbuat kekerasan serupa terhadap anda.

Semoga kasus-kasus KDRT di Indonesia dan seluruh dunia, benar-benar bisa tertangani dengan baik dan berangsung-angsur berkurang hingga tak ada lagi.

Baca juga: Omong Kosong Co-Wives dan KDRT yang Saya Alami

Share Article

author

Sisca Christina

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai digital nomad, yang juga suka menulis. Punya prinsip: antara mengasuh anak, bekerja dan melakukan hobi, harus seimbang.


COMMENTS