Pasangan yang Bahagia Juga Bisa Selingkuh. Kok Bisa?

Sex & Relationship

Fannya Gita Alamanda・13 Oct 2022

detail-thumb

Pasangan yang bahagia ternyata juga bisa melakukan perselingkuhan. Dan pertanyaan semua orang adalah: Kok, Bisa?

Wajar jika banyak pertanyaan kemudian muncul. Ini nggak masuk akal! Bagaimana bisa seseorang yang selalu bilang sangat memuja pasangannya tau-tau kepergok atau mengaku berselingkuh? Ternyata, pikiran dan perasaan yang mendorong seseorang menuju perselingkuhan tidak sesederhana itu.

alasan menolak ajakan bercinta suami

Baca: 15 Tanda Umum Saat Pasangan Berselingkuh yang Wajib Anda Tahu!

Model hubungan kini telah berubah

Untuk memahami mengapa orang berselingkuh, baiknya kita coba melihat bagaimana pola hubungan secara umum telah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Sifat pernikahan dan keluarga sedang berubah, dan terjadi pula pergeseran nilai. Berbeda dengan pernikahan di masa lalu, pernikahan modern dinilai kurang memiliki ketangguhan.

Berbeda juga dengan kebanyakan para pria dan wanita di zaman dulu yang siap menikah as soon as possible, kaum millennial sabar menunggu lebih lama dan lebih percaya diri untuk memutuskan apakah dan kapan mereka ingin membuat perubahan besar dalam hidup—seperti menikah dan memiliki anak.

Peran perempuan dalam rumah tangga pun telah berubah, yang berarti bahwa peran gender juga berubah. Dulu, pria berjuang untuk mengekspresikan perasaan mereka dan wanita lebih banyak menanggung beban pekerjaan rumah. Kini, secara perlahan berkembang mengarah pada hubungan yang lebih adil dan sehat.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa meskipun monogami masih disukai oleh mayoritas masyarakat pada umumnya, di banyak negara konsep hubungan poliamori (seseorang menjalin hubungan dengan beberapa orang lain di saat bersamaan dengan sepengetahuan dan seizin pasangannya) kini mulai banyak diterima. Ketika model hubungan ini bisa terjadi, artinya komunikasi yang terjalin dianggap sudah sangat terbuka. Konon, poliamori ini bantu menurunan tingkat perceraian, khususnya di Amerika Serikat.

Jadi mengapa pasangan yang bahagia masih perlu selingkuh?

Keinginan untuk tidak setia tidak dibatasi oleh jenis kelamin, seksualitas, atau usia. Dalam beberapa kasus, perselingkuhan terjadi akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam suatu hubungan seperti kurangnya komunikasi, kebosanan, dan rasa insecure yang tidak dicari jalan keluarnya. Jika salah satu pasangan merasa tidak pernah didengarkan atau mendapatkan respek yang sepantasnya, ia akan berusaha memenuhi kebutuhan itu dari orang lain.

Di sisi lain, terlepas dari apa yang mungkin ditakuti oleh pasangan yang telah diselingkuhi, masalah-masalah dalam hubungan mereka bukanlah satu-satunya alasan mengapa orang berselingkuh. Ketika perselingkuhan muncul akibat pergumulan pribadi, perasaan impulsif, atau tekanan sosial dan lingkungan, masalah-masalah dalam hubungan suami dan istri dapat terjadi karena perselingkuhan, bukan sebagai penyebabnya.

Bedanya perselingkuhan yang dilakukan pasangan bahagia

Dalam sebuah hubungan yang bahagia, seseorang mungkin berselingkuh bukan karena mereka tidak puas dengan pasangannya, tetapi karena mereka tidak puas dengan diri sendiri. Masih butuh pembuktian dan pujian. Lebih gampang bertanya “Apa yang saya inginkan?” daripada “Apa yang pasangan saya inginkan dari saya?”

Ketika seseorang bahagia dengan hubungannya, kecil kemungkinan ia berselingkuh karena sudah nggak cinta. Sebaliknya, mereka baru jatuh cinta dengan seseorang yang memiliki free spirit, berani mengambil risiko, dan suka bertualang saat mereka berselingkuh.

Siapa yang berselingkuh?

Berdasarkan survei, pria punya kans lebih besar berselingkuh daripada wanita (20% pria mengaku berhubungan seks bukan dengan istri mereka dan 13% istri yang mengaku tidur dengan pria lain).

Dalam hubungan heteroseksual, pria, sebagai makhluk visual lebih cenderung mempraktikkan perselingkuhan seksual baik jangka pendek maupun jangka panjang karena tergiur kemolekan fisik lawan jenisnya. Dan mayoritas pria lebih sulit mengungkapkan perasaan dan penghargaan secara verbal, sehingga seks menjadi cara yang digunakan untuk terhubung dengan pasangannya. Nah, jika mereka merasa kebutuhan seks mereka kurang terpenuhi, maka pria akan memenuhi kebutuhan itu dari wanita lain.

Sebaliknya, wanita lebih mengutamakan perasaannya. Jika seorang wanita mencari perhatian dari pria lain kemungkinan besar itu karena dia merasa kurang dihargai atau diabaikan oleh pasangannya.

Jangan abaikan tapi cari bantuan

Ketika Anda tahu ini sedang terjadi di dalam pernikahan (siapa pun pelakunya), jangan pura-pura nggak tahu atau mengabaikannya. Jika masalahnya cukup serius dan Anda sadar nggak punya pengetahuan yang tepat untuk mengatasinya, segeralah cari bantuan dengan menemui konselor pernikahan untuk menyelamatkan pernikahan Anda.

Sumber artikel

Cover image: Image by stefamerpik on Freepik