banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

8 Tanda Anda diabaikan Secara Emosional Oleh Pasangan

author

Fannya Gita Alamanda08 Jun 2022

8 Tanda Anda diabaikan Secara Emosional Oleh Pasangan

Diabaikan secara emosional oleh pasangan rasanya pasti nyebelin. Ini juga bisa membuat pernikahan bermasalah. Kenali 8 tandanya!

Diabaikan secara emosional oleh pasangan biasanya di awal pernikahan memang agak sulit dikenali tapi jika Mommies atau pasangan terlihat malas mengekpresikan perasaan, tidak nyaman menerima ungkapan sayang dan kepedulian, seolah-olah ada penghalang tak kasat mata yang tidak dapat ditembus, jangan abaikan tanda peringatan bahaya ini.

Ketika pasangan saling mengabaikan kebutuhan emosional pasangannya, mereka akan berhenti berbagi perasaan, tidak responsif, dan nggak komunikatif. Jelas, ini bukan yang Mommies bayangkan tentang sebuah pernikahan bahagia, kan?

Baca juga: Silent Killer di Dalam Pernikahan

Photo by Diego San on Unsplash

Diabaikan secara emosional dalam pernikahan, apakah itu?

Ketika Anda merasa diabaikan, ditinggalkan, dan tidak didengar. Entah pasangan atau Anda yang menganggap diri sendiri paling penting, harus selalu diutamakan, tapi abai dengan kebutuhan emosional pasangan sampai-sampai nggak bisa melihat masalah, air mata, atau penderitaan pasangannya.

Ini 8 tanda Anda diabaikan secara emosional oleh pasangan

  • Anda merasa ditolak, diabaikan, dan/atau kesepian
  • Ketika kesal, pasangan sering menggunakan silent treatment dan menolak ungkapan perasaan sayang
  • Alih-alih mengomunikasikan perasaannya, pasangan menyalahkan Anda dan justru menutup diri ketika Anda ingin mendiskusikan masalahnya
  • Pasangan terus menerus mengabaikan kebutuhan Anda untuk dicintai dan menolak segala bentuk ekspresi cinta Anda
  • Anda selalu was-was karena menjalani pernikahan ini seperti sedang berjalan di atas lapisan es yang sangat tipis. Setiap saat bisa retak, hancur, dan tenggelam
  • Tak ada keintiman fisik
  • Merasa terisolasi secara sosial dan pasangan jarang ngajak Anda bepergian dengannya
  • Karena tidak adanya rasa percaya, kalian lebih sering curhat kepada orang lain.

Apa penyebab ini terjadi?

Photo by Tengyart on Unsplash

Alasan paling umum, karena salah satu atau dua-duanya mengalami perasaan terluka, marah, atau dendam tapi tidak bisa diungkapkan. Jika ini berlangsung cukup lama, dapat menyebabkan perasaan bahwa kebutuhan emosiona tak terpenuhi. Kemudian muncullah perselingkuhan emosional, yaitu di saat kita mulai lebih suka curhat kepada orang lain yang kemudian mengarah ke perselingkuhan fisik.

Bagaimana cara pencegahan dan jalan keluarnya?

Photo by Zoe on Unsplash

Komunikasi yang jujur ​​dan terbuka

Jangan baperan ketika pasangan mengkritik sikap atau ucapan Anda. Dengarkan baik-baik ketika ia bicara. Selanjutnya, jangan marah, bersikap sinis, balik menyalahkan, atau merendahkannya. Biarkan ia mengungkapkan perasaannya sampai plong. Kemudian, tanggapi dengan tenang, validasi poin-poinnya, dan ungkapkan pandangan dari sisi Anda.

Cari pasangan dan jangan abaikan dia bahkan saat Anda kesal

Nggak gampang memang menatap mata orang saat kita lagi kesal banget sama dia. Tapi upayakan! Tidak perlu memaksakan senyum manis, tapi jangan beri dia tatapan dingin. Fokus pada masalahnya. Dengarkan cerita dari sisinya, bahkan jika Anda merasa ditolak atau marah.

Jika pasangan yang kesal, tunjukkan Anda tetap peduli dengan tersenyum atau genggam tangannya. Jika pasangan pura-pura sibuk dengan gadget atau berjalan menjauh, dekati dan tanyakan dengan lembut apakah mereka punya waktu untuk berbicara. Perlihatkan kontak mata yang hangat.

Hindari pola mengejar dan dikejar

Dinamika ini terjadi ketika satu pasangan menjadi defensif dan menjauh, dan yang lain kebagian peran menjadi satu-satunya yang berusaha memperbaiki keadaan. Pola ini dapat menghancurkan pernikahan. Jadi, hentikan.

Berlatihlah menenangkan diri ketika pasangan sedang menyebalkan

Beristirahatlah sejenak jika merasa stres dan kewalahan karena amarah. Ini akan memberi kalian berdua waktu untuk sama-sama menenangkan diri dan memikirkan baik-baik kata-kata yang akan diucapkan.

Hindari playing victim

Berhenti memainkan peran sebagai korban dan selalu menyalahkan. Hindari mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu apalagi hanya untuk menyakiti perasaan pasangan. Melakukan hal itu dapat membuat pasangan bersikap defensif.

Photo by Callum Skelton on Unsplash

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-


COMMENTS