banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

5 Pelajaran Penting dari Drama Layangan Putus Untuk Para Pasangan

author

Rahmasari Muhammad06 Jan 2022

5 Pelajaran Penting dari Drama Layangan Putus Untuk Para Pasangan

Layangan Putus, Aris dan Kinan, ada di mana-mana. Di luar meme-meme yang bertebaran, tetap ada pelajaran penting yang bisa.kita ambil.

Drama yang sedang booming ini, membahas seorang suami dan ayah bernama Aris , yang tampak sempurna dari luar – ganteng, pintar, sangat mencintai istrinya, mempunyai pekerjaan & karir yang mapan-namun berselingkuh & berbohong pada istrinya, Kinan, seorang dokter yang berhenti dari pekerjaannya dan memilih fokus menjadi ibu rumah tangga, mengurus rumah, pasangan dan anak.

Baca juga: Apa yang Perlu Kita Lakukan Saat Mengetahui Suami Teman Selingkuh

Terlepas dari seringnya serial ini menjadi bahasan hangat dan ikut menyulut emosi sebagian besar penontonnya, sebenarnya banyak pelajaran seputar hubungan yang bisa kita ambil dari hubungan Aris dan Kinan. Apa saja sih?

Gambar dari sini

1. Perselingkuhan bukan terjadi karena kesalahan / kekurangan pihak yang diselingkuhi

Kadang-kadang kita berpikir “salah apa ya istrinya sampai diselingkuhi, karena kurang cantik, kurang pintar, atau kurang perhatian?” padahal orang yang berselingkuh itu issuenya karena dia tidak bisa menjaga komitmen dan janji dengan pasangannya, bukan karena pasangannya kekurangan sesuatu.

Jadi, jika pasangan kita berselingkuh, jangan menyalahkan diri sendiri, karena dalam suatu hubungan tentunya ada keterlibatan dari dua belah pihak yang harus sama-sama memegang janji, komitmen dan komunikasi. Jika memilih untuk mempertahankan hubungan, boleh saja introspeksi diri dan observasi apa yang perlu diperbaiki dengan pasangan, dan dapat juga berkonsultasi dengan ahlinya misalnya psikolog atau konsultan pernikahan.

2. Jaga Komunikasi & Keterbukaan dengan Pasangan

Dari awal berhubungan hingga menikah, jaga keterbukaan dan komunikasi dengan pasangan. Bahas ekspektasi, keinginan, harapan dan boundaries masing-masing pihak secara jujur, mulai dari masalah komitmen, karir atau pekerjaan, visi berumah tangga, finansial, keluarga, anak, hingga seksual.

Mengapa hal ini krusial? karena jika ada masalah yang harus diselesaikan, dapat didiskusikan sebelum masuk jenjang yang lebih serius, dan jika memang ada masalah prinsip yang tidak dapat dikompromikan, didiskusikan atau dicari jalan tengahnya, lebih baik evaluasi lagi hubungan yang dijalani. Untuk memiliki hubungan jangka panjang yang sehat, cinta saja tidak cukup, tentunya diperlukan juga komitmen, tanggung jawab, komunikasi yang sehat, dan kedewasaan dari kedua belah pihak.

3. Suami maupun Istri Sama-Sama Bertanggungjawab Terhadap Perkembangan dan Pendidikan Anak

Di serial Layangan Putus, diperlihatkan bahwa Aris sangat sibuk (dengan pekerjaan dan selingkuhannya), hingga susah memiliki waktu dengan anak perempuannya, yang sangat menantikan ayahnya pulang untuk membacakan cerita favoritnya.

Kadang-kadang, kita ingin memberikan kebebasan dan tidak ingin membebankan pasangan kita dengan urusan rumah tangga atau anak karena merasa dia sudah cukup sibuk dengan pekerjaannya, hingga tanpa sadar mungkin kita lupa, kalau anak memerlukan peran ayah dan ibunya secara seimbang dalam kehidupannya, dan urusan rumah tangga juga merupakan tanggung jawab kedua belah pihak.

Jadi, jangan memberikan excuse untuk pasangan atau diri kita sendiri ya, sesibuk apapun , seorang suami dan istri memiliki tanggung jawab dalam urusan rumah tangga dan dalam proses tumbuh kembang serta pendidikan anak. Anak tetap memerlukan quality time dan komunikasi rutin dengan ayah dan ibunya, agar tumbuh baik dan optimal.

4. Cintai, Hargai  dan Bahagiakan Diri Sendiri Sebelum Mencintai dan Membahagiakan Orang Lain

Membahagiakan dan mencintai diri sendiri, menerima semua kekurangan dan kelebihan yang kita miliki itu sebuah keharusan sebelum kita mengikat diri dalam komitmen dan hubungan. Kenapa? Karena kita tidak akan bisa mencintai dan menghargai orang lain jika kita pun merasa unhappy dengan diri sendiri. Ibarat sebuah tong, kalau tongnya kosong, bagaimana mau kita bagikan dengan orang lain?

Jadi, jangan lupa mencintai, membahagiakan dan menghargai diri sendiri sebelum kita mencintai dan membahagiakan orang lain . Jika ada trauma masa lalu yang mengganggu, konsultasikan dengan psikolog atau ahlinya, agar kita lebih tenang dan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Jangan mencari pasangan sebagai pelampiasan ketidakbahagiaan kita atau menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain, karena hal itu tidak akan berlangsung lama. Termasuk jika pasangan berselingkuh dan kita merasa tidak dapat melanjutkan hubungan, jangan ragu mengambil sikap untuk berpisah jika merasa hal tersebut lebih baik untuk kebahagiaan dan ketenangan diri kita. Harus diingat Mommies, bahwa setiap diri itu berharga, termasuk diri kita sendiri tentunya.

5. Bijaklah Menilai Orang Lain, termasuk Pasangan

Walaupun kita mencintai pasangan kita, tapi tetap harus bisa menilai dengan objektif ya Mommies. Misalnya, bedakan kasih sayang dengan tindakan posesif, dan juga hati-hati dengan pasangan yang bersikap playing victim. Orang yang play victim biasanya bersikap manipulatif, denial, suka berbohong, berbalik “menyerang”, menyudutkan dan menyalahkan orang lain. Tanpa sadar, terkadang pasangannnya akan merasa dia-lah pihak yang salah, hingga membuat trauma, hilangnya rasa percaya diri karena merasa selalu salah.

Nah, Kalau menurut Mommies, ada lagi nggak pelajaran penting dari drama “Layangan Putus” ini?

Share Article

author

Rahmasari Muhammad

-


COMMENTS