Now Reading
Omong Kosong Co-Wives dan KDRT yang Saya Alami

Omong Kosong Co-Wives dan KDRT yang Saya Alami

Mommies Daily
Co-Wives - Mommies Daily

Untuk yang pernah menjadi korban dari laki-laki yang sama, saatnya menghentikan maniak ini. Semoga kesaksian saya bisa menyelamatkan banyak perempuan di luar sana :).

Menyaksikan sebuah video tentang seorang istri sedang mencari co-wives untuk suaminya (yang tak lain adalah mantan suami dan ayah dari almarhum anak saya), membuat saya merasa sudah waktunya untuk lebih berani bersuara. Karena menceritakan keterpurukan yang pernah saya lami adalah proses hidup, yang saya yakini bisa menyelamatkan perempuan-perempuan lain yang naif dan tidak tahu apa-apa.

Saya mengenal Henning Soren Hassan Pedersen secara online di salah satu dating site. Saat itu dia tinggal di NewYork bersama istrinya yang berkewarganegaraan Amerika Serikat. Dalam percakapan online kami melalui Yahoo Messenger, Henning mengatakan kalau dia sedang dalam proses cerai dengan istrinya, karena menurutnya dia dan istrinya tidak satu paham di dalam menjalankan rumah tangga yang Islami. Laki-laki ini sangat pintar meyakinkan saya dengan membiarkan saya berkomunikasi dengan istrinya (Sebut saja T) saat itu.

Singkat kata, setelah berkomunikasi berbulan-bulan dengan Henning maupun istrinya saat itu, dia dan anak pertama dari istri yang berkewarganegraan Amerika Serikat datang ke Indonesia. Lalu kami menikah siri, karena saya tidak ingin jika anak saya lahir anak saya memiliki kewarganegaraan Denmark. Kami tinggal bersama dengan anak pertama (sebut saja Z). Segalanya berjalan baik-baik saja saat itu.

Hingga suatu hari laki-laki ini mengatakan kalau istrinya akan datang ke Indonesia bersama anak kedua mereka (Sebut saja Y) dan dua anak bawaan istrinya dari suami sebelumnya. Di sini saya kaget. Bukannya sang istri sedang mengurus surat cerai?

Henning menjelaskan kalau T hanya akan bersama kami hingga usia Y sampai dua tahun. Alasannya, Henning merasa kasihan jika T mengurus empat anaknya sendirian di NewYork, Henning berhasil meyakinkan saya. Akhirnya T bersama dua anak kecil dan satu orang bayi hadir di dalam rumah tangga kami.

Kehidupan menyakitkan pun dimulai

Saya dan T akhirnya menjadi seperti saudara, yang saling menguatkan. Kami saling minta maaf ketika Henning memutuskan tidur dengan salah satu dari kami. Hingga Henning berhenti menyentuh T. Saya pun merasakan sakitnya hati T. Saya melihat T menangis diam-diam. Saya paham rasanya, karena ketika Henning memutuskan untuk tidur dengan T saya juga merasakan sakit.

Dengan kemampuan Henning mengendalikan kami, dengan kemarahannya yang menyeramkan, kami hanya bisa diam. Saya dan T pun diberi misi untuk mencari istri-istri baru. Di mana pun dan kapan pun Henning melihat perempuan yang dia suka, dia menyuruh kami mencari tahu detail tentang perempuan itu. Saya menolak. T selalu melakukannya.

Saat saya hamil almarhum Musa, T yang menjadi mentor saya, karena saya tidak tahu apa pun tentang kehamilan. Komunikasi dengan keluarga juga dibatasi, alat komunikasi pun hanya ada di ruang kerja Henning. Masa kehamilan saya jalani dengan penuh depresi. Apa pun yang dia mau harus terpenuhi.

Makanan dan camilan yang dia suka disimpan di dalam kamar, sehingga kami dan anak-anak harus mengiba untuk memintanya. Anak-anak pernah ketahuan mengambil camilan ayahnya  yaitu sekeping Oreo dan mereka dihajar dengan sabuk kulit.  T mengatakan “They deserve it and They need to learn,” padahal saat itu anak-anak masih usia 5 dan 7 tahun.

Saay sering berpikir, kenapa T selalu bersedia mencarikan istri baru, karena mungkin dia ingin berbagi beban, karena sejujurnya saya juga sempat merasakan hal yang sama. Namun untung akal sehat saya masih jalan. Pernah T mendekati seorang SPG dan mengatakan kalau Syeikh Hassan berkenan memperistrinya, dan SPG itu hanya tertawa tanpa menanggapi (Setelah dipikir-pikir, kok mbak itu lebih pintar dari saya, hahaha).

Kenapa akhirnya saya bersuara? Karena saya melihat pola yang selalu Henning lakukan tidak pernah berubah. Selalu mencari istri-istri baru. Pola ini seolah menjadi misi yang tidak akan pernah selesai.

Sebelum T bercerai dengan Henning, sempat ada satu Co-Wive baru yang masuk ke dalam hidup kami namun tidak bertahan lama. Karena apa? Karena Co-Wive ini sering mengingatkan Henning jika lupa salat. Henning murka kemudian mengusir dan menceraikan perempuan itu. Beruntungnya perempuan ini.

Ada lagi satu perempuan dari Jombang yang dia temui secara online, dia minta bantuan saya untuk berkomunikasi karena perempuan ini tidak bisa berbahasa Inggris. Batal menikah karena perempuan ini memiliki kaki kecil sebelah akibat polio. Henning mengatakan “I don’t think I could arroused when I see her legs during our first night. Let alone years.” Saya akhirnya hanya tinggal dengan Henning, Z, Y serta almarhum Musa. Dan tugas mencari istri-istri baru berpindah ke saya, dan saya masih konsisten menolaknya.

Pernah sekali saya diminta memasang iklan di Jawa Post untuk mencari asisten. Kata-kata di awal semua normal kecuali di kalimat terakhir: Bersedia menjadi isteri kedua bila cocok. Saya yang bertugas menjawab SMS yang masuk merasa malu sendiri.

Jika ada yang bertanya, kok bersedia menjalani hidup seperti itu walau hanya nyaris selama dua tahun?

Henning selalu memberi jawaban yang kita mau dengar sehingga kita tertarik dan dia SELALU melibatkan istrinya untuk membuat kita percaya. Tapi ketika sudah terjerat, dia akan berubah 100%. Dia sangat paham memanipulasi agama serta budaya untuk menjerat para korban.

Saya pernah terjebak dalam hubungan yang sangat tidak sehat ini. Tak hanya saya menjadi korban namun anak saya yang akhirnya mengalami meningitis dan cacat seumur hidup. Dan penyesalannya pada almarhum anak saya hingga detik ini tidak juga hilang.

Semoga kisah saya bisa membuka mata istrinya saat ini dan juga perempuan-perempuan di luar sana. Supaya mau mengedukasi diri tentang agama dan budaya. Bahwa kalian harus mampu memproteksi diri sendiri, karena agama, negara, budaya, keluarga tidak akan mampu membantu kalian. Hanya ilmu, kekuatan karakter dan self love yang mampu put senses in our tiny brain. Saya sangat beruntung bisa menguatkan diri untuk keluar mesti terlambat, masih banyak perempuan di luar sana yang terjebak dalam sistem pernikahan yang saya alami dulu.

Untuk semua perempuan di luar sana yang juga pernah menjadi korban, saatnya bersuara agar tidak ada lagi yang menjadi korban. Selalu ingat, bahwa kalian layak untuk dicintai dengan cara yang tepat.

Self love is very important

Never rely on anyone but yourself. You are better served by yourself.

Seperti diceritakan oleh ibu Dwi Pertiwi.

Baca juga: Bertahan dalam Rumah Tangga KDRT

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top