Now Reading
Ini Alasan Kenapa Kita Melihat Generasi Baru Selalu Lebih Lemah

Ini Alasan Kenapa Kita Melihat Generasi Baru Selalu Lebih Lemah

Generasi sekarang, tak pernah lebih lemah dari generasi yang dulu.

Di usia remaja, anak saya laki-laki, payah dalam urusan rumah. Tidak bisa seterika baju sendiri. Kalau disuruh cuci sepatu, nggak pernah bisa bersih. Lemari bajunya acak adul, untel-untelan. Diminta lipat baju sendiri yang habis dijemur, paling mentok cuma bisa membalik. Bisa, sih, tapi karena lipatannya tidak pernah bisa rapi, seringnya saya ambil alih.

Dalam soal kemampuan pekerjaan domestik ini, suami jadi sering ngomel-ngomel dan membandingkan dengan zaman ia saat seumuran anak kami. “Dulu, seumur kamu, ayah udah cuci baju dan sepatu sendiri. Semua apa-apa sendiri. Lemari baju juga beresin sendiri,” gerutu suami ke anak.

Soal membanding-bandingkan ini, suami sering terheran-heran, dalam hal inisiatif, perasaan dulu dia nggak perlu disuruh-suruh untuk melakukan pekerjaan domestik rumah. Dia juga sudah punya inisiatif sendiri untuk olahraga. Lari, sepeda, sendirian saja, tanpa harus disuruh-suruh, apalagi ditemani orangtua. “Kenapa sih, anak sekarang nggak punya inisiatif! Nggak bisa apa-apa!” omelnya.

Baca juga: Pahami 12 Karakteristik Anak Generasi Alpha dan Cara Mengasuhnya

Dari sisi anak, ia juga kesal dibanding-bandingkan. Menurut anak, untuk bisa melakukan pekerjaan rumah, ia sudah berusaha mati-matian, tapi hasilnya nggak pernah dihargai, malah menuai omelan. Dulu, ayah saya pun melakukan hal yang sama ke saya, mengeluh, anaknya nggak bisa apa-apa. “Zaman ayah dulu, ayah SMP sudah harus cari uang sendiri kerja di pabrik,” kata ayah saya.

Saya jadi teringat cerita almarhum nenek saya dulu. Nenek juga sering membandingkan, anak zaman sekarang (maksudnya, ke ayah saya waktu masih seumur bocah) enak banget hidupnya. Eranya udah merdeka, tapi kebanyakan ngeluh kalau disuruh-suruh. “Dulu, nenek mengalami kekejaman Jepang. Hidup sangat keras. Di sekolah, siswa dididik latihan ala militer. Nakal sedikit, bisa dihajar tentara Jepang.” Jiaah, sama aja.

‘Perseteruan’ angkatan ini juga sering kita dengar di lingkup kantor. ‘Gesekan’ yang timbul antargenerasi. Katakanlah, antara gen X dalam menghadapi para milenial. Anak baru sekarang kok nggak bisa apa-apa ya. Nggak ngerti sopan santun, nggak suka baca buku, maunya serba instan, gampang bosenan, dan sebagainya, gerutu gen X. Dan, kalau lihat polanya, sebentar lagi, milenial juga bakalan mengeluhkan hal yang sama ke para gen Z.

Anak Zaman Now

Nemu thread tentang ‘Kids These Days’ ini dari sebuah thread yang viral di Twitter dari psikiater @jiemiardian. Ia mengutip dari sebuah penelitian yang dirilis oleh John Protzko, psikolog Santa Barbara University of California. Penelitian Protzko ini sungguh menarik. Ia menyoroti perseteruan antargenerasi, kecenderungan orang yang lebih tua untuk mengatakan bahwa generasi muda di bawahnya lebih lemah, lebih tidak kompeten, lebih buruk daripada masa lalu.

Rupanya, cara pandang ini sudah ada jauh sebelum Masehi, dalam setiap era, dalam setiap kebudayaan, fenomena ini merupakan siklus yang berulang. Jadi, bukan cuma keluhan orang per orang, atau ‘perang’ antara Boomer, gen X, dan milenial.

Protzko tergelitik mencari tahu, mengapa ada bias “Kids These Days” atau bisa kita bahasakan “Anak Zaman Now”. Protzko mengamati data dari skor penelitian tes Marshmallow yang mengukur tingkat kesabaran dan penundaan kepuasan pada anak-anak. Sebelum mengolah data, dia meminta 260 psikolog perkembangan untuk membuat prediksi. Apakah para ahli ini berpikir bahwa anak-anak, dari waktu ke waktu, menjadi lebih baik, lebih buruk, atau sama, dalam hal menghadapi godaan?

Sebagian besar -sebanyak 84 persen- memperkirakan anak-anak menjadi semakin buruk dari waktu ke waktu, atau tetap sama. Hanya 16 persen yang membuat prediksi tepat: Dari tes marshmallow tersebut, ternyata anak dari generasi yang lebih muda, lebih baik dalam hal menunda kepuasan dibanding anak-anak dari dekade sebelumnya. Sebagai catatan, anak-anak yang punya kemampuan menunda kepuasan ini di masa dewasanya menunjukkan skor nilai akademik lebih tinggi.

“Wow,” pikir Protzko, ia sendiri tak menyangka. Bahkan para ahli yang mempelajari perkembangan kognitif masih beranggapan, ah, nggak mungkin anak sekarang lebih baik.

Masalah Ingatan

Menurut Protzko, penyebabnya, tak lain adalah masalah ingatan. Mengapa, orang dewasa cenderung menganggap ‘anak zaman now’ lebih buruk? “Sumbernya adalah prasangka dan bias.” Bias ini terkait dengan ilmu ingatan. Ingatan kita tentang masa lalu sangat diwarnai oleh masa kini.

Memori manusia, menurut Protzko, seperti rekaman video, yang sudah diedit. Saat kita mengingat sesuatu, lalu kita seperti sedang memutar ulang suatu peristiwa persis seperti yang terjadi. Bukan seperti itu. Sebaliknya, memori itu dibangun. Ketika kita memanggil sebuah ingatan, kita harus menyatukan kembali kepingan-kepingan kembali dari potongan informasi yang berbeda dalam pikiran kita. Sebagian yang tersimpan dalam ingatan kita adalah kebenaran. Tapi, sebetulnya, otak kita seringkali hanya mengambil sedikit informasi yang paling mudah untuk diingat, lalu -seperti kerja editor video- potongan itu disambung, ditambah, lalu ‘dijahit’ sedemikian rupa sehingga kita memiliki ilusi bahwa kita mengingat semua hal-hal dalam memori kita dengan detail.

Dengan kata lain, memori itu bias. Ingatan dipengaruhi oleh masa sekarang. Dalam mencoba mengingat sesuatu, kita mengambil potongan-potongan masa kini dan memasukkannya ke dalam ingatan kita di masa lalu.

Misalnya, seperti yang dicontohkan Protzko, saat kita mengenang mantan. Jika hubungan dengan mantan buruk, kemungkinan besar Anda tidak akan mengingat peristiwa yang buruk, terlepas apa yang Anda rasakan saat itu. Begitu pula, saat kita membandingkan ‘anak zaman now’ dengan zaman kita dulu.

Dalam riset Protzko, yang mewawancarai lebih dari 3000 responden, terungkap, orang dewasa yang lebih otoriter cenderung mengatakan bahwa anak zaman now jauh lebih tidak sopan. Orang dewasa yang banyak membaca, mengatakan bahwa anak zaman now sangat tidak suka buku. Dan orang dewasa yang pintar, lebih cenderung mengatakan bahwa anak-anak kurang pintar daripada sebelumnya.

Berbeda halnya jika dalam membandingkan itu kita tidak menggunakan ingatan personal kita, melainkan menggunakan data, misalnya, riset tentang milenial dan gen Z. Itu akan lebih obyektif. Tapi, dibandingkan untuk sekadar diceritakan ke anak, bolehlah, biar dia punya gambaran dunia masa kecil orangtuanya.

Jadi, masihkah kita akan membandingkan dan meremehkan generasi yang lebih muda? :)

Baca juga:
5 Cara Ajarkan Anak Paham Antara Kebutuhan dan Keinginan
Akibat Social Media Anak Konsumtif dan Suka Pamer, Benarkah?

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top