Belajar dari Greta Thunberg, Begini Cara Ajari Anak Tentang Perubahan Iklim

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Greta Thunberg gadis berusia 16 tahun asal Swedia, pertama kali mendengar tentang perubahan iklim pada usia delapan tahun dari guru sekolahnya. Ia begitu sedih, dan khawatir tentang nasib bumi ke depannya.

Pada usia 11, dia menjadi depresi. Dia kemudian didiagnosis dengan sindrom Asperger, gangguan obsesif-kompulsif, dan mutisme selektif, hanya berbicara ketika diperlukan.

Ia kemudian bertekad untuk tidak berdiam diri dan berusaha melakukan sesuatu. Di antaranya, dengan menjadi vegetarian dan tidak menggunakan pesawat terbang. Tahun lalu, Greta yang duduk di kelas 9, memutuskan untuk berdemonstrasi di depan Gedung Riksdag atau parlemen Swedia, setiap hari, selama tiga minggu berturut-turut. Ia menuntut pemerintah Swedia membuat kebijakan untuk mengurangi emisi karbon sesuai dengan Perjanjian Paris.

Greta Thunberg - Mommies Daily

Aksinya tersebut menyita perhatian dan mendapat dukungan banyak pihak. Anak-anak sekolah, guru, dan juga para orang tua, berduyun-duyun ikut turun berdemonstrasi bersama Greta. Aksi tersebut berlanjut pada setiap Jumat. Kali ini tidak hanya terjadi di Stockholm, tetapi juga makin menyebar hingga ke kota-kota lain di penjuru Swedia, bahkan hingga ke negara-negara Eropa lain, seperti Jerman, Belgia, Inggris, dan Prancis.

Aksi yang sama juga terjadi di beberapa kota di Amerika Serikat hingga Australia. Puluhan ribu anak sekolah tumpah ke jalan dan berdemonstrasi menyuarakan keprihatinan atas perubahan iklim. Anak-anak muda ini menggugat pemerintahnya di Eropa dan Amerika Serikat, yang dianggapnya telah gagal mengadopsi kebijakan yang melindungi warga negara dari datangnya bencana alam badai, gelombang panas, dan banjir, yang telah jauh-jauh hari diprediksi oleh para ilmuwan. Aksi tersebut disebut-sebut sebagai Efek Greta Thunberg. Bulan Mei lalu, Greta bahkan diajukan untuk masuk daftar nominasi penerima hadiah nobel perdamaian.

Apa yang dilakukan Greta dan anak-anak sekolah yang berdemonstrasi tersebut seyogyanya menampar kita para orang dewasa untuk lebih menaruh perhatian serius pada perubahan iklim. Apa yang bisa dilakukan? Sebagai orang tua, bisa dimulai dengan mengenalkan pada anak-anak kita, sebab masa depan bumi adalah milik mereka.

Menurut Mumu Muhajir, aktivis lingkungan dari Lembaga Auriga Indonesia, mengenalkan perubahan iklim bisa dimulai dengan mendekatkan anak pada alam. Anak harus sering diajak dan terpapar dengan alam. Mengajak mereka ke pantai, hutan, gunung, sawah, sungai, atau kebun. Hal yang sudah jarang didapatkan di kota besar.

Pengalaman berada di alam membuat mereka memahami pentingnya merawat alam dan seisinya. “Menjelaskan perubahan iklim tidak harus dengan menceritakan pada mereka tentang ‘kiamat’, seolah-olah bumi sudah tidak bisa diselamatkan lagi,” jelas Mumu.

(Baca: Let’s Zero Waste, 5 Cara Kurangi Sampah Rumah Tangga)

Terpapar dengan alam juga bisa menjadi sarana untuk membangun minat anak pada alam. Mengamati tumbuh-tumbuhan, serangga dan binatang lainnya, maupun fenomena alam di sekitar anak. Anak perlu dibangun kepekaannya pada alam dan lingkungan sekitar. Anak juga perlu didekatkan pada sains lewat berbagai medium, seperti menonton film dokumenter, mengajak ke museum, kebun binatang, pusat konservasi, membaca buku tentang alam, dan sebagainya.

Menjelaskan perubahan iklim pada anak tidak perlu dengan menakut-nakuti anak dengan efek buruk yang terjadi akibat perubahan iklim, seperti bencana alam, kekeringan, krisis air, krisis pangan, dan sebagainya.

“Lakukan apa yang bisa diperbuat, dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga, Mengurangi plastik, memilah sampah, hemat listrik, menggunakan transportasi publik, dan sebagainya, adalah beberapa solusi yang bisa dilakukan dalam skala keluarga. Anak diajak terlibat untuk ikut menjaga lingkungan, dengan tetap membangun optimisme mereka pada masa depan bumi,” ungkap Mumu.


Post Comment