7 Pelajaran yang Harus Ada di Sekolah Anak, Menurut Ibu Millenial

Pernah kepikiran nggak, ada pelajaran kesehatan mental dan pendidikan finansial pribadi di kurikulum anak-anak kita di sekolah? Ini dia tujuh daftar pelajaran yang diinginkan orangtua millennial, dihadirkan di sekolah.

7 Pelajaran yang Harus Ada di Sekolah Anak, Menurut Ibu Millenial - Mommies Daily

Pelajaran yang saya sebutkan di bawah ini, nggak perlu diberikan setiap hari di sekolah. Setidaknya seminggu sekali, dan paling lama sebulan sekali. Tujuan mereka terpapar dulu, dengan sesuatu yang kelak akan sangat berguna untuk menjadi manusia dewasa yang bisa berkompetisi dengan sehat, kenal dengan baik siapa diri mereka, bahagia dan punya kualitas hidup yang mumpuni.

Kami sempat bertanya para mommies di akun Instagram @mommiesdailydotcom, sebagian dari mereka menyebut tujuh pelajaran di bawah ini, berharap diakomodir pemerintah dihadirkan ke ruang-ruang kelas sekolah di Indonesia.

1. Kesehatan mental

Di Indonesia (IMHO) kita masih tabu membahas tentang kesehatan diri secara mental. Padahal, ya, kesehatan mental sama pentingnya seperti sekolah memberikan pelajaran olahraga untuk menjaga kesehatan fisik anak-anak muridnya. Mungkin konsepnya bisa menghadirkan psikolog anak ke sekolah, memberikan pengetahuan lewat cerita-cerita atau permainan yang sesuai dengan tahap pemahaman anak-anak, seputar kesehatan mental.

2. Pendidikan seks

Saya pernah mendengar, pedidikan seks sudah diberlakukan di beberapa sekolah. Pendidikan seks penting dilakukan sedari dini, agar nantinya anak-anak mengerti, faktor-faktor risiko apa saja yang bisa timbul seputar seksualitas. Saya pernah membahas tentang hal ini, dengan Mbak Vera Itabiliana, Psikolog Anak, ngobrol pendidikan seks sesuai usia (https://mommiesdaily.com/2018/03/19/ngobrol-tentang-pendidikan-seksual-sesuai-usia-si-kecil-yuk-mommies/).

Bicara soal pendidikan seks, sudah bisa dilakukann ketika  anak usia prasekolah (3,4 & 5), tentu disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka. “Misalnya kita mengajarkan, nama-nama bagian anggota tubuh (kuping, vagina dan penis). Itu sudah termasuk pendidikan seksual. Dan itu kita lakukan sejak bayi bisa, misalnya bilang “Iih matanya bagus,” atau “Giginya mana?”. Di usia pra sekolah, mengajarkan anak pipis sesuai dengan jenis kelaminnya juga bagian dari pendidikan seksual,” jelas Mbak Vera.

3. Pendidikan finansial pribadi

Ini yang baru saya sadari sebagai kekurangan kurikulum pendidikan di Indonesia. Saya baru intens mengelola keuangan pribadi, saat pertama kali bekerja, dan digaji. Itupun karena pengaruh baik kakak saya. “Memaksa” saya menyimpan sebagian gaji dalam bentuk logam mulia. Di situ sama mulai berpikir, “kemana aja gue selama ini?” Padahal ya, kalau saya sudah kenal dengan mengelola finansial pribadi dari sekolah, bisa dipastikan uang jajan sama selama sekolah dan kuliah, terkumpul dengan nilai nominal yang fantastis. Karena kemampuan melek literasi keuangan, bisa sampai berdampak pada tingkat kemapanan anak kita kelak mereka sudah bekerja, dan berkeluarga.

4. Personal Hygine

Intinya semua aktivitas yang dibutuhkan untuk menjaga kebersihan diri sehari-hari. Seperti cuci kaki, tangan dan muka setelah berkegiatan dari luar rumah, apalagi kalau mau makan dan minum. Ganti baju setelah main, membersihkan tubuh setelah buang air kecil dan buang air besar. Sepele, ya kelihatannya, tapi coba perhatikan, berapa banyak penyakit yang timbul karena lalai memerhatikan kebersihan tubuh sendiri?

5. Toleransi

Bicara soal keberagaman di Indonesia kepada anak bukan hal yang mudah. Saya pribadi setuju banget, soal toleransi ini dimasukkan sebagai pelajaran. Formatnya tidak hanya teori, diimbangi dengan praktik yang berhubungan dengan nilai-nilai toleransi. Contohnya: seperti Wisata Rumah Ibadah yang pernah saya ikuti, dua tahun lalu. http://mommiesdaily.com/2017/06/20/wisata-rumah-ibadah-cara-asik-menanamkan-nilai-nilai-toleransi-beragama-kepada-anak/

6. Pendidikan lingkungan hidup

Misalnya pelajaran memilah sampah, konsep tentang zero waste yang bisa dengan mudah diterapkan di rumah, dan kehidupan sehari-hari. Mengenalkan hukum aksi reaksi manusia terhadap lingkungan hidup. Jika kita menjaga kelestarian alam sekitar, mereka akan berbuat hal yang sama. Menyediakan sumber daya alam yang manusia butuhkan.

7. Pendidikan karakter dan attitude

Suka gemas nggak melihat (sebagian) anak-anak muda kekinian kirim email tanpa didahului sama menyebut nama seseorang yang dituju? Saat berinteraksi malah sibuk sama telepon genggamnya? Mengundurkan diri dari kantor, tidak dengan cara profesional. Menghilang begitu saja, menganggap enteng tata karma. Hmmm, sounds familiar?

Hal ini bisa diminimalkan, ketika anak punya karakter yang kuat, tahu bahwa kemampuannya membawa diri dimanapun dia berada, punya dampak kuat membentuk citra baik atau sebaliknya.

-

Mungkin ada pelajaran lain yang mommies inginkan diajarkan di sekolah?

 


Post Comment