Wisata Rumah Ibadah, Cara Asik Menanamkan Nilai-nilai Toleransi Beragama Kepada Anak

Referensi untuk para orangtua, bergabung di Wisata Rumah Ibadah, media asik untuk mengenalkan nilai keberagaman dalam kehidupan agama di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tugas liputan keliling Jakarta. Bukan cuma jalan-jalan nggak puguh, tapi ada tema khusus – Wisata Rumah Ibadah! Dari namanya aja sudah menarik, ya, nggak, mommies?

Wisata Rumah Ibadah - Mommies Daily

Kegiatan semacam ini, menurut saya semacam angin segar di tengah banyaknya isu seputar kehidupan toleransi beragama yang sempat ternodai dari beberapa oknum yang tidak betanggung jawab. Di beberapa kejadian, sangat disayangkan, sempat menyeret anak-anak yang sebetulnya belum waktunya dijejali berita dan pemandangan yang berbau isu SARA.

Ya namanya, anak-anak dunia mereka bermain, dan belajar, itupun harus dengan cara menyenangkan dan ramah anak, kan? Saat melihat bagaimana kegiatan Wisata Rumah Ibadah ini, saya pikir cocok banget sebagai media pemberi informasi yang kekiniaan. Kenapa saya bilang kekiniaan? Peserta kegiatan acara yang didukung oleh beberapa organisasi masyarakat ini, menyasar pada mereka yang berusia 15-18 tahun.

Awal mula “hadir” acara Wisata Rumah Ibadah

Menurut salah satu penggagas  Wisata Rumah Ibadah, Ibu Endah, hadirnya acaranya ini berawal di Bandung. Saat itu, peserta anak-anak usia SD. Di latar belakangi, situasi toleransi antar umat beragama,  beberapa waktu belakang yang dinilai kurang kondusif. Dan semangat kebangsaan beberapa pihak yang ikut terlibat. Di antaranya ada Sekar Nusa Penjaga Budaya, Pemprov DKI Jakarta, Komunitas Bhineka, Komunitas Perempuan Bersuara, PALYJA, Dinas Perhubungan Jakarta Sister  Hood Gigs Movement dan The Asia Foundation.

Nah, kenapa kali ini dipilih mereka yang duduk di bangku SMA. Setidaknya ada 3 alasan yang dikemukakan oleh Ibu Endah.

  1. Asumsinya SMA ini usia yang paling rentan untuk mudah dimasuki paham-paham yang berbahaya. Banyak penelitian juga mengatakan, paham-paham radikal itu masuknya saat anak diusia SMA. Dan yang lebih bahaya lagi, mereka yang sekolah di sekolah unggulan. Dan akses anak-anak SMA ini akan informasi lebih tinggi dibanding anak-anak yang di daerah.
  2. Mengingat bulan puasa, rata-rata mereka yang muslim sudah puasa. Dan dari segi usai juga sudah dewasa, untuk menghadapi situasi yang agak berat saat menjalankan puasa.
  3. Dipilih usia 15-18 tahun, karena mendekati usia pemilih. Tahun depan, sebagian dari mereka juga menjadi pemilih. Kesadaran atas keseimbangan, memilih dengan rasional itu menjadi penting. Memang benar-benar dipilih anak-anak dengan usia, yang nantinya akan terjun langsung di masyarakat. Kedewasaan itu yang dibutuhkan. Paling tidak mereka tahu, yang beribadah di Hindu itu Pura, Budha itu di Kuil. Tapi lewat kegiatan ini, mereka melihat sendiri, mengalami sendiri, berinteraksi sendiri. Dan hal ini termasuk jarang mereka lakukan.

Ngapain saja, ya, kegiatan Wisata Rumah Ibadah ini?

Wisata Rumah Ibadah - Mommies Daily

Tepatnya Kamis, 15 Juni lalu, meeting point rombongan acara berkumpul di Gereja Imanuel, Jakarta. Di Gereja ini, awal dari Wisata Rumah Ibadah. Kami mendapatkan sambutan dari Pdt Michiko Pinaria Saren. Lalu dilanjutkan ke beberapa rumah ibadah, seperti:

2. Gereja Katedral

Wisata Rumah Ibadah - Mommies Daily

3. Masjid Istiqlal

Wisata Rumah Ibadah - Mommies Daily

4. Vihara/Kuil Hesoiji

Wisata Rumah Ibadah - Mommies Daily

5. Pura Aditya Jaya

Wisata Rumah Ibadah - Mommies Daily

Oh iya, mommies, di Pura Aditya Jaya, juga hadir perwakilan dari Umat Khonghucu, atau Majelis Tinggi Agam Khonghucu Indonesia (Matakin).

Di masing-masing rumah ibadah tadi, peserta mendapatkan gambaran tentang sejarah rumah ibadah yang dikunjungi. Mulai dari tahun berapa dibangun, melibatkan tokoh masyarakat siapa saja, dan kegiatan apa saja yang biasanya ada di sana. Fenomena menarik yang sempat saya catat adalah, saat berkunjung ke Gereja Imanuel. Perwakilan dari Gereja Imanuel, mengatakan. Lokasi gereja yang berseberangan dengan Masjib Istiqlal, sesungguhnya menjadi gambaran harmonisasi kerukunan kehidupan umat beragama.

Hal tersebut tergambar, jika Hari Natal, maka otomatis umat yang ingin beribadah akan membludak. Maka umat Kristen yang hendak misa, dipersilakan parkir di area Masjid Istiqlal, jika parkiran gereja sudah tak sanggup lagi menampung. Dan sebaliknya, jika Hari Raya Idul Fitri tiba, area parkir Gereja Imanuel, terbuka bagi kamu Muslim yang hendak sholat Ied di Masjid Istiqlal.

Tak hanya itu, Masjid Istiqlal yang berseberangan dengan Gereja Imanuel, ternyata dibangun oleh tokoh-tokoh lintas agama, lho mommies. Arsitek Masjid Istiqlal, bernama Frederich Silaban, yang beragama Kristen Protestan. Lalu bendahara pada pembangunannya berasal dari etnis China.

Di masing-masing rumah ibadah tadi, saya mendapatkan pelajaran berharga seputar kerukunan umat bergama. Semua pesan pemuka agama, sama. Yaitu, saling menjaga perdamaian, berbuat baik hendaknya kepada siapa saja, tidak peduli dia dari suku dan agama apa. Sementara pesan dari dari Bapak Udayana Sangging, pemuka agama Hindu, di Pura Aditya Jaya, tujuan terakhir Wisata Rumah Ibadah. “Hendaknya saling asah, asih sauh sesama umat beragama. Niscaya jika ini dilakukan, kejayaan pasti tercapai. Dan jangan melawan dengan kekerasan.”

Ada yang berniat mengikutsertakan buah hatinya mengikuti Wisata Rumah Ibadah? Tunggu informasinya, ya, mommies. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, kegiatan ini mampir di kota anda :)


Post Comment