Ketika Orangtua Sendiri Terlalu Toxic untuk Dihadapi

Saat isu soal kesehatan mental dibicarakan di mana-mana, selalu tersisa satu pertanyaan yang sulit dijawab. Bagaimana jika yang toxic adalah orangtua kita sendiri?

Tinggal di negara dengan budaya yang melekat bertahun-tahun bahwa “orangtua selalu benar” ditambah ketaatan pada agama, banyak sekali orang yang memendam perasaan tertekan bertahun-tahun lamanya karena merasa tidak mungkin meninggalkan orangtua. Setoxic apapun mereka.

peWaspada Tanda-tanda Kekerasan Emosional dalam Pernikahan - Mommies Daily
Dari kasus “ringan” seperti cekcok masalah uang atau pengasuhan anak, sampai yang berat seperti kekerasan seksual oleh ayah kandung sendiri. Harus bagaimana? Apa harus kabur dari rumah? Apa kata orang? Bagaimana jika nanti menikah dan butuh wali?

Idealnya memang keluar dari rumah. Seperti menghadapi lingkungan kerja atau teman yang toxic, idealnya memang kita sendiri yang menghindar dari situasi tidak menyenangkan itu. Tapi kenyataan kan tidak semudah itu.

Saya pernah membaca satu pengalaman orang Amerika yang memutus kontak keluarga karena sejak kecil ia disiksa secara fisik dan seksual. Ia merasa lebih aman kabur dan tidak punya ayah ibu serta kakak adik daripada harus terus berhubungan dengan mereka.

Tapi tetap saja, ada rasa kosong yang ia hadapi, apalagi ketika anak-anak bertanya di mana nenek mereka. Berbohong sudah meninggal pun tak mungkin karena kenyataannya masih hidup kan.

Meski demikian, keluar dari rumah, apalagi setelah menikah bukan tidak mungkin dilakukan lho. Satu teman saya, anak bungsu, nekat keluar dari rumah karena pola pengasuhan yang terus menerus bentrok dengan orangtuanya sendiri.

Daripada mengorbankan masa depan anak, ia memilih kabur dari rumah orangtua dan mengontrak rumah sendiri. Terancam dimusuhi orangtua tapi batin lebih tenang.

Menurut terapis sekaligus YouTuber Kati Morton, ini yang sebaiknya dilakukan ketika kita menghadapi orangtua yang toxic.

1. Terapi. Jika merasa dibutuhkan dan membuat stres, terapi bisa jadi jalan keluar untuk membuat perasaan lebih tenang karena mungkin mendapat perspektif lain dari terapis.

2. Buat batasan privasi sendiri. Bisa dengan menghindari rumah selama butuh konsentrasi atau selalu mengunci kamar.

3. Punya tabungan dana darurat agar siap keluar rumah kapan saja. Ini yang dilakukan teman saya saat ia kabur, ia mengaku percaya diri karena punya tabungan yang cukup untuk mengontrak rumah dan memasukkan anaknya ke daycare.

4. Coba sampaikan pada orangtua apa yang diharapkan dari mereka. Tidak perlu langsung, bisa lewat surat atau chat. Pasti sulit, tapi tidak ada salahnya dicoba.

5. Temukan support system lain. Bisa teman, sahabat, atau support group yang bisa diandalkan.

Peluk semuanya!


Post Comment