8 Hal yang Saya Sukai Setelah Menjadi Single Mom

After all, menjadi single mom ternyata nggak seburuk yang pernah saya bayangkan kok. Nggak percaya? Ini buktinya.

Please, jangan menganggap kalau tulisan saya ini adalah bentuk dukungan atau hasutan untuk mengajak orang-orang bercerai (soalnya sempat ada yang nyinyirin saya mengenai hal ini *__*). Swear deh, setiap kali saya mendengar atau mengetahui ada teman atau kenalan yang ingin bercerai, saya selalu meminta mereka untuk berpikir ulang, lagi, lagi dan lagi. Tapi saya juga bukan golongan yang ‘mengharamkan’ perceraian. Karena nggak jarang, perceraian memang bisa jadi adalah jalan keluar terbaik. No nyinyir dan no menghakimi, please (lagi).

Baca juga:

Stop Nyinyir di Tahun 2018

Anggaplah tulisan ini adalah penyemangat untuk para single mom (dan single dad) di luar sana. Bahwa ternyata ada hal-hal menyenangkan yang layak kita nikmati dengan status kita sebagai single parent :).

Baca juga:
Parenting Tips Untuk Para Single Dad 

8 Hal yang Saya Sukai Setelah Menjadi Single Mom - Mommies Daily

1. Me Time yang lebiiiiiiiih banyak
Pembagian waktu antara saya dengan ayahnya anak-anak adalah: 4 hari di saya dan 3 hari di ayahnya. Jadi, ketika anak-anak bersama ayahnya, itulah waktu saya untuk melakukan apa pun yang saya inginkan. Kumpul cantik bersama teman-teman, nonton DVD sampai enek di rumah, masak dan makan mi instan, tidur semalam mungkin atau bangun tidur sesiang mungkin, jalan-jalan keluar kota atau keluar negeri. Bebas.

2. I have an amazing bond
Saat saya bersama anak-anak, otomatis perhatian mereka hanya ke saya saja, nggak terbagi kepada ayahnya, ahahahaha. Bukan bermaksud egois, tapi saya anggap ini adalah privilege seorang single parent.

3. Kamar mandi menjadi milik saya pribadi :D
Anak-anak memiliki kamar mandi sendiri yang berbeda dengan kamar mandi orangtuanya dulu. Maka setelah berpisah, kamar mandi menjadi ‘kuil’ suci saya untuk leyeh-leyeh. Mandi lama-lama, BAB lama-lama, pokoknya bebas dari seseorang yang gedor-gedor pintu dan menyuruh saya buruan menyelesaikan apa yang saya lakukan di kamar mandi.

4. Saya menjadi pribadi yang lebih fokus pada masa depan
Saya mengatur ulang harapan-harapan dan mimpi-mimpi saya ke depannya. Dan kali ini hanya melibatkan diri saya dan anak-anak. Semakin sedikit pihak yang saya pikirkan, ini membuat saya lebih fokus.

5. Lebih bertanggung jawab urusan finansial
Karena sekarang sudah nggak ada lagi pak suami yang bisa saya todong untuk memberikan tambahan uang jajan, saya jadi lebih hati-hati dan bertanggung jawab untuk urusan finansial. Dan bagi saya ini adalah hal positif dan saya sukai.

6. Sudah pasti menjadi lebih mandiri
Contoh yang paling mudah adalah urusan mobil. Dulu, waktunya mobil diservis, biasanya ayahnya anak-anak yang membuat janji dengan orang bengkel dan membawanya ke sana. Saya tinggal terima beres. Sekarang? Semua saya urus sendiri bahkan hingga mengisi air karburator. Begitu pun dengan printilan lainnya. Susah? Lumayan. Menyenangkan? Iya. Karena ini membuat saya jadi punya nilai tambah di mata anak-anak :p.

7. Bebas berpakaian asal sopan
Prinsip saya, selama pakaian yang saya kenakan nggak membuat malu anak-anak dan sesuai dengan situasi serta kondisi (alias lihat-lihat tempat), maka saya bisa mengenakan apapun yang saya mau. Kalau dulu pakai baju tanpa lengan langsung dapat pelototan dari mantan suami, atau rok sedikiiiit di atas lutut langsung diminta ganti baju, sekarang, saya memiliki kebebasan penuh terhadap hak saya berpenampilan (ciyeeeeeh).

8. Nggak perlu lagi sering-sering berdebat tentang gaya pengasuhan
Hanya ada cara saya, hehehehe. Well, pasti adalah satu dua perbedaan parenting style antara saya dengan ayahnya anak-anak, but at least saat ini perdebatan nggak terlalu sering kami lakukan. Somehow saya merasa setelah bercerai, hubungan saya dengan mantan suami semakin baik, karena kami lebih bisa menahan diri dan fokus kepada kepentingan sekaligus kebahagiaan anak-anak.

Baca juga:

Menjadi Orangtua yang Seru di Tengah Proses Perceraian


Post Comment