Single Mom Survival Guide: Affi Assegaf, “Harus punya keyakinan, semua akan baik-baik saja”

Tidak ada perempuan yang menghendaki dirinya menjadi single mom, termasuk Affi Assegaf. Namun, saat ini terjadi dalam hidupnya, Affi membuktikan, semua bisa diatasi, dan berjalan baik-baik saja, kok. Apa rahasianya, ya?

“I didn’t plan on being a single mom, but you have to deal with the cards you are dealt the best way you can.” –Tichina Arnorld

Quote di atas saya pikir sangat mewakili pola pikir dan tindakan Affi Assegaf (40), menjalani perannya sebagai single mom. Ada masa-masa ketika Mbak Affi, ibu dari Aluf (10) harus berhadapan dengan situasi sulit. Nggak mau lama-lama punya perasaan bersalah akan kandasnya pernikahan yang ia lakoni selama enam tahun, Mbak Affi bisa melanjutkan hidupnya dengan cara dan jalan yang ia rancang sendiri.

Single Mom Survival Guide: Affi Assegaf, “Harus punya keyakinan, semua akan baik-baik saja” - Mommies Daily

Sebagai ibu bekerja dengan status single mom, memang nggak bisa dibilang mudah untuk Mbak Affi menjalaninya. Apalagi dengan tanggung jawabnya sebagai Editorial & Community Director Female Daily Network, punya tim yang juga mesti dapat perhatian, memastikan job description  pribadi dan timnya berjalan dengan baik. Ternyata Mbak Affi membuktikan bisa menjalani semua perannya, kok. Meski diakui Mbak Affi, pernah datang masa-masa galau. Tapi nggak boleh terlalu larut katanya, cepat bangkit! “Harus segera mengganti rasa takut tadi jadi semangat, bahwa saya harus berjuang terus, memastikan masa depan Aluf mendapatkan yang terbaik dari saya.”

Di sela-sela jam kantor di Female Daily Network, saya ngobrol santai dengan Mbak Affi. Sebagai anak kemarin sore yang baru nikah, saya banyak dapat insight. Semoga hal yang sama juga didapat mommies, ya. Terutama untuk para single mom, yang mungkin sedang proses berdamai dengan keadaan yang sedang dihadapi.

Dari tahun berapa mbak Affi menjalani peran ini?

Dari tahun 2012

Selama lima tahun ini, kapan masa-masa tersulit yang pernah dihadapi,  lalu apa saja?

Masa-masa tersulitnya waktu awal-awal banget, baru pisah. Karena saya harus dealing dengan efek emosionalnya dari perpisahan itu sendiri. Sementara saya juga harus tetap terlihat baik-baik saja di depan anak, dan fokus membesarkan Aluf. Terus, ada masanya ketika saya merasa sulit menerima, mempertanyakan dalam hati kenapa saya bisa punya keluarga yang terpecah? Karena sejujurnya, saya sangat mengidolakan figur keluarga utuh. Begitu kenyataan berkata sebaliknya, keluarga saya menjadi tidak utuh dan tidak bisa diperbaiki, ini yang sulit banget diterima. Perasaan gagalnya itu susah banget untuk dihadapi. Dan mau nggak mau ada perasaan bersalah juga ke Aluf. Jadi khawatir, adakah efeknya untuk Aluf di masa depan.

Harus menghadapi perasaan-perasaan semacam ini cukup sulit di tahun pertama, jadi memang cukup lama. Walau secara eksternal ngggak terlalu kelihatan. Cuma di dalam diri saya mengalami pergumulan. Dan benar-benar harus hati-hati, respon yang keluar dari diri saya. Karena itu tadi, ya. Concern saya ke Aluf.

Nah terus, problem lainnya. Masalah keuangan, walaupun itu sebenarnya mungkin, sesuatu yang bisa terjadi kapan saja pada seorang single parent. Karena saya benar-benar sendiri, dan solo income. Ada masa-masa di mana lagi banyak banget pengeluaran.

Single Mom Survival Guide: Affi Assegaf, “Harus punya keyakinan, semua akan baik-baik saja” - Mommies Daily

Di masa-masa sulit tadi, gimana peran support system membantu mbak untuk bangkit. Dan siapa yang paling berperan besar sebagai tempat curahan hati?

Itu penting banget ya, punya support system. Kalau untuk saya, sebetulnya nggak tega untuk curhat sama keluarga, walaupun mereka sangat supportif dan selalu hadir untuk saya. Pas sudah pisah, kan saya pindah ke rumah orangtua, dan ada kakak saya yang juga single mom. Dia sangat mengerti apa saja yang harus saya lewati. Cuma tetap aja, mau curhat ke kakak dan nyokap, nggak bisa keluar. Takut mereka kepikiran.

Jadi waktu itu, saya curhat ke sahabat-sahabat, dan itu penting banget ada orang yang bisa kapan pun siap untuk menerima kita. Karena adakalanya saya merasa hampir breakdown, di momen-momen random alias nggak diduga sama sekali. Bisa malam-malam, pas weekend, atau abis nonton film. Kehadiran sahabat ngebantu banget, mengetahui ada orang yang selalu siap untuk mendengarkan kita.

Mbak sendiri ada nggak semacam self healing dari semua situasi sulit yang dihadapi?

Saya itu nulis di blog, dan itu isinya kalau di baca ulang sekarang, ternyata “dalem” banget, momen-momen yang sudah saya hadapi. Itu membantu banget. Tapi karena menulisnya di blog, jadi nggak bisa terlalu frontal. Kadang ada beberapa tulisan yang nggak saya publish, saking sensitif. Setidaknya pada saat nulis itu, sudah membantu, untuk mengeluarkan yang tertahan di hati dan pikiran kita.

Yang kedua, solo traveling yang sebenarnya nggak sengaja juga. Di masa-masa awal itu, saya ada liputan ke Amerika Serikat, tepatnya di Miami. Saya memutuskan untuk extend, terus solo traveling ke New York. Jadi ya udah saya extend seminggu. Sebetulnya saat itu saya juga ditemani pihak penyelenggara. Tapi memang kebanyakan kemana-mananya sendirian aja. Nonton konser sendiri, ke taman sendiri, dan itu ternyata, lumayan membantu untuk healing. Setelah bertahun-tahun jadi istri, jadi bagian dari keluarga. Waktu seperti itu membuat saya menemukan lagi sisi lain dari diri saya.

Saat itu, juga ada titik di mana saya berpikir “Oh saya juga bisa menikmati masa-masa sendiri ini, kok. Kayaknya saya akan baik-baik saya.” Soalnya pada saat kita pergi sendiri, harus percaya sama diri sendiri, untuk bikin keputusan mau kemana, naik apa dan sebagainya, itu membantu banget mengembalikan rasa percaya terhadap diri sendiri, dan kita mampu kok membuat keputusan yang terbaik buat kehidupan kita. Selain itu, pas saya di Amerika Serikat, masih proses berpikir dan belum resmi bercerai, apakah masih ada kemungkinan untuk bersama lagi. Karena saya sendirian di sana, jadi nggak ada gangguan dari mana-mana. Benar-benar mendengarkan diri sendiri. Lebih jernih untuk membuat keputusan

Mau dong mbak berbagi survival guide untuk single mom di luar sana, apa saja?

1. Punya support system, entah itu keluarga atau teman. Bahkan ART yang bisa diandalkan. Karena kerja dan membesarkan anak sendiri itu, sangat menantang. Jadi kalau kita bisa punya support system yang kuat, akan sangat membantu. Kalau tinggal terpisah dari keluarga inti, setidaknya punya sahabat, yang juga bisa diandalkan kapan saja.

2. Sebenarnya dari mind set dan mental kita juga berperan besar. Ngerti banget di awal pasti merasa sedih, terpuruk, tapi itu nggak boleh lama-lama. Karena banyak yang seperti itu. Apapun yang terjadi, dan terlepas yang memutuskan untuk bercerai kita, atau pihak pasangan. Jangan terus-terusan mengganggap diri sendiri sebagai korban. Karena kita kan punya anak. Jalan kita masih panjang. Terlihat mengerikan mungkin, harus menjalani semua sendiri, tapi bisa kok dijalani. Harus menguatkan diri sendiri. Nggak boleh lama-lama terpuruk.

3. Harus punya keyakinan semua akan baik-baik saja. Jangan mendengarkan cerita-cerita “horor” mengenani single mom di luar sana. Tapi banyak cari-cari cerita yang menguatkan dan positif.

Contohnya saya dulu inget banget, sebelum menikah, kenal dengan seseorang yang dibesarkan oleh single mom. Menurut saya, dia pinter banget, punya karakter, berani, percaya diri dan baik. Dan saya nanya, dibesarkan oleh single mom, ngerasa kehilangan sesuatu nggak sih? Dia bilang nggak sama sekali. Dia merasa, ibunya memberikan apa yang dia butuhkan. Nah, cerita itu tuh, saya ingat terus. Karena salah satu kekhawatiran sebagai single mom yang terbesar, anak kita gimana nih, perkembangannya kalau dibesarkan sama saya sendirian? Cerita-cerita semacam in yang harus kita cari, sosok-sosok yang bisa jadi panutan, dan bisa inspirasi.

Jadi kalau ada stigma anak yang dibesarkan dalam broken home family, pasti anaknya rusak, itu pemikiran yang sudah sangat usang. Bahkan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang utuh tapi terlalu banyak konflik, sering ribut, keadaan ini menurut saya lebih problematik. Dibandingkan, anak yang dibesarkan oleh orangtua tunggal yang utuh, artinya memberikan dia rasa aman, dan bahagia.

4. Usahakan kita punya hubungan seakur mungkin sama mantan suami. Kalau misalnya nggak akur, lebih baik sebisa mungkin jangan ada terlalu banyak interaksi di depan anak. karena itu pengaruh banget ke anak. Misalnya sudah pisah, tapi ibunya menjelek-jelekkan mantan suami atau masih ada berantem depan anak, nah nggak bagus untuk perkembangan anak. Saya sendiri nggak pernah melarang mantan suami untuk ketemu Aluf. Kami membagi waktu dengan baik. Bahkan kadang, urusan sekolah Aluf pas saya nggak bisa datang, akan digantikan oleh ayahnya. Dan saya sama sekali nggak pernah menjelek-jelekkan ayahnya di depan Aluf.

Sekian tahun berlalu, pernah nggak ada momen-momen galau, lalu pernah nggak sih mbak ke psikolog?

Dulu sebenarnya saya udah ada niat ke psikolog untuk memastikan menghadapi ini semua, dengan cara yang benar. Tapi nggak sempat pada akhirnya. Masa-masa galaunya sendiri, sebetulnya semua ibu pasti mengalami hal ini ya, up and down. Untuk saya sendiri yang single mom, yang berat itu pas lagi sakit. Karena saya harus ngerawat diri sendiri, dan memastikan anak juga terawat dengan baik, kerja pula. Itu lumayan bikin galau, sih, jadi mengasihani diri sendiri. Tapi nggak boleh lama-lama merasa seperti itu.

Justru mengingatkan saya untuk merawat diri sendiri, jaga kesehatan. Anak kita kan bergantungnya sama kita. Kalau sampai kita kenapa-kenapa, nggak bisa kerja, ya kasihan anak jadinya.

Dulu ada masanya saya bolak balik masuk RS, pada awal-awal pisah. Dalam satu tahun, tiga kali dirawat. Dari segi finansial dan emosional, jadinya kan terkuras ya. Waktu saya baru sadar, padahal pola makan saya sehat, tapi karena lagi banyak pikiran, itu berpengaruh banget sama kesehatan saya. Dari situ mulai aktif melakukan hal-hal untuk membenarkan itu, hasilnya Alhamdulillah saya sekarang  jarang sakit. Tapi harus selalu waspada, kesehatan psikis itu sama pentingnya seperti kesehatan fisik.

Single Mom Survival Guide: Affi Assegaf, “Harus punya keyakinan, semua akan baik-baik saja” - Mommies Daily

Momen galau berikutnya, ada masa-masa di mana saya khawatir dengan masa depannya Aluf. Contohnya soal sekolah, sanggup nggak ya membiayai pendidikan Alun di setiap jenjangnya nanti. Tapi ya sudah, semua harus dijalani. Harus segera mengganti rasa takut tadi jadi semangat, bahwa saya harus berjuang terus memastikan masa depan Aluf mendapatkan yang terbaik dari saya.

Sukses terus, Mbak Affi.  Tetap jaga kesehatan, ya. And thank you for sharing :)


One Comment - Write a Comment

  1. Ya betul sekali, harus yakin bahwa semua akan baik2 saja. Makasih mba afi sharingnya. Teman bicara itu emang paling penting. Dan kadang ada saatnya dimana keluarga sendiri pun tidak bisa diandalkan dan kita benar2 sendiri. Ketakutan akan kesulitan uang juga iya. Tapi yaa itu tadi, kita harus yakin semua pasti akan baik2 saja. Karena sudah ada ALLAH maha pencipta kita yang mengatur. Semoga para ibu tunggal di luar sana selalu bahagia lahir.bathin serta rezekinya lancar yaa.

Post Comment