Level Keagamaan Suami Istri yang Berbeda Bisa Jadi Pemicu Perceraian?

Benarkah ketika pasangan suami istri memiliki level atau tingkat keagamaan yang tidak setara mampu jadi pemicu  perceraian?

Serius, deh, kalau nulis soal soal perceraian, saya suka deg-degan sendiri. Apalagi kalau dikaitkan dengan persoalan agama. Bukan apa-apa, soalnya isu ini kan bisa dibilang sangat sensitif bukan? Tapi artikel yang saya tulis ini sebenarnya nggak beda jauh dengan artikel lain yang sudah saya tulis. Semua nggak terlepas dari pengalaman diri saya sendiri atau lingkungan terdekat. Dan tentu saja ada pandangan nara sumber yang kompeten.

Perceraian Lebih Rentan Setelah Punya Anak Kedua-mommiesdaily

Jadi, beberapa waktu lalu saat saya ngobrol bersama psikolog keluarga, Nadya Pramesrani, M. Psi., Psikolog Keluarga, sekaligus Co-Founder Rumah Dandelion, mengenai proses tumbuh kembang pernikahan, tiba-tiba saja obrolan kami mengarah pada konflik pernikahan.

Ngomongin masalah konflik pernikahan memang bakal panjang sekali, ya, daftarnya. Lah wong, gara-gara hal sepele seperti suami lupa mengangkat handuk dari kasur saja bisa memicu konflik, hehehe. Tapi bukan itu, sih, persoalannya. Nadya mengatakan bahwa saat ini ada beberapa isu yang sering ia tangani mengenai pencetus perceraian. Salah satunya adalah mengenai level keagaaman pasangan suami istri yang berbeda.

Lho, kok, bisa? Ya, bisa saja.

Pada dasarnya, yang perlu dipahami dalam pola pernikahan idealnya merupakan equal partner. Maksudnya, antara suami dan istri tidak ada ada posisi yang lebih tinggi atau rendah. Baik suami dan istri punya hak dan kewajiban yang sama, termasuk dalam mengembangkan diri. Sama rata.  Setidaknya pola inilah yang saya dan suami yakini. Jadi semua memang sebaiknya berajalan beriringan. Kalau nggak, ya, memang akan berat sebelah sehingga berisiko memicu terjadinya konflik. Hal ini pun berlaku dalam level keagaaman.

Seperti yang Nadya bilang, “Memang level keagaman suami istri itu harusnya sepadan, namun saat ini kan memang banyak kasus perceraian yang disebabkan level keagaman antara istri dan suami tidak sepadan. Setidaknya dari kasus yang saya tangani,” ujarnya.

Nadya memberikan contoh, saat ini tidak sedikit suami atau istri sudah mulai berhijrah untuk melakukan mendalaman agama. Salah? Ya jelas nggak. Kondisi ini tentu saja baik. Namun sayangnya, tidak sedikit dari  pasangannya yang tidak bisa mengikuti sehingga di kemudian hari menimbulkan konflik.

Padahal, menutut Nadya, sharing religious experience merupakan pilar utama yang perlu dibangun dalam rumah tangga. “Di sini kita nggak membicarakan pasangan suami istri yang beda agama, ya. Pasangan yang sama-sama muslim saja bisa level agamanya banyak yang nggak sama antara istri dam suami. Sesederhana, istri yang nggak bermasalah kalau dia makan di restoran yang tidak ada label halalnya, tapi suaminya cuma mau dan harus makan di restoran yang ada label halalnya. Nah, ini kan beda-beda, kenyatannya memang ada lho yang seperti ini,” paparnya.

Baca juga : 5 Alasan Tertinggi yang Menyebabkan Perceraian

“Bayangkan kalau level keagamaan suami istri beda jauh. Ada, nih, klien saya, cuma karena istrinya mau makan sushi, suami nggak mau karena di restoran sushi tersebut nggak ada label halalnya, khawatir kalau minyaknya mengandung minyak babi.  Nah, yang kaya begini bisa menimbulkan masalah juga, lho. Setiap mau makan malah jadi ribut. Ini baru contoh yang sederhana,” tambahnya lagi.

Mendengar pemaparan Nadya ini saya lantas teringat dengan curhatan salah satu teman, yang mengatakan kalau saat ini ia sudah banyak mengalami perbedaan pola pandang dengan sang suami. Kalau dari kasus teman saya ini, sang suami tidak mau menggunakan alat kontrasepsi karena memandang menggunakan alat kontrasepsi tidak sesuai dengan ajaran agama karena ibaratnya seperti menolak rezeki dan titipan Allah. Sedangkan teman saya ini menolak karena memang khawatir jika ‘kebablasan’ lagi.

“Menurut gue, punya anak itu kan perlu persiapan yang matang. Menggunkan kontrasepsi juga bukan berarti menolak rezeki Allah, kok. Bagaimana kalau gue terus melahirkan dan punya anak tapi nggak bisa memberikan yang terbaik? Bukannya malah itu lebih nggak baik lagi, ya?” ungkapnya.

Baca juga : Sering Bertengkar Tanda Pernikahan Tidak Sehat?

Beruntung teman saya dan suaminya ini masih memiliki tingkat toleransi yang cukup tinggi sehingga keduanya punya kesepakatan sendiri. Bagaimana kondisinya jika salah satu pihak terus menurus memakasakan kehendak karena kepercayaannya berbeda? Ini baru urusan perbedaan pola pandang mengenai kontrasepsi dalam agama. Bagaimana dengan pola pandang yang jauh topiknya lebih besar? Bukan tidak mungkin akhirnya memicu konflik terus, ya?

Lagi-lagi, dalam hal ini pun yang diperlukan adalah komunikasi bagaimana cara menemukan titik temu yang terbaik dalam kehidupan dalam rumah tangga. Bagaimana menurut pandangan mommies mengenai hal ini?


Post Comment