Sering Bertengkar Tanda Pernikahan Tidak ‘Sehat’?

Pernikahan yang ‘sehat’ itu seperti apa, sih? Kalau sering bertengkar dengan suami apakah menandakan pernikahan kita dalam bahaya? Simak penjelasan Anna Surti Ariani SPsi, MSi, Psi saat kami ngobrol di acara MDLunch.

Siapa yang merasa pernikahannya sedang ada masalah? Atau justru ada yang merasa sebaliknya? Merasa pernikahan yang dijalankan baik-baik saja karena nggak pernah cek cok dengan suami? Eeeits, hati-hati, lho, ternyata pernikahan yang nggak pernah dibumbui pertengkaran justru bisa jadi indikasi pernikahan sedang ada masalah.

Jadi, ya…. beberapa hari lalu, Mommies Daily kembali mengadakan acara MDLunch di Branche Bistro – Jl. Senopati no. 33, Jakarta. Kalau biasanya topik yang kami angkat nggak jauh-jauh soal parenting atau keuangan, kali ini kami tertarik mengulas masalah relationship dengan suami bersama Anna Surti Ariani SPsi, MSi, Psi.

penikahan sehat

Bukan apa-apa, tanpa sadar tidak sedikit pasangan suami istri merasa hubungan sehat atau baik-baik saja. Tapi, di satu titik tahu-tahu memutuskan bercerai atau malah memilih untuk berselingkuh. Paling tidak situasi seperti ini pernah dijumpai di lingkungan terdekat saya.

Seperti dugaan saya, penjelasan dan fakta yang dipaparkan Mbak Nina ini sangat menarik dan cukup ‘menampar’ saya. Ternyata memang banyak hal yang belum saya dan suami lakukan. Contoh kecilnya seperti  bagaimana menyelesaikan pertengkaran dengan baik.

Idealnya pasangan suami istri memang perlu mencari tahu formula bertengkar yang tepat. Bertengkar dengan pasangan perlu formula dan kesepakatan.  Dan hal ini memang belum saya dan suami lakukan. Pantas saja, meskipun sudah menikah 7 tahun, kalau lagi bertengkar, saya dan suami sering adu mulut berkepanjangan.

Seperti yang dipaparkan Mbak Nina, sebenarnya setiap pasangan punya cara unik dalam bertengkar untuk menyelesaikan masalahnya. “Bagaimana caranya, ya, harus ditemukan. Misalnya ada salah satu klien saya yang bilang kalau lebih senang jika istrinya marah, membanting barang atau memukulnya, dengan begitu suami jadi tahu kalau istrinya sudah merasa lega. Jadi memang perlu ketemu formula bertengkar yang keduanya suka, dan itu berbeda pada tiap pasangan, jadi nggak perlu meniru orang lain”.

Di samping itu, Mbak Nina juga mengingatkan kalau dalam pernikahan yang sehat, pasangan suami istri tidak melupakan afeksi atau kasih sayang. Artinya, tiap pasangan memang perlu menjaga hubungan untuk tetap mesra. Bahkan katanya, ketika sedang bertengkar dengan pasangan, afeksi ini bisa tetap ada. Misalnya, ketika bertengkar ada baiknya kita mampu memilih kata-kata yang baik, tanpa harus membuat suami tersudut terlebih merasa sampai terhina.

“Misalnya begini, saat bertengkar dengan suami nggak ada salahnya untuk ngomong, Mas, aku sangat menghormati kamu sebagai kepala keluarga, dan aku sangat  mengerti kamu memutuskan hal itu untuk kepentingan kita, tapi aku nggak setuju karena hal tersebut menyakiti aku.”

Nah, kalimat yang dicontohkan Mbak Nina ini bisa dijadikan gambaran marah dengan adanya afeksi karena masih menunjukan rasa kasih sayang istri ke suami.

Terus terang saja, sih, begitu mendengar penjelasan Mbak Nina ini, saya ataupun Mommies lain yang hadir dibikin melongo. Kami sadar, ketika marah sering kali kepala sudah ‘mengebul’ sehingga sulit menahan emosi, hahaha…. untuk itulah penting mencari cara meredam ledakan emosi dan tahu formula bertengkar yang tepat. Sarannya, kalau lagi marah besar, tanya saja ke suami, ada nggak sih perilaku yang mengganggunya dari sana, kita sebagai isteri juga bisa memberikan feedback.

Lagi pula, kalau ada yang mengira pernikahan yang tidak pernah dibumbui dengan pertengkaran adalah pernikahan yang sehat, ternyata itu belum pasti. “Sebenarnya bertengkar itu justru bisa menyelamatkan karena pada tahapan tersebut emosi yang sudah nge-drop bisa naik lagi. Kalau pasangan yang punya masalah dan tidak diributkan, level emosi jutru akan turun terus. Bertengkar itu justru bermanfaat untuk menaikkan level emosi,” ujar Mbak Nina.

Mbak Nina menceritakan kalau sedang menangani kasus pasangan yang mengalami level emosinya sudah sangat turun, terapi pertama yang harus dilakukan  adalah dengan membuat mereka bertengkar.  “Kalau sudah bisa bertengkar dengan enak dan sehat, baru konselor pernikahan bisa mengarahkan untuk berkomunikasi yang baik lagi”.

Ngomongin masalah pernikahan yang ‘sehat’, psikolog yang sering memberikan kultweet di akun twitternya @AnnaSurtiNina ini menerangkan kalau pernikahan yang sehat bisa dilihat dari komunikasi yang berjalan dua arah,  saling memberikan pandangan, dan idealnya juga bisa saling mengembangkan satu sama lain.

“Jadi kita nggak stuck dengan apa yang dijalankan, termasuk dengan karier. Ketika jadi ibu rumah tangga sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan, lho, misalnya bisa buka usaha atau aktif dalam sebuah bidang sehingga bisa berkembang sebagai individu. Selain itu pernikahan yang sehat juga apabila ada tawa bersama di antara keduanya, dan bisa saling berbagi, senang atau pun sedih,” tutur psikolog yang praktik di Klinik Terpadu UI-Depok.

Jadi bagaimana, apakah saat ini Mommies sudah bisa mengenali pernikahan yang sehat?