5 Alasan Kenapa Saya Tidak Mau Menjelekkan Mantan Pasangan di Depan Anak

Ditulis oleh:  Maureen Hitipeuw

Ini dia beberapa alasan saya sebagai single parent yang terus berusaha menghindari perangkap emosi sesaat dan dorongan untuk menjelek-jelekkan mantan pasangan di depan anak.

Namanya parenting aja sudah susah apalagi menjalankan parenting dengan orang yang sudah tidak kita inginkan ada di dalam hidup kita. Perceraian pasti akan lebih complicated saat anak-anak terlibat. Idealnya walaupun terjadi perceraian kedua belah pihak bisa tetap saling berbagi tugas dan tanggung jawab perihal anak. Idealnya walaupun bercerai co-parenting bisa dijalankan dengan baik tanpa baper.

5 Alasan Kenapa Saya Tidak Mau Menjelekkan Mantan Pasangan di Depan Anak-mommiesdaily

Kalau mantan pasangan lebih memilih untuk tidak bertanggung jawab alias mangkir dari ‘tugas’ sebagai orang tua, kita pasti merasa kewalahan. Beban tanggung jawab yang ditinggalkan mantan pasangan bisa membuat kita merasa marah dan frustasi. But always remember, bahwa cepat atau lambat anak-anak akan mengetahui perihal orang tua mereka kok tentunya dalam waktu dan cara mereka sendiri. Walaupun anak-anak mungkin tidak bisa mengungkapkannya secara langsung, mereka bisa merasakan siapa dari kedua orang tuanya yang melindungi dan mencintai mereka dengan sepenuh hati dan siapa orang tua yang melalaikan tanggung jawabnya.

Single parent yang cerdas – walaupun proses perceraian mungkin penuh drama – adalah pribadi yang mampu mengenali kenapa menjelek-jelekkan mantan bukanlah pilihan parenting yang tepat.

Kenapa single parent perlu menghindari perangkap emosi sesaat dan dorongan untuk menjelek-jelekkan mantan pasangan di depan anak?

Perubahan itu Sulit! Setiap perceraian pasti menimbulkan perubahan. Bentuknya bisa saja rumah baru, sekolah yang berbeda. Kadang-kadang anak-anak struggle dengan perubahan ini, struggle karena melihat orang tuanya tidak bersama-sama dalam kesempatan yang sama. Mendengar keluh kesah orang tua tentang hal-hal yang tidak dapat mereka mengerti atau kendalikan pasti akan membuat mereka merasa tak berdaya dan semakin bingung.

You’re the role model. Dalam proses perceraian kita semua berjuang untuk mengelola perasaan tidak nyaman. Jika anak-anak menyaksikan kita  berulang kali melampiaskan kemarahan atau frustrasi tanpa memperhatikan perasaan mereka, bisa-bisa mereka jadi trauma. Sumpah serapah yang kita pikir tidak kedengaran, bisa saja mereka tiru nantinya lho. Berhati-hati dalam mengelola amarah ini ya.

Jauhi SosMed! Mendapat dukungan secara online memang berguna dan dapat membantu proses healing dari trauma perceraian. Yang jadi berbahaya adalah jika kita mengumbar amarah, caci-maki atau menjelek-jelekkan mantan pasangan di jejaring media sosial apalagi jika anak-anak sudah di usia yang boleh punya akun medsos juga. Duh, sebaiknya hal ini dijauhkan.

Fakta kehidupan. Semua anak pada akhirnya menyadari bahwa mereka adalah bagian dari orang tua mereka, paling tidak half of their parents biological. Jika salah satu atau kedua orang tua diberi label pembohong, penipu atau sesuatu yang sama mengerikannya, kerusakan mental juga emosional pada anak-anak bisa jadi signifikan.

Let kids be kids! Terkadang orang tua tunggal membela  keputusan untuk memberitahu anak-anak soal ‘kebenaran’ tentang orang tua lainnya karena mereka takut anak-anak mereka tidak akan pernah mengerti apa yang terjadi dalam hidup mereka. Jadi, mereka menjustifikasi keputusan untuk membeberkan semua kebusukan orang tua yang satunya. Keluhan orang tua seperti itu membebani anak-anak!  Dan itu tidak memperbaiki situasi atau membuat kita merasa lebih baik. Jika kita merasa kewalahan, carilah dukungan emosional orang dewasa  jangan gunakan anak sebagai emotional crutch. Kasihan jika mereka harus kita curhati.

 

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal satu anak, blogger (www.scoopsofjoy.com) dan social media influencer, penggagas Single Moms Indonesia (www.singlemomsindonesia.com). Drink way too much coffee, pecinta jalan-jalan dan photography.


Post Comment