Me vs My Mom

Delapan perbedaan pola asuh antara orangtua kita dulu dengan kita sekarang setelah memiliki anak.

Menjadi orangtua selama hampir 11 tahun, nggak jarang saya kerap mengingat-ingat masa saya kecil dan bagaimana orangtua saya memperlakukan saya sebagai seorang anak. Ternyata, lumayan banyak perbedaan pola asuh antara mama saya dulu dengan saya saat ini. Pasti nggak hanya saya deh yang merasakan hal ini, hehehe. Setelah saya melempar pertanyaan tentang topik ini di Instagram Mommies Daily (@mommiesdailydotcom) maupun di WA Grup pertemanan, ini sebagian besar jawabannya:

Me vs My Mom - Mommies Daily

1. “Mama saya adalah tipe yang keras tidak nyaris tidak pernah memuji kami, anak-anaknya jika kami meraih prestasi. Bagi mama sudah kewajiban seorang anak untuk meraih prestasi sebanyak-banyaknya. Sekarang, setelah menjadi orangtua, saya selalu menghargai setiap usaha sekecil apapun yang dilakukan oleh anak saya.”

2. “Mama tipikal ibu yang cukup ‘dingin’ dalam artian beliau tidak pernah mengungkapkan sayang, kangen dan sejenisnya ke saya, bahkan memeluk juga nggak pernah. Kebalikan dari mama, karena saya merasakan tidak nyamannya tumbuh miskin ucapan sayang, hahaha, saya setiap hari selalu mengucapkan sayang ke anak-anak saya atau memeluk mereka setiap pagi, mau berangkat kerja ataupun saat pulang kantor.”

3. “Mama melarang saya untuk ikut les ini itu, bagi mama yang paling penting itu prestasi akademis yang bagus. Di luar itu tidak perlu les. Makanya saya baru belajar berenang setelah menikah, les bahasa asing juga begitu mau lulus kuliah. Jangan tanya saya bagaimana saat ini ke anak, mereka bebaaaaas mau les apa saja selama mereka fokus dan serius menjalani les-nya. Nilai akademis bagi saya bukanlah segalanya.”

4. “Untuk urusan makanan dan kesehatan, mama santai banget. Saya bisa setiap hari makan Chiki, di rumah pun stok mi instan, hahaha. Dulu saya sakit sampai pingsan pun mama juga selow :D. Berbeda banget dengan mama, setelah menjadi orangtua saya malah super parno. Mungkin karena penyakit sekarang juga semakin aneh dan saya mudah membaca beritanya melalui media online, kan. Urusan makan pun saya mewajibkan anak-anak untuk konsumsi sayur dan buah setiap hari.”

5. “Kalau banyak dari teman-teman saya yang cerita mamanya dulu galak, lah mama saya malah baiiiiiik banget, terlalu baik malah. Dan sangat memanjakan anak. Setiap nangis mau minta apa pasti saya langsung dikasih. Atau kalau saya berantem sama teman, padahal saya yang salah, mama membela saya mati-matian. Tapi saya tidak mencontoh ini karena akhirnya saya merasa saya tumbuh menjadi pribadi yang egois. Sekarang saya cukup tegas ke ketiga anak saya. Kalau memang tidak butuh saya tidak akan membelikan apa yang mereka mau. Kalau mereka salah saya juga akan meminta mereka minta maaf.”

6. “Sebagai anak bungsu, saya ingat banget mama itu selalu menyuruh kakak-kakak saya mengalah. Prinsip mama, yang tua harus ngalah sama yang kecil. Tapi setelah punya anak, saya menghindari prinsip seperti ini. Mau itu si kakak atau si adik, yang benar akan saya bela dan yang salah akan saya tegur. Nggak ada tuh yang namanya adik selalu benar dan menang.”

7. “Berhubung mama bekerja, urusan sekolah mama menyerahkan sepenuhnya kepada guru-guru les dan om yang kebetulan tinggal bareng kami dulu. Saat ini meskipun saya bekerja, saya tetap ikut andil dalam urusan sekolah anak.”

8. “Saya punya ibu yang sangat otoriter. Sekolah harus sesuai dengan maunya ibu. Ambil jurusan saat SMA dan kuliah juga maunya ibu, sampai pilihan les pun juga keinginan ibu. Alhasil saya nggak enjoy menjalaninya. Sekarang, walaupun anak saya masih balita, saya berjanji nggak akan memaksakan kehendak saya ke dia, hehehe.”

Nah, bagaimana dengan Anda dan ibu Anda?


Post Comment