The Empty Nest Syndrome di Kalangan Orangtua, Sudahkah Kita Siap Menghadapinya?

Tahu nggak, kalau setiap manusia punya peluang merasakan the empty nest syndrome. Sebuah sindrom sarang kosong  yang biasa terjadi jika anak-anak meningalkan rumah, baik untuk kuliah atau menikah. Sindrom ini sendiri biasanya akan dirasakan ketika memasuki usia dewasa madya. Sudahkah kita bersiap memasuki fase ini?

Pernah mendengar the empty nest syndrome? Saya sendiri sebenarnya baru ‘ngeh’ dengan sindrom ini ketika membaca sebuah artikel di sebuah majalah gaya hidup. Awalnya saya bertanya-tanya, apa sih sindrom sarang kosong ini? Rupanya, sindrom ini merupakan fase perkembangan yang akan dilalui semua orang yang sudah memasuki usia dewasa madya, yaitu usia 40 hingga 60 tahun.

the empty nest syndrome

Artinya, semua orang yang sudah berstatus jadi orangtua bisa mengalami sindrom ini, baik perempuan atau pun laki-laki. Apapun pekerjaannya. Nadya Pamesrani, psikolog klinis dewasa dari Rumah Dandelion memaparkan bahwa empy nest syndrome atau sindrom sarang kosong merupakan sindrom kekosongan yang dirasakan karena ditinggal anak.

“Ketika orangtua sudah ditinggalkan anak, anak mau kuliah di luar kota atau ngekost, atau anak sudah menikah, tentu sarangnya mulai kosong. Jadi orangtua mulai merasa kesepian. Ada permasalah sendiri, misalnya hari-hari  hidupnya biasa fokus ke anak jadi hilang, rumahnya yang rame akhirnya jadi sepi karena anak nggak ada,” ungkapnya.

Oleh karena itulah dari sana akhirnya bisa munculkan issuenya perlunya adaptasi lagi. Karena orang-orang yang memasuki sindrom sarang kosong akan dihadapi permasalah baik  dari diri sendiri, pasangannya ataupun orang lain.

Saya pun sempat bertanya sebenarnya, apakah ada ukuran apabila sindrom masuk dalam tahapan sudah tidak wajar sehingga perlu diwaspadai?

Menurut Nadya, ternyata tidak ada patokan yang saklek mengenai ukuran wajar atau tidaknya seseorang yang memasuk sindrom sarang kosong ini. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dia menghadapi situasi yang tengah dihadapi. Misalnya, di tahun pertama,  dalam kurun waktu 6 sampai 12 bulan sagatlah wajar jika proses adaptasi masih dilakukan.

“Namun, jika sudah 2 tahun berjalan, namun orangtua belum juga bisa move on, yang disibukin masih saja urusan anak, anak selalu ditelepon atau dikujungi, ini tandanya belum bisa beradaptasi. Sebenarnya yang perlu dilihat adalah bagaimana kualitas hidupnya.”

Perlu dipahami bahwa sindrom ini tidak hanya dirasakan oleh pihak perempuan sebagai ibu saja, karena pada dasarnya para ayah pun bisa mengalami sindrom sarang kosong ini. Untuk mengantisipasi menghadapi sindrom ini, Nadya mengaskan bawa sebenarnya yang paling mudah dilakukan adalah dengan menyiapkan diri dengan aktivitas.

Ketika sudah punya waktu banyak untuk urusan sendiri, mau ngapain? Penyalurannya mau apa saja? Bisa melakukan hobi tertentu yang memang selama ini tertunda untuk dilakukan atau melakukan kegiatan yang menyenangkan lainnya.

Dengan adanya sindrom sarang kosong, sebenarnya hal yang dikhawatirkan tidak hanya memengaruhi kualitas hidup diri sendiri, namun juga bisa memicu konflik dengan orang lain, baik dengan pasangan sendiri atau anaknya. Seperti yang dikatakan Nadya, “Tidak bisa dipungkiri kan kalau ada yang akhirnya ada orangtua yang bisa jadi ‘rese’. Maksudnya, hal kecil sering kali dibesar-besarkan, selalu dibahas, kondisi seperti ini kan juga bisa menggangu.”

Aaah…kasus seperti ini sudah sangat familar nggak, sih? Apa malah mommies sedang mengalami menghadapi orangtua yang mengalami sindrom ini?

Nadya mengingatkan, bahwa pada pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial yang butuh berinteraksi. Oleh karena itulah, sebenarnya kita memang tidak bisa mengandalkan anak atau pasangan 100%. Dukungan social support juga amat diperlukan. Tidak mengherankan kalau pada usia dewasa madya sering ada reuni, kegiatan arisan atau olahraga bersama.

“Manusia sampai kapan pun butuh interaksi sosial, jadi nggak bisa dipenuhi oleh satu dua orang saja, misal hanya pada keluarga.”

Mendengarkan penjelasan Nadya, saya kok sepertinya diajak berkaca melihat orangtua saya, ya. Memasuki usia senja, mama dan ayah saya masih disibukan dengan berbagai aktivitas bersama lingkungan sosialnya. Dan ternyata hal ini sangat bermanfaat kok. Saya sendiri sangat percaya bahwa menjalin pertemanan adalah sebuah keharusan, karena dunia kita memang tidak cukup hanya diisi oleh suami dan anak sajakan?


Post Comment