3 Hal yang Tidak Bisa Saya Toleransi dalam Pernikahan

Untuk saya 3 hal ini tidak bisa saya toleransi dalam pernikahan, apa dan kenapa?

Masa pendekatan saya dan suami sebelum menikah sekitar 2,5 tahun, namun sebelum itu kami memang sudah mengenal satu sama lain. Lingkaran pertemanan yang mempertemukan kami, membuat saya merasa kondisi ini menguntungkan, karena saya memiliki banyak sumber terpercaya untuk mengorek informasi tentang calon suami kala itu.

3 Hal yang Tidak Bisa Saya Toleransi dalam Pernikahan

 Agustus tahun 2016 ini, pernikahan kami memasuki tahun ke-3.

Belum sampai ke tahap mencari informasi ala-ala detektif, ternyata saya malah didatangi sumbernya langsung. Di dua kesempatan berbeda, saya terlibat perbincangan hangat mengenai calon saya ini. Benang merahnya mereka menyampaikan kalau calon saya ini orangnya setia! Eits, tunggu dulu saya nggak percaya begitu saja ya, rangkaian pembuktiannya lainnya tetap saya jalankan, dong.

Karena untuk saya pribadi, pernikahan itu adalah janji manusia kepada Tuhan. Selain itu dalam keyakinan saya sebagai muslim, menikah berarti ketika orang tua saya memindahkan tanggung jawabnya ke pundak suami. Itu artinya, pemimpin hidup saya ketika menikah adalah suami. Kriteria pemimpin yang mesti ada menurut saya adalah setia, dan dua lainnya yang mengikuti – tidak main tangan dan NO NARKOBA!).

Sebelum menikah, kami mengadakan kesepakatan bersama. Meski tidak tertulis, kami berjanji untuk memegang janji tersebut. Daaaan, untuk tiga hal ini saya tidak bisa ambil sikap toleransi, kenapa?

Jangan ada perselingkuhan! Sudah jelas banget ya, ketika memutuskan untuk menikah berarti juga siap berkomitmen menjaga hati. Sangat memungkinkan kok untuk menghindari perselingkuhan ini, komunikasi memang masih jadi kunci utamanya. Indra Noveldy seorang konselor pernikahan bilang “Kalau hubungan Anda dengan pasangan sudah sangat baik, harmonis, saling memberi, saling mengerti, tahu kebutuhan masing2… rasanya kecil sekali kemungkinan untuk terjadinya kasus selingkuh.” Nah, kan, rumusnya sederhana komitmen untuk selalu “saling” dalam hubungan. Namun, kalau “saling” tadi sudah kita lakukan  tapi masih tetap terjadi perselingkuhan, artinya menurut saya pasangan sudah tidak lagi menghormati kita sebagai isterinya. Perselingkuhan yang saya maksud nggak sebatas fisik saja, lho Mommies, termasuk selingkuh teks di social media. Intinya menyembunyikan sesuatu dari kita isterinya, yang berhubungan dengan lawan jenis.

Kekerasan dalam rumah tangga, sebagian perempuan yang bisa bertahan dalam rumah tangga KDRT, saya hargai langkah mereka. Tapi tidak dengan saya, kekerasan dalam rumah tangga sama artinya pasangan tidak lagi memperlakukan kita secara manusiawi. Prinsip saya sih, Papa saya sendiri nggak pernah menyakiti anak-anaknya, dia menjaga kami nyaris sempurna. Jadi, hal yang sama juga sebaiknya dilakukan pasangan terhadap kita isterinya. Dan ingat, tanggung jawab orangtua kita sudah dilimpahkan kepada dirinya. Termasuk dalam hal menjaga keselamatan diri fisik dan psikis isteri tercinta.

NARKOBA, waah ini sih sudah jelas banget. Untuk saya tidak ada toleransi, CMIIW, sekali seseorang mencoba NARKOBA, apalagi sampai rajin mengonsumsi, maka efek sugestinya akan berpotensi menetap. Terbayang nggak, kalau dalam rumah tangga pemimpinnya saja tidak mengendalikan diri dan malah terjebak lingkaran setan NARKOBA? Ke depannya bagaimana dia mau membawa keluarganya ke arah yang lebih baik? Meski begitu, saya dukung para pecandu NARKOBA harus menjalani rehab, karena kesempatan mereka untuk hidup masih ada. Tapi untuk saya, kesempatan untuk tetap mengarungi bahtera rumah tangga sudah kandas, maaf…

Ketika saya memutuskan untuk tidak memberikan toleransi terhadap 3 hal tadi, di sisi yang lain, saya juga harus adil. Artinya, sebagai isteri harus pandai-pandai meminimalisir suami berbuat demikian. Cara saya sederhana saja sih, saya juga wajib menghormati pernikahan saya dan pasangan. Lalu selalu ingat kalau menikah bukan hanya untuk urusan dunia tapi juga sampai urusan akhirat dan ingat anak. In case mau berbuat macam-macam, balik lagi berpikir “Ayooo tanggung jawabnya juga sama Tuhan, lho!” Selain itu, juga ditambah memegang teguh nasihat dari ibu saya yang bisa menyelamatkan pernikahan.

Itu tadi prinsip saya, bagaimana dengan Mommies?


Post Comment