social-media-marketing

Selingkuh Teks di Era SocMed

Seorang teman, sebut saja namanya Bunga, baru-baru ini menelepon dengan suara tercekat sisa tangisan. Saya yang kebingungan dengan sabar membujukinya dan mendengarkan ceritanya sampai selesai. Berikut cerita Bunga yang dengan susah payah akhirnya bisa diselesaikan selama tiga jam bertelepon dengan interval lima menit karena haus dan perlu minum:

Baru-baru ini Bunga menemukan bahwa suaminya menjalin hubungan mesra melalui teks dengan perempuan lain. Bunga tidak sengaja membaca pertukaran BBM di antara keduanya ketika sedang mengambilkan smartphone suaminya tersebut. Biasanya dia tidak pernah sok cek isi HP, email, Twitter, Facebook suami karena sudah saling percaya. Namun kali ini, tidak tahu digerakkan oleh kekuatan apa,  dia iseng mengetik password smartphone tersebut dan langsung terbuka window chat yang berisi percakapan antara suaminya dengan perempuan bernama “P”. Bunga awalnya sama sekali tidak menaruh rasa curiga, namun sambil terburu-buru hendak memberikan gadget tersebut kepada suami yang menunggu di ruangan sebelah, terbaca olehnya kata-kata “Honey”, “Aku baru sampai”, “Hujan di sini”, dan “Kangen”.

Seperti tersengat sesuatu yang berkekuatan sangat besar, Bunga tercenung, rasa dingin mulai menjalari sekujur tubuhnya dan dengan mata kabur, perlahan ia melanjutkan membaca teks tersebut. Baru setengah terbaca, suaminya sudah menghampiri dan mereka saling berpandangan. Lidah Bunga terasa kelu namun akhirnya sedetik kemudian ia berhasil mengeluarkan jeritan dan bertanya kepada suaminya: Ada apa ini? Ini siapa? Kenapa dia memanggilmu “Honey” Kenapa kamu harus tahu dia ada di mana? Kenapa harus kangen?

Mereka lalu terlibat aksi saling rebut gadget tersebut. Bunga penasaran sekali ingin melihat semuanya, sementara suaminya dengan mata yang memancarkan sinar ketakutan yang sangat, berusaha mempertahankan supaya alat tersebut tidak jatuh ke tangan istrinya dengan ancaman kehancuran rumah tangga tepat di hadapan mereka.

Malam itu mereka bertengkar hebat dan berakhir damai. Bunga pikir hanya sekedar hiburan sesaat dan mereka berdua sepakat untuk melupakannya saja karena, toh, hubungan antara mereka sebagai suami-istri juga terasa baik-baik saja selama ini. Bunga meminta semua password suaminya: email, Facebook, Twitter, semua.

*gambar dari sini

Namun keesokan paginya, Bunga berhasil merebut gadget tersebut dari tangan sang suami dan membaca pertukaran teks melalui SMS di antara sang suami dengan perempuan yang sama. Kali ini dalam episode berjanji untuk bertemu di sebuah tempat dalam rangkaian teks yang panjang berbelit, mulai dari si perempuan berada di toilet dan bersiap-siap, penentuan lokasi pertemuan, sampai soal penjemputannya. Semua dipenuhi kata-kata “Yang”, “Love” (!), dan “Peluk”.

Bunga juga berhasil menemukan jejak kemesraan mereka melalui teks lewat rangkaian DM Twitter dan timeline Twitter yang terjadi di antara mereka berdua. Sebagian sudah dihapus namun masih ada sisa yang terbaca oleh Google.

Dari rangkaian DM Twitter tersebut terbaca tren peningkatan hubungan mereka berdua, mulai dari sekedar sapa apa kabar, saling bertukar PIN BB, Skype, sampai akhirnya melanggar suatu titik yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh dua orang yang sudah terikat janji perkawinan dengan pasangan masing-masing, walaupun hanya melalui teks.

Bunga dan suaminya terlibat pertengkaran yang hebat sekali lagi, kali ini Bunga menjadi sangat gesit dan kekuatannya seolah bertambah ratusan kali lipat, kemampuan otaknya dalam saat genting itu juga seakan bertambah hingga jauh dari ukuran normal. Bunga berhasil dalam waktu singkat mencari fitur di smartphone tersebut (biasanya dia tak peduli soal beginian) yang memungkinkannya mengirim email beberapa SMS dari perempuan itu ke gadget miliknya dan meng-copy beberapa DM Twitter yang isinya bisa membuat hati wanita di manapun berdarah, luka parah karena kekejaman cinta.

Namun, dalam keadaan superkacau seperti itu, Bunga berhasil menenangkan diri, berkepala dingin dan mulai melakukan tindakan-tindakan yang menurut dia diperlukan untuk dilakukan secepatnya:

  • Mengirim teks melalui email dan SMS kepada perempuan tersebut yang intinya melarang mereka berhubungan lagi:

“Saya sempat baca percakapan BBM di antara kamu dan suami saya. Saya kurang suka dengan apa yang saya baca, boleh minta tolong untuk tidak usah berhubungan lagi? Saya sebagai istrinya terganggu membaca BBM tersebut dan sudah meminta suami saya untuk menghapus semua nomer kamu dari BBM, Whatsapp dan blok Twitter sekalian.
Saya juga kurang paham apa yang kalian inginkan dengan hal tersebut yang bisa mengganggu keutuhan 2 buah rumah tangga sekaligus,  tapi saya tidak perlu tahu lebih jauh dari pada lebih sakit hati lagi.”

  • Memberitahu suami perempuan tersebut dengan rangkaian teks melalui DM Twitter bahwa dia kurang suka membaca isi yang tercantum dalam pertukaran teks yang terjadi di antara suaminya dan istri lelaki itu.
  • Mengompilasi semua teks mesra dari SMS dan DM Twitter yang berhasil di-copy, lalu dikirimkannya kembali kepada perempuan tersebut melalui e-mail dengan kata pengantar: Terima kasih, ya, untuk semua ini, saya kirimkan kembali kepadamu untuk kenang-kenangan.
  • Mengadakan tindakan restorasi hubungan dengan sang suami, mereka memutuskan untuk pergi ke luar kota, quick getaway, mengadakan bulan madu dadakan, bercakap panjang lebar siang-malam untuk mengatasi semua ini.

Semua tindakan Bunga lakukan dengan hati-hati, japri dan tidak dengan mengganti statusnya di Twitter dengan kata-kata vulgar, kasar, tidak sopan yang menyatakan kebencian  atas peristiwa selingkuh teks tersebut (walaupun jika mengikuti kata hatinya ia ingin sekali meneriakkan kata “bitch” dan sumpah serapah lainnya). Statusnya terjaga hanya di batas galau saja, dan semua orang di Twitter memang galau, kan? :D

Kejadian ini berlangsung relatif cepat, mulai dari terungkap sampai penyelesaiannya berlangsung sekitar seminggu saja. Namun terasa seperti ribuan tahun di dalam diri Bunga yang setengah mati rasa.

Dia akhirnya, hari ini, merasa perlu untuk mengungkapkan semua kepada saya teman dekatnya, menumpahkan segala emosi yang ada.

Kalau kisah Bunga berawal dari Twitter, Kembang mengalami sedikit gangguan atas hubungannya dengan sang suami melalui Facebook. Dalam beberapa bulan terakhir, Kembang mengamati bahwa ada seorang perempuan kawan lama suaminya yang selalu meninggalkan pesan-pesan cukup intim seperti ”Sudah makan belum?” dan lainnya di wall Facebook. Kembang memerhatikan bahwa suaminya juga membalas di jam-jam yang orang seharusnya sudah tidur, sekitar lewat tengah malam.

Singkatnya, Kembang protes kepada suaminya, dan bahkan ia nekat posting pesan di wall perempuan tersebut untuk menyatakan ketidaksukaannya.

Walaupun sama-sama terjadi di social media, berbeda dengan kisah Bunga yang berawal di timeline Twitter, berlanjut di DM lalu bertukar PIN BB, sehingga tidak langsung terdeteksi pasangan keduanya, kisah Kembang terjadi di wall Facebook, yang banyak tidak disadari oleh banyak pengguna Facebook bahwa wall tersebut layaknya public space, tanah lapang luas yang jika kita mem-posting sesuatu di wall tersebut bagaikan kita berteriak-teriak memakai pengeras suara seperti tukang jual obat. Semua orang “dengar”, semua orang tertarik. Kita memosisikan diri di pusat perhatian banyak orang karena yang “mendengarkan suara” kita di wall tersebut tidak hanya orang yang bersangkutan tapi juga segenap friends Facebook-nya. Jika ada orang yang berkomentar di “teriakan” kita tersebut, orang tersebut beserta para pihak terkait akan terus mendapatkan update dari komentar “teriakan” tersebut.

Kisah Kembang berakhir dengan suaminya meng-unfriend dirinya di Facebook dan Kembang menjadi sangat frustrasi karenanya.

Kisah Bunga dan Kembang bisa saja terjadi pada orang terdekat kita atau bahkan pada kita sendiri. Kedekatan yang terbangun melalui limpahan teks gradual di social media menimbulkan rasa suka yang (tadinya) semu menjadi riil, nyata, lalu membentuk sebuah hubungan yang mungkin pada jaman orang tua kita belum pernah terbayangkan dan kita, ya, kita lah yang harus pertama kali menghadapinya, dan memikirkan bagaimana pencegahannya kelak di kemudian hari, lalu memberi peringatan kepada anak-anak kita.

Betapa godaan teks bisa sama berbahayanya (atau malah lebih?) dengan rayuan langsung melalui lisan telepon atau percakapan (tatap muka) langsung. Rangkaian teks yang bisa dibaca berulang-ulang menjadi lebih berbahaya karena bisa menanamkan memori kemesraan dengan jauh lebih dalam dan mengakar kuat dibanding sampaian lisan.

Jika hanya diucapkan secara lisan, kita tidak mungkin akan mengulangnya dengan harfiah kecuali sengaja membawa alat perekam saat kejadian ucapan.

Kesadaran dalam menjaga sopan santun dalam ber-social media juga termasuk di dalam menjaga hubungan baik penuh kemesraan dengan pasangan. Sejalan dengan nasihat Dr. Phil yang menyatakan bahwa ukuran selingkuh/tidaknya bisa dilihat dari apakah saat kita melakukannya dengan orang lain, berupa sebentuk obrolan atau tindak tanduk, jika pasangan kita ada di sebelah kita persis apakah dia akan marah/tidak, nyaman/tidak melihat/mendengarnya. Begitu pula dengan pertukaran teks, apakah sekiranya pasangan kita akan marah jika membacanya? Jika ya, artinya sudah melewati batas dan perlu dipikirkan baik-baik jauh ke depan. Apalagi teks di social media seperti timeline Twitter dan wall Facebook yang bisa dilihat followers dan friends kita.

Walau sudah dijaga sedemikian rapi sekalipun, tumpahan teks mesra penuh ketidakmampuan dalam menahan diri melalui reply Twitter akan terbaca oleh followers yang follow kedua insan tersebut, atau kalau melalui wall Facebook, akan terbaca friends dari kedua belah pihak. Teks reply yang tertera di timeline Twitter walau segera dihapus akan bertengger sementara di timeline umum para followers kedua belah pihak, cukup untuk memuaskan nafsu kepo semua orang.

Saya pernah melihat aksi berbalas reply antara dua orang yang sudah memiliki pasangan resmi yang cukup intens dan menimbulkan pertanyaan karena kadar kemesraannya lebih dari sekedar teman biasa. Ketika membacanya spontan yang terlintas dalam pikiran saya adalah menjeritkan, “Hey, get a room, guys!” It was so horny and sweaty *sigh* Ternyata selang kemudian, seorang memberi tahu bahwa mereka berdua memang terlibat perselingkuhan fisik, tidak hanya sebatas teks semata.

Sifat teks yang sensitif akan memberi kesan lebih dalam bagi orang yang membacanya, dan dalam social media perlu diingat baik-baik, kesan tersebut akan tertangkap juga dalam diri orang lain yang tidak terlibat ketika membacanya. Sungguh ternyata sangat mudah membaca emosi orang dengan hanya melalui 140 karakter saja. Sadarilah.

Dalam berhubungan melalui teks, sebaiknya kita semua menyadari bahwa layaknya hubungan lisan, juga ada tata cara dan sopan santunnya perlu dijaga seperti layaknya bertemu dalam hubungan langsung dan lisan. Bayangkan, pasangan resmi ada di sebelah ketika kita menuliskannya, apa kira-kira reaksinya jika kita menuliskan hal tersebut kepada lawan jenis: senang, marah, kesal? Itu saja dijadikan pegangan. Ketika sudah memiliki pasangan resmi, penulisan teks kepada lawan jenis di social media hendaknya dibuat dengan pemikiran matang dan jauh ke depan. Apa dampaknya teks (mesra) tersebut bagi pasangan kita dan anak-anak kita kelak dengan mencermati sistem sirkulasi pesan teks di social media yang sedemikian. Bayangkan saja kita ada di tengah public space seperti keramaian pasar, ngapain juga teriak-teriak serangkaian perkataan mesra ke lawan jenis? Begitulah yang terjadi jika kita posting reply atau status di timeline Twitter atau wall Facebook, “teriak-teriak” penuh kemesraan dan semua orang jadi tahu. Satu hal penting yang perlu diingat, semua yang sudah tertulis di internet tidak akan terhapus, masih ada selamanya nun jauh di ingatan sebuah server dan selalu dapat di”ambil” lagi di kemudian hari (termasuk deleted tweets).

Lalu bagaimana dengan kisah Bunga dengan kiat-kiatnya dalam memperbaiki hubungan dengan suami secara kilat? Kepo enuf? Bersambung di tulisan lain, ya!

 


39 Comments - Write a Comment

  1. Semoga suami bunga bener2 bertobat nyesel dan ngga mengulangi hal serupa dimasa depan, karena dilingkungan saya banyak laki2 pathetic loser yg ngga malu dan ngga nyesel berselingkuh even udah berulang kali dimaafin istrinya! dan memang kebanyakan mereka selingkuh di dunia maya, udah ketauan dengan temen2 yang lain dibelakang tapi tetep aja ngga malu. kalo ditegur katanya toh istrinya bisa apa….. ckckckck….

  2. Temen saya pernah ngalamin kayak Bunga, dan memang bener butuh pikiran jernih buat membereskan situasi kayak gitu. Sampai temen saya ajak suaminya konsultasi ke konselor pernikahan dan psikolog, soalnya pengen tau apa udah termasuk habit apa bukan, berkali-kali seperti itu. Semoga dengan lahirnya anak ke-2 nanti udah bener-bener tobat

  3. Wah, terima kasih sambutannya, teman-teman semuaaaa. Saya nulisnya juga sambil gemetar :)

    Kalau ada pertanyaan sila mention saya di twitter >> @uberfunk

    Semoga bisa saya jawab. Tulisan ini adalah bagian pertama, bagian keduanya sudah jadi dan akan menyusul dipublish. Tapi setelah bagian 2 kok kepingin nulis lagi dan lagi ya? BAHAYAAA :D Intinya ingin membuat awareness soal bahayanya Selingkuh Teks dalam kehidupan berpasangan/rumah tangga.

    Have a great week end to you all!! :*

  4. Ahh speechless bacanya, kemudahan teknologi memang bagai dua sisi mata uang juga ya, mempermudah kita untuk ‘keluar jalur’ kalau nggak kuat iman dan komitmen sm pasangan.

    Kepercayaan mahal harganya, nggak kebayang kalo jd Kembang dan Bunga, apa bisa kembali percaya ke pasangan? :(
    Semoga ada jalan keluar terbaik bagi keduanya ya.

  5. speechless bacanya…. jd inget dr jaman masih pacaran dulu suamiku ga pernah tertarik sm yg namanya friendster, facebook, twitter, dia bikin pun karena kusuruh hehehe… dulu sering protes “kok nggak pernah nge-wall sayang2an” atau “kok nggak pernah mention di twitter” dsb…ala ababil deh… tp setelah baca ini kalau dipikir2 ada hikmahnya jg punya suami yg ga begitu suka berinteraksi di dunia maya… minimal menghilangkan satu kekhawatiran. be strong yah bunga n kembang…

  6. sebagai wanita jadi miris bacanya,tapi itu emang fakta yg terjadi dalam rumah tangga. cobaan datang silih berganti,tapi…..emang tergantung komitmen awal dalam menjalani sebuah rt and tergantung manusianya juga. klo aq pribadi lebih milih bicara dari hati kehati dengan pasangan dulu tanpa harus sounding kesana kemari baik melalui media apapun, klo di rasa cara itu gagal baru de…. langsung action tapi dengan cara2 yang masih menjaga norma lah,,,namanya juga orang timur. yah walau ga dipungkiri kalo lagi emosi,apalagi menyangkut orang kedua, kadang ga bisa pikir jernih hehehe hopefully berakhir dengan happy ending de untuk bunga dan kembang….

  7. Bacanya pake hati, urat dan sesak nafas,, tapi mom, ini memang sering dan banyak terjadi di sekeliling kita, sedih dan ga habis pikir kenapa yg selingkuh itu tega dan ga memikirkan perasaan pasangan nya.

    Mom,,,, saya jadi penasaran sama tulisan berikutnya ttg bunga, apa yang dia lakukan, pertahankan rumah tangga dan berdamai dengan hati sendiri, coba positif thingking ini cuma badai dan pasti berlalu.
    ATAU gimana mom?

    Ngobrol hati ke hati, phone a friend, kasih bendera putih ke mertua supaya ikut andil nasehati,
    datang ke pemuka agama untuk minta doa dan nasehat.

    hopely ada solusi yang baik di tulisan berikutnya untuk bunga dan kembang..

  8. Bisa dilapor polisi kok, pasalnya perzinahan, atau yg ringan perbuatan tidak menyenangkan. pasangan punya hak untuk melaporkan kalau ada bukti perselingkuhan pasangannya. perempuan skrg harus smart, saya pemakai aktif socmed, saya pegang password email. semua akun suami saya, tapi tetap kecolongan, karena mereka selingkuh di whatsapp, imessage, dan bertemu langsung setelah balik kerja. saran saya, istri sebagai korban hrs pintar, dan jangan sampe diem aja kalo pasangan kita selingkuh…..
    kalau ada yang mau sharing saya open krn saya juga baru kena masalah yg sama baru saja…..
    be tough wives! (or husbands)!

    1. @MomKimi *hugs* you sound so strong and all, salute!
      Ya betul bisa lapor polisi, tapi seperti halnya masalah KDRT, sebagian besar tidak melapor ke polisi karena tidak mau menyeret pasangannya sendiri berurusan dengan polisi/hukum karena menyangkut hal-hal sebagai berikut: nama baik keluarga, keuangan (karena pasti menghabiskan banyak biaya juga), dll. Saat menulis ini saya baru paham kenapa korban KDRT banyak yang tidak melaporkan masalahnya walau sudah babak belur sekalipun. Mungkin masyarakat atau sistemlah yang bisa/harus membantu mereka.

  9. saya saat ini sedang di posisi tersebut sejak tahun 2012 suami saya selingkuh dengan SPG atau semacamnya dia bekerja di Blok M plaza namanya Wanda hunindyta (janda beranak 1, anaknya diasuh suaminya, katanya) . saya mengetahui hubungan mereka tahun 2012 dan suami bilang akan mengakhirinya tetapi ternyata tahun 2013 mereka telah ML dan katanya terakhir tanggal 24-25 april 2014 padahal tanggal 19 april kami liburan bersama ke pulau tidung. parahnya lagi selingkuhan suami saya mendamprat saya dan menuduh saya matre padahal suami saya tidak punya kerjaan tetap. biasa suami dan selingkuhannya sama2 jelek2in saya, sakit sekali rasanya diperlakukan seperti keset. perempuan itu dan suami saya masih texting hari rabu kemarin saya stress luar biasa saya ajak ke ustad di mesjid agung al azhar blok m sudah di nasehati ustad katanya sih taubat.. entah lah ..

  10. hai mommy
    maaf disini saya share sebagai pelaku perselingkuhan
    saya menyesal dan sangat berharap waktu berputar kembali supaya tidak jatuh dalam dosa itu.
    melakukan perselingkuhan hanya karena saya ingin memenangkan hati orang yang dulu saya cintai tetapi dia memilih menikah dengan orang lain
    saya menganggap ketika dia mau dengan saya, berarti saya menang atas istrinya.
    ternyata salah.
    mommy bila tahu suaminya selingkuh , jangan sekali kali langsung berdebat panjang lebar, bahkan jangan sampai menghubungi selingkuhan suami mommy, itu smua malah menambah kesan (maaf) “buruk” anda didepan suami.
    hanya kelembutan yang memenangkan seorang lelaki.
    sekarang saya sadar , selingkuh tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi menyakiti diri sendiri.

  11. saat membaca cerita ini, saya seperti flashback di masa terpuruk saya yang momentnya itu masih jelas di benak saya dan masih terngiang di telinga saya, 25 maret 2014. saya juga korban perselingkuhan persis dengan kejadian bunga dan kembang. memang internet itu useful banget untuk memudahkan kegiatan hidup, tapi juga digunakan iblis dengan dampak untuk menghancurkan segala hal dalam hidup kita, termasuk pernikahan. dengan mudahnya para peselingkuh menyimpan hubungan gelap mereka……namun Tuhan itu dekat dengan orang-orang yang patah hati/teraniaya…. pastinya hubungan gelap macam apapun akan disingkapkan….hal itu terjadi pada saya, mirip banget dengan cerita bunga.
    yang menyakitkan adalah di malam saya mengajak chat dengan selingkuhan suami, perempuan bersuami dan beranak satu itu bernama puput diyah herawati, selalu menyalahkan suami dan sempat mengaku kalau dia mau dia akan jadi istri kedua…(ternyata dia dalam keadaan hamil). shock luar biasa malam itu ketika saya chat dengan dia via bbm suami yang nama kontaknya disamarkan selama ini….. karena bau perselingkuhan suami ini sdh saya curigai dari setahun yang lalu melalui socmed… posting2 suami ke wall perempuan itu tentang hubungan suami istri…. baik media chatting, wa, ym, dll. semuanya sdh saya blokir, tp ada aja yang dilakukan mereka agar tetap bisa chat setiap saat, terutama tengah malam. karena saat saya baca bbm yang masuk malam itu, suami saya sudah tidur pulas… nama kontak bbm itu sangat asing. dan ternyata saat saya balas ping-nya malah dibalas bbm “pswd?”….. ternyata chat ini memang tidak boleh diketahui oleh saya karenanya sebelum chatting mereka harus memastikan bhw bukan pasangan mereka yg menjawab bbm. saat saya periksa nama kontak dan saya reset namanya ternyata benar…nama perempuan itu yang selama ini merusak kepercayaan saya terhadap suami. memang benar ada masalah perempuan itu dengan suaminya yang berpenyakit jantung (dalam hal ini terbatas dalam melakukan berhubungan suami-istri, sesuai pengalaman saudara saya penderita jantung). dan suami saya adalah tempat curhat (merasa teraniaya di rumah mertuanya-dia asal jakarta, tidak punya saudara di surabaya) dan tempat tangisan perempuan itu di kantor… makan siang sampai sholat bersama…. begitu harmonisnya sampai-sampai membuat risih teman-teman kantornya… hubungan mereka berlangsung sangat jauh dari sekedar teman curhat, tp sampai bolos kerja hanya untuk ngedate bahkan jauh lebih intim.
    saat saya kehilangan jabang bayi saya, 18 maret 2014, saya benar-benar terpukul….namun di situlah saya disadarkan bahwa beruntungnya saya mendapati kenyataan terburuk ini setelahnya…hal ini pun sangat mengganggu kinerja saya sebagai seorang pengajar… ada rasa dendam yang mendalam, sampai saya ingin mendatangi rumah perempuan itu dan melaporkan perselingkuhan mereka juga kehamilannya kepada suami perempuan itu…. karena tahun lalu sempat diadakan acara family gathering oleh teman-teman kantor suami, tp perempuan itu datang sendiri tanpa suaminya dan dia tersenyum kemenangan saat bersalaman dengan saya…(dan saya baru tau jika acara itu sengaja dibuat oleh pihak manajemen krn hubungan gelap suami saya dengan rekan kerjanya yang bersebelahan meja itu), tp ada banyak pihak, teman-teman kantor suami yang membantu untuk saya tetap kontrol diri….
    sebenarnya maksud saya baik, supaya hal ini diselesaikan secara baik-baik…berempat, suami-istri, bicara dari hati ke hati…karena beritanya perempuan ini yang menggoda suami dan ingin menunjukkan pada semua rekan wanita di kantor bahwa dia yang berhasil menggaet suami saya…. (sungguh kasihan perempuan ini…ingin pengakuan)… jd supaya perempuan ini juga merasakan “kapok”….dan dia harus bersujud di kaki suaminya supaya dosa zinahnya ini diampuni.
    saya juga melakukan hal yang sama seperti bunga meng-copy semua chat perempuan itu dan saya print, dalam hal ini akan saya kirim via pos kepada suami perempuan itu, karena saya jengkel dengan perempuan ini. paginya setelah chat dengan dia, saya terima sms dari dia yang isinya memohon saya untuk tidak melaporkan masalah ini kepada suaminya, sebaliknya smsnya ke suami saya itu seolah-olah saya ini macan…”mas, tolong bilangin sama bininya. jangan lapor ke suamiku. kalo laki-laki sih pasti dimaafkan istri, kalo perempuan pasti dicerai begitu juga aku. aku takut binimu nekat, mas”. bertambah geramlah hati saya membuka dan membaca sms perempuan itu di hp suami yg kontaknya sudah dihapus tp perempuan itu masih menyimpan kontak suami saya.
    sempat saya pertemukan suami dan perempuan ini di depan gang rumahnya, dekat dengan kantor (inilah alasan mengapa mereka sering bolos untuk ngedate, karena letak kantor berdekatan dengan rumah perempuan ini)
    namun pertemuan itu tidak menghasilkan penyelesaian, perempuan ini mengancam kalau saya lapor suaminya, dia lebih baik menghilang, karena suaminya pasti akan menceraikannya… (bukankah itu resiko dari permainan yang dia ciptakan sendiri)….selain itu…dari pertemuan itu jugalah saya mendengar dan melihat sendiri pengakuan dari bibir suami saya di depan selingkuhannya bahwa mereka benar melakukan hubungan suami-istri saat membolos kerja. sungguh pertemuan semacam ini lebih baik tidak dilakukan tanpa adanya pihak lain di luar pelaku dan korban perselingkuhan karena setelah pertemuan itu yang saya dapatkan hanya sakit hati yang lebih dan cemoohan dari suami dan perempuan itu… saya dibilang tidak bisa menahan emosi…. (apakah tidak wajar….korban seperti saya ingin tau detil hubungan mereka? toh saya tidak berteriak, memaki, berdiri dengan dua tangan di pinggang dan menunjuk-nunjuk perempuan itu…kami duduk bertiga di pagar gang, dan jika nada saya meninggi itu akibat dari mereka berdua yang saling menutupi dan membela supaya suami perempuan itu tidak tahu tentang perselingkuhan ini, cukup saya saja yang tersakiti di sini)
    setelah dari kejadian itu…saya sadar bahwa perempuan itu tidak ada bagus-bagus secuil pun dari saya… seburuk apapun saya, saya tidak seperti dia yang berbuat asusila. dari situlah saya membesarkan hati bahwa saya orang baik, dan akan selalu berbuat baik…. apapun yang terjadi saya tetap di jalan yang lurus demi anak-anak atau rumah tangga saya kelak.
    sempat saya merasa jijik terhadap suami, karena apapun yang dia lakukan terhadap saya itu selalu yang terbayang adalah perlakuan suami terhadap saya itu juga pernah suami lakukan terhadap selingkuhannya. inilah akibat dari saya mengadakan komunikasi dengan perempuan itu terlalu dalam….akibatnya otak dan tubuh saya menolak suami saya sejak saat itu. susah sekali untuk menormalkannya. karena suami saya menyudahi hubungan itu katanya dari tahun lalu…tetapi yang saya tau kan saat malam itu, akhir maret 2014, perempuan itu masih bbm suami (yang meminta password chat)….berarti menurut saya sampai saya pergoki bbm itu dan saat saya chat sendiri dengan perempuan itu, hubungan mereka sebetulnya masih berjalan hingga malam itu….hanya karena kepergok saja, mereka buru-buru menyudahi hubungan mereka dan terkesan agar saya puas…karena ternyata suami saya dan suami perempuan itu ada hubungan bisnis… sungguh memalukan!
    benar-benar tega mereka berdua merusak 2 rumah tangga dengan dalih mencari kebahagiaan diri…atau cita-cita rumah tangga yang sesuai keinginan mereka, sampai mereka khilaf… bagi saya itu bukan khilaf, kalau dengan sadar dilakukan dan terjadi berulang-ulang.
    biarlah cerita saya ini menjadi pelajaran buat semua. jika memang terjadi hal seperti ini pada kehidupan anda, bersikaplah positif, kelembutan dan doa akan menghancurkan semua tipu muslihat iblis dalam usahanya merusak rumah tangga.

  12. Baca ini, saya flaskback ke maret 2013, ternyata banyak cowo yg begitu. Selama gua naroh kepercayaan 100persen ke suami, bahkan saya merasa kasian ke cewe yg diselingkuhkan sama suaminya. Ternyata selama ini gua juga ga lebih baik dari mereka. Pada saat hamil anak ke dua, saya banyak kegiatan, sering lembur, serung sakit sakitan. Awal saya mulai curiga, pada saat saya denger dia jawab telepon, suaranya persis seperti waktu kami masih pacaran. Malamnya lihat suami tidur pulas sambil megang hp, saya baca sms nya. Selama ini alasan dia menghapus sms, karena dia bilang menuh menuhin unbox, ternyata takut sms dia kebaca sama saya. Dari pemBicaraan mereka sudah hmpir menjurus ke bertemu di ranjang di rumah cewe. Saya bener bener shock.. kepercayaan yg saya berikan ternyata sebegitu diinjak injak sama laki saya sendiri. Kontek mereka , saya tidak hapus. Saya tetap kasi keseMpatan mereka untuk berhuBungan, meskipun suami saya sudah sumpah ga akan kontek dia lagi. Saya pikir, banak sosmed yg bisa menghubungkan mereka lagi kalo memang mereka sudah tidak terpisahkan lagi. Saya belum sempat ketemu cewe nya. Tapi saya damai dengan suami saya. Cuman… kepercayaan yg ada tetap akan tidak se full dulu lagi. Suami saya lihat saya biasa biasa aja, tapi dia sama sekali ga tao, saya sering terbangun malam malam, ga bisa tidur, dan menangis ria, hanya karena keisengan sesaat dia. Belakangan dia komplain ke saya, mama uda ga sayang papa lagi, uda jarang mao dekat dekat papa. Saya sempat kaget, ternyata dia perhatikan juga sampai situ. Sampai sekarang, saya masih trauma untuk percaya ke dia lagi. Meskipun sayang ma dia, tapi rasa takut kecewa lagi, serasa menggalahkan semua rasa. Saya tidak tahu, huBungan kami akan beakhir di kapan, sampai mati atau sebelum mati, saya bukan seorang yg egois. Saya cuman berharap, jika seandainya terjadi lagi, jangan pake semBunyi, terangin ke istri, ceraikan istrinya baru jalanin huBungan baru. Jangan pake kata selingkuh. Sungguh perBuatan menyakitkan, apalagi sesama cewe.

  13. aku baru aja ngalamin… pas lg hamil anak pertama yg dah di nantikan slma 3th… pas usia khmilan 7bl… bisa dbyangkan gmn rasanya …. suami berkirim2 teks mesra via WA dgn tmn skntornya… marah,,, benci ,,,sedih n emosi jd satu… smp skrg pun aku msh ga bisa terima perbuatan suami.. ingin rasanya suatu saat aku membalasnya…

  14. Ladies, setahun berlalu sejak saya menuliskan hal ini, banyak masukan dan perkembangan yang terjadi. Kalau saya boleh sarankan tetaplah kita teguh pada tujuan membangun keluarga yang sakinah, fokus pada rasa cinta kita kepada suami dan buka mata kita kalau dia pun tetap kembali kepada kita walau sudah berbuat salah yang tidak terperi. Anggaplah suami kita tercinta terkena penyakit dan kita sebagai istri tentu berkewajiban untuk merawatnya sampai sembuh dengan penuh kasih sayang. Seperti halnya penyakit apalagi yang berat, butuh proses untuk sembuh dan sekali-sekali ada kambuhnya. Sediakan obatnya yaitu cinta dan asih sayang yang tulus dan keikhlasan dalam membangun bahtera rumah tangga yang kita idamkan. Buka pintu komunikasi yang selebar-lebarnya dan kesampingkan hati kita yang sempat berkeping-keping dan rasa jijik yang melanda, Kalau ada yang mengatakan cinta mengalahkan segalanya itu rasanya benar. Suami adalah belahan jiwa kita yang kalau dia menderita dan sakit tentu kita ikut merasakannya dan dengan segenap kekuatan membantunya bangkit lagi. Tempatkan diri kita sebagai yang waras dan kuat, bukan sebagai korban. Salam simpati saya untuk semua, hugs and kisses!

  15. Melihat begitu banyak komentar dari pihak perempuan, membuat saya tergelitik, demikian responsipnya para perempuan kalau isunya sudah mengarah seperti artikel yang ditulis, tapi apakah para peremppuan sadar bahwa ada laki-laki yang juga menjadi korban dan tersakiti? mungkin lelaki itu jauh lebih bersabar ketika mendapati istrinya flirting ataui bermesraan (meski hanya lewat bbm atau sms atau whatsapp dan medkom lainnya) dengan laki-laki teman sekantornya misalnya. Pernahkah kalian para wanita berfikir bahwa selama ini isu yang selalu digembar gemborkan oleh para feminis adalah kesetaraan gender sehingga terkesan bahwa hanya wanita yang selalu dirugikan, disakiti dan dianiaya, padahal banyak, sangat banyak malah perempuan yang selingkuh di kantor dan tempat kerja nya dengan teman sejawatnya dengan alasan yang dianggap wajar. intinya bahwa, laki-laki ataupun perempuan mempunyai peluang yang sama berselingkuh, bahkan menurut riset di US menunjukkan bahwa wanita pekerja yang selingkuh dengan teman sekantornya meningkat dengan sangat drastisnya, itu tidak lepas dari karakter perempuan sekrang dan gaya hidupnya yang memang permisiv dengan pergaulan tanpa batas di kantor…sekedar bahan intrispeksi bahwa tidak selalu perempuan yang jadi korban dan disakti, tetapi banyak juga laki2-laki yang tersakiti oleh perempuan2 yang seliongkuh atau affair atau flirting or whatsoever dengan teman sejawat.teman kantornya…salam jujur dan amanah buat semua

  16. Entah apa ya pikiran laki-laki itu kenapa tidak bisa setia dengan 1 pasangan, sedangkan bagi kaum wanita saya percaya kita menaruh komitmen pernikahan di hadapan Tuhan dan menjunjung tinggi janji setia, kita juga tidak sudi diduakan bukan? Dengan alasan bosan, sekedar iseng, sekedar chat dengan rekan bisnis, awal mula dari petaka akibat tak lagi ingat dengan komitmen pernikahan itu.
    Saya disini sebagai perempuan yang pernah hampir menjadi korban dari laki-laki yang sekedar ingin berkenalan lalu chat yang semakin intens hingga akhirnya dia mengajak bertemu, namun berkali-kali saya diberi peringatan sama Tuhan untuk tidak datang menemuinya, hingga akhirnya LDR ini di 1.5 tahun hubungan kami terjadilah pertemuan dengan keluarganya yang terpaksa saya penuhi karena saya menghormati pihak orang tuanya. Kami sudah membicarakan pernikahan, di hadapan keluarga, sahabat-sahabat dekatnya, dan keluarga besarnya. Hubungan yang ia nyatakan mau serius saya tanggapi dengan rasa hati yang mungkin lebih dari sekedar sayang, dan hampir saja saya melanggar batas hubungan di atas ranjang. Namun Tuhan menjaga saya untuk tidak melanggarnya dengan berbagai cara berkali-kali pun ia mau melakukan hubungan ada saja penghalangnya. Memang Tuhan itu luar biasa baiknya, disaat kita berserah sepenuhnya Tuhan akan membimbing kita tetap di jalan yang benar dan menunjukkan kebenaran dan kenyataan semua yang ingin saya ketahui. Setelah kami kembali ke kota kami masing-masing, rencana matang akan jadwal pernikahan dan kepindahan saya ke kotanya membuat saya hampir buta akan rasa rindu karena LDR. Jika bukan karena ada seorang wanita yang mengaku telah berhubungan dekat dengannya pada saat saya juga menjalani LDR ini, bahkan sampai setelah laki-laki itu berkomitmen di hadapan keluarga masih juga ia tinggal bersama dengan wanita itu. Saya dicontact wanita itu karena kecurigaannya akan perubahan sikap laki-laki itu, kami dengan hati yang sama-sama merasa tersakiti karena merasa sama-sama memiliki laki-laki itu. Dengan jelas saya katakan padanya untuk berdoa agar Tuhan tunjukkan jalan yang benar dan memaparkan kenyataan selebar-lebarnya. Saya pun dengan galau dan kalut tetap berdoa kepada Tuhan Allah Yang Hidup. Sungguh enteng laki-laki menganggap komitmen seumur hidup. Saat kebenaran terungkap, sungguh besar kasih setia Tuhan, saya dan wanita lain itu menyadari kebohongan demi kebohongan yang telah dilakukan laki-laki itu, Wahai para wanita jika merasakan ada yang tidak beres dengan tingkah laku pasangan, sebaiknya memang kita menghubungi wanita lain itu agar kebenaran terungkap.

    Saya merasa pedih sekali membaca kisah hidup para wanita yang telah mengalami ini saat pernikahan telah berjalan beberapa tahun, apalagi yang mengalami diduakan pada saat sedang hamil. Laknat, bejat sekali laki-laki itu disaat sang istri menopang beban fisik dan mental karena kehamilan, malahan berbuat di luar akal sehat dan imannya pada Tuhan.
    Semoga kita senantiasa berdoa pada Tuhan agar tetap berada di jalan yang benar dan orang-orang yang kita kasihi juga bisa berada di jalan yang benar.

  17. Saya adalah seorang pria beristri dengan 2 orang anak.

    Sepertinya tuduhan selingkuh banyak ditujukan kepada kaum pria ya… Seolah-olah pria itu paling bajingan di dunia. Padahal menurut berbagai sumber dan penelitian kasus perselingkuhan di banyak negara, mayoritas pelaku perselingkuhan adalah kaum wanita, 1 pria berbanding 3 wanita. Dan beberapa penelitian menyimpulkan hampir 100% perselingkuhan wanita itu tidak diketahui oleh pasangannya. Hal ini karena kaum wanita itu lebih peka atau insting tajam, lebih terorganisir & hati-hati, ahli dalam berkelit, pintar menutupi tanda-tanda selingkuh, pandai memutar balikan fakta, memanfaatkan emosi dan bisa memanipulasi air mata untuk memancing iba pasangannya.

    Saya pernah menjadi korban perselingkuhan istri dengan salah satu teman prianya beberapa tahun lalu. Sebelumnya pernikahan kami selalu harmonis meski tidak romantis. Namun saat sudah menginjak usia pernikahan tahun ke-15, saya menemukan anda yang janggal dari istri saya. Itu sejak istri saya tergabung dengan WA grup teman2 SMP-nya. Ia jadi keranjingan chatting dengan teman2 SMP-nya tersebut. Dari pagi sampai malam dia masih saja chating dengan teman2nya itu, baik di grup maupun jalur pribadi (japri).
    Istri saya jadi sering pulang lebih malam dari biasanya untuk bertemu teman2nya untuk makan malam bareng atau karaoke jika ada yg sdg berulang tahun. Dalam 3 bulan pertama, istri saya melakukan pertemuan dengan teman2nya secara berkelompok (pria & wanita) sebanyak 6-7 kali.

    Beberapa kali saya baca chat istri dengan seorang teman prianya dengan penuh kata “Yang/Ayang atau Beb/Beib. Dan ada chat dari pria itu yg bertanya apakah istri saya suka mimpiin dia apa ngga. Ada juga permintaan dari pria itu kpd istri untuk mengirimkan video hot.
    Saya sangat yakin, siapapun pasangan yang baca chating seperti tadi, baik suami maupun istri, pasti akan curiga, marah atau cemburu, dan yakin ada yg ngga beres dengan pasangannya, betul? Saat diinterogasi, istri saya mengelak segala tuduhan saya dan bersikukuh bhw pria itu hanya teman biasa. Tp beberapa minggu kemudian istri saya mengakui bhw pria tadi adalah mantan pacarnya saat sudah masuk dunia kerja. Pengakuannya ini makin menambah kecurigaan saya bhw istri saya bukan berteman biasa dgn pria tadi.
    Saya minta istri saya agar tidak lagi chating dgn kata2 mesra dan minta istri untuk menyampaikan kpd pria tsb agar melakukan hal yang sama untuk membuktikan bhw ia tdk memiliki hubungan lebih dgn pria tadi tp ia tdk mau mengikuti permintaan saya. Dia malah menuduh saya terlalu pencemburu dan norak sbb dia bilang ia melakukan itu hanya untuk urusan pekerjaan yg sedang ia lakukan dengan teman prianya tsb. Dia lebih marah kpd saya atas tuduhan saya terlalu pencemburu melebihi marahnya saya kpd istri karena dugaan perselingkuhan. Karena istri tdk mau melakukan permintaan tsb maka saya minta dipertemukan dengan pria tsb untuk membicarakan ketidaksukaan saya secara langsung, mengingat wanita yg dulu pernah jd teman di SMP-nya dan pernah jd pacarnya saat sdh bekerja, sekarang sdh memiliki suami.
    Akhirnya setelah beberapa kali bicara dengan istri, saya berikan pilihan keras kepadanya untuk tetap chat dgn teman prianya tsb dgn kata2 mesra tp tidak bersama saya lagi, atau tetap meneruskan rumah tangga tp meninggalkan kebiasaannya yg tdk saya sukai tsb. Alhamdulillah istri saya memilih meninggalkan teman prianya tsb dan sudah memblokir semua nomor kontak yg selama ini ia gunakan.

    Jadi kepada kaum wanita agar lebih objektif dalam mengemukakan pendapat, jangan menuduh bhw pria itu selalu jd pelaku dan wanita selalu jd korban.

Post Comment