Nasihat dari Ibu yang (Mungkin) Dapat Menyelamatkan Pernikahan Kita

Ditulis oleh: Saskia Elizabeth

Menjelang hari pernikahan biasanya selalu ada wejangan-wejangan dari ibu kita yang mungkin tetap kita ingat hingga detik ini. Seperti beberapa mommies di bawah ini.

Saat membuka-buka lagi album foto pernikahan, mengingat awal menikah biasanya banyak memori indah yang berseliweran di kepala saya. Dari sekian banyak memori, salah satunya adalah nasihat dari mama saya saat saya mau menikah dulu. Dan, tak hanya mama saya namun juga mama mertua yang juga memberikan masukan berharga untuk saya menjalani kehidupan pernikahan.

Mama saya berpesan “Jadi istri harus pintar, nggak hanya pintar ‘urus’ rumah, tapi juga harus pintar cari uang. Cari uang bukan untuk bersaing atau membantu suami, tapi untuk bekal diri sendiri nantinya.

Sedangkan mama mertua saya mengatakan “Jadi perempuan harus serba bisa. Bisa masak, bisa beberes, bisa urus orang (entah itu anak atau orang tua nantinya), bisa atur uang dengan baik, bisa hal-hal lain seperti menjahit, atau tahu cara mengatasi penyakit.”

Kombinasi dua nasihat ini saya ingat banget nget. Walau saya baru bisa masak dan mengenal bumbu-bumbu, dan bisa tahu obat alami dari suatu penyakit saat baru punya anak. Ternyata serba bisa itu is a must. Buat saya serba bisa itu sudah jelas bukan untuk impress suami atau anak, tapi juga sangat bermanfaat bagi saya pribadi.

Menjadi istri serba akan menjadi bekal saat (amit-amit) nanti suami akan meninggalkan kita terlebih dahulu, kalau suami atau anak kita sakit, saat nggak ada ART! Dan banyak lagi keuntungannya. Jadi saya bersyukur mendapat nasihat sederhana namun berharga ini. Saya pun penasaran, bagaimana dengan teman-teman saya yang lain. Apakah mereka juga memiliki nasihat andalan dari orang tua menjelang pernikahan? Dan ternyata ada, hehehe.

Nasihat dari orang tua

“Setiap ada masalah diselesaikan berdua, nggak usah cerita-cerita ke orang lain, pamali! Dan, kalau suami lagi marah coba dengarkan dulu, kalau suasana adem ayem baru gantian bicara.”

Nasihat yang tidak selalu bisa saya penuhi, karena rasanya susaaah sekali nggak menjawab suami saat suami lagi marah dan nggak curhat ke teman kalau habis berantem dengan suami. Tapi nasihat ibu memang benar karena beliau tahu saya orangnya tidak sabaran dan maunya opini saya selalu didengar duluan. Padahal ada waktunya kita harus memberikan waktu untuk pasangan marah. Bukan hanya kita saja yang mau didengar tapi pasangan kita pun juga.” - Sari, 34 tahun, 4 tahun menikah.

“Jangan pernah pergi meninggalkan rumah kalau lagi berantem sama pasangan.”

Mau bagaimanapun nyebelinnya suami kita. Nasihat ini melatih saya untuk bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan benar, bukan lari dari masalah.” - Fia, 37 Tahun, 12 tahun menikah.

“Sebagai istri jangan lupa selalu cium tangan suami dan tidurlah dengan kepala yang adem.”

Alhasil kalau sedang berantem saya maunya cepat-cepat menyelesaikannya, tidak pernah membiarkannya berhari-hari. Saya selalu tidur dengan hati tenang, nggak ada sisa-sisa kesal, penasaran, atau dendam. – Tasha, 33 tahun, 7 tahun menikah.

“Harus rajin bebersih.”

Kalau tidak sempat masak, masih banyak layanan delivery. Tapi kalau rumah bersih nggak bisa delivery. Duh, nasihat ini benar-benar melekat di kepala saya. Yang saya tahu rumah harus bersih dan rapih, karena kotor merupakan sumber penyakit dan berantakan adalah sumber stres dan sakit kepala saya. Suami happy karena rumah selalu bersih dan rapih sehingga jadi betah di rumah terus! – Puri, 31 tahun, 7 tahun menikah.

“Apapun masalah pertengkaran kalian sebagai suami istri, tolong tetap jaga tata krama dan menghargai sesama. Semarah apapun jangan mengucapkan kata-kata kasar dan kotor pada pasangan. Apapun kesalahan pasanganmu apabila bisa dimaafkan ya maafkan, kalau tidak bisa dimaafkan yang relakan saja tapi bukan berarti dia tidak dihargai.”

Dengan nasihat ini saya selalu menjaga mulut dan tangan agar tidak melewati batas. Menahan amarah itu sangat susah, tidak jarang saya mau lempar handphone ke pasangan, tapi nasihat ibu selalu ada di kepala saya. Thanks mom! - Alisa, 40 tahun, 15 tahun menikah.

“Harus tetap cantik setiap hari. Karena nggak ada yang mau melihat pemandangan nggak sedap, begitu juga dengan perempuan yang berpenampilan berantakan. Suami tidak sakit mata, anak juga tidak akan mencontoh. Selalu jadi diri kamu yang terbaik.”

Simple banget ya nasihat ibu saya. Secara saya paling malas dandan, pakaian ke kantor hanya celana dan kemeja lalu sisanya saya hanya pakai kaus oblong dan celana saja. Rambut juga dililit asal. Tidak pernah dandan. Saya juga bingung kenapa suami saya mau hahaha…tapi saya mencoba berubah sih setelah menikah. Rambut lebih rapih dan terawat. Baju ya sesekali pakai yang manis. Ternyata berantakan is not cool! - Diana, 28 tahun, 2 tahun menikah.

Saya jadi berpikir, kira-kira kelak saat Skyla (anak pertama saya) akan menikah, nasihat apa yang akan saya berikan kepadanya ya?!

Kalau Mommies, mungkin mau gantian memberikan bocoran mengenai nasihat yang Mommies dapat dari ibu atau mertua?


Post Comment