5 Alasan Mengapa Penting Berdamai dengan Mertua

Jangan langsung memutar bola mata ah saat membaca judul tulisan ini. Karena memang penting kok memiliki hubungan yang baik dengan mertua. Ini 5 alasan mengapa kita perlu berdamai dengan mertua.

Hubungan mertua dengan menantu memang tidak selalu (kalau tidak mau dibilang jarang) harmonis. Apalagi antara mertua perempuan dengan menantu perempuan. Jarang saya dengar teman-teman saya yang mengeluh mengenai ayah mertuanya. Sebagian besar mengeluhkan tentang hubungan mereka dengan ibu mertua. Mungkin karena yang namanya sesama perempuan itu, sifatnya nyaris sama ya… sama-sama nyinyir, ahahaha.

Hubungan saya sendiri dengan ibu mertua membutuhkan waktu cukup lama sampai kami berada dalam tahap baik-baik saja. Berada dalam kategori baik, itu sudah cukup bagi saya. Baik dalam artian kami saling menghargai satu sama lain dan memahami teritorial kami masing-masing. Dan memang, kehadiran anak memudahkan proses ini semua. Ini 5 alasan saya mengapa penting berdamai dengan mertua:

Berdamai dengan mertua

1. Suatu saat kita pun akan menjadi mertua dari seorang menantu
Setelah mempunyai anak, saya jadi berpikir bahwa suatu saat nanti saya juga akan menjadi mertua ketika anak-anak saya menikah. Masih lamaaaaa sih memang, tapi toh kondisi itu akan saya alami juga. Saya jadi membayangkan apakah saya akan senang jika kelak saya memiliki menantu seperti saya sekarang ini (mak jleb….!). Hayooo bagaimana dengan Anda? :D

2. Agar suami kita tidak merasa harus memilih di antara dua perempuan yang dia sayangi
Seorang teman saya  pernah bercerita kalau dia mengultimatum suaminya untuk membela dia atau ibunya. Wow!!! Kayaknya, sekesal-kesalnya saya, saya tidak pernah sih melakukan hal itu. Kalau posisi di balik, mau nggak kita diminta memilih antara ibu dengan suami? Pasti nggak kan! Karena bagaimana pun, saya yakin, suami kita memiliki rasa sayang dan cinta untuk kita sebagai isterinya, dan sudah pasti kepada ibunya. Jangan tempatkan suami dalam situasi yang kita sendiri tidak ingin berada di situasi tersebut.

3. Remembering they raised and love the person you love
Saat kita menikah dengan suami kita, itu pasti karena dasar rasa cinta, iya nggak? Kebayang dong kalau tidak ada ibu mertua, belum tentu suami kita lahir ke dunia dan kita bisa bertemu dengannya. Beliau yang telah membesarkan suami kita hingga menjadi seorang pria yang layak kita cintai dan layak menjadi suami kita (tentu dengan segala syarat kelayakan menjadi suami dong). Jadi mau semenyebalkan apapun ibu mertua, poin ini rasa-rasanya sudah cukup membuat kadar sabar kita seharusnya meningkat.

4. Ingat saja, bahwa beliau tidak membenci kita, beliau hanya takut ‘kehilangan’ anaknya
Kadang, memang ada ibu mertua yang sifat maupun sikapnya cukup ajaib :D. Seperti yang teman saya alami. Ibu mertuanya selalu mengkritik apa yang dia masak, menganggap kondisi rumahnya selalu berantakan dsb. Setelah teman saya ngotot ingin berbicara empat mata dengan si ibu mertua, baru terungkap kalau ibu mertua ini ingin tahu kemampuan menantunya dalam menjaga anaknya (alias suami dari teman saya) dan memastikan beliau tidak salah memilih menantu, walaupun mungkin caranya salah atau sedikit menyebalkan. Well, jika kelak anak kita mencari pasangan, pasti kita juga ingin yang terbaik untuk anak kita, kan?

5. Dan, pada akhirnya, beliau adalah orang tua kita juga
Pernikahan di Indonesia berarti menerima seluruh paket yang dibawa oleh pasangan, termasuk di dalamnya adalah orang tuanya. Dan ketika kita telah menikah, secara otomatis orangtua suami juga menjadi orangtua kita juga. Nggak perlu penjelasan lebih lanjut kan untuk poin yang satu ini?

Intinya sih, jangan langsung memasang jarak dan berpikir kalau semua ibu mertua itu menyebalkan. Nggak semua kok. Kalau memang menyebalkan, coba deh cari tahu alasan mengapa beliau bersikap seperti itu. Kadang di balik sesuatu yang tidak terlihat, banyak hal yang memang perlu kita pahami.

If you have a good relationship with your in-laws, what has been your secret to success?