banner-detik
CAREER

Mengenal Generasi Y, dan Cara Menghadapinya

author

?author?15 Feb 2016

Mengenal Generasi Y, dan Cara Menghadapinya

Siapa saja sebetulnya yang termasuk gen Y? bagi Anda pemimpin dan rekan kerja gen Y, cari tahu cara menghadapinya.

Mengenal Generasi Y, dan Cara MenghadapinyaGambar dari brw.com.au

Ketika terjun ke dalam dunia pekerjaan, maka kita akan dihadapkan dengan beberapa karakter rekan kerja. Misalnya saja nih, ada yang sedang menghadapi rekan kerja menyebalkan, kalau saya sih nggak mau ambil pusing sama tipe yang seperti itu, sebisa mungkin saya hanya fokus pada pemecahan masalah. Ya namanya juga beda kepala ya, Mommies – wajar saja jika timbul masalah dari perbedaan pola pikir antara satu karyawan dengan karyawan lainnya.

Hal tadi berkaitan erat dengan rekan kerja yang datang dari berbagai macam latar belakang usia dan pengalaman. Mommies pernah mendengar istilah generasi Y (gen Y)? menurut Dian Puty Oscarini, Psi Praktisi SDM & Psikolog, Gen Y itu ada kelompok usia yang lahir, setelah tahun 1982-2000.

Mengenal Gen Y

Jadi nih Mommies, diyakini kelompok-kelompok dengan rentang lahir periode tertentu, atau dalam dunia psikologi disebut dengan cohort yang sama, maka akan punya karakter yang sama pula. Contoh penggambarannya seperti ini, mereka yang lahir tahun 1941 sampai 1945 pada masa perang dunia ke-II, pasti pernah merasakan trauma perang, dan pendidikan yang masih sangat susah. Tapi di sisi lain, nasionalismenya mereka tinggi sekali. Dan daya juang mereka akan lebih tinggi. “Inilah pandangan psikologi perkembangan tentang cohort. Jadi, pengalaman yang sama akan membentuk generasi yang sama pula.” Tutur Dian.

Karena gen Y lahir di era yang sudah tergolong melek teknologi, maka salah satu karakter yang muncul adalah mereka akan terbisa cepat, karena mengerjakan segala sesuatu akan lebih mudah menggunakan teknologi. “Sebenarnya mereka adalah pribadi yang menyelesaikan sesuatu dengan cepat, paling tidak maunya mereka cepat. Tapi pertanyaan, apakah akurat? Mengenai akurasi ini, mereka sebenarnya tidak terlalu sabar untuk bersusah-susah, jadinya ya akurasinya memang harus dicek oleh pihak lain.” Jelas Dian memberikan salah kiat menghadapi gen Y.

Namun di sisi lain mereka terbuka dengan informasi baru, dan sumber informasi mereka beragam. Sehingga dalam problem solving biasanya mereka akan lebih bisa mengajukan cara yang lain dari biasanya. Dalam berkomunikasi mereka akan lebih terbuka, kata Dian dalam praktik komunikasi mereka tidak takut. Termasuk misalnya, pertanyaan seputar gaji. Nah, hal ini yang terkadang membuat seorang atasan kaget menerima pertanyaan semacam itu.

Menghadapi Gen Y

Bagi Mommies yang kebetulan seorang atasan dan memiliki tim yang berasal dari gen Y, Dian mengingatkan tidak perlu terlalu kaget ya. Karena ya itu tadi, mereka lahir di zaman yang serba cepat dan terbuka, maka hal ini juga terbawa pada karakteristik dalam bekerja. Dian memberikan beberapa kiatnya untuk Anda:

  • Pertama terbuka dan siap untuk menggunakan gaya si gen Y ini, karena pemimpin itu harus bisa adaptasi, bukan anak buahnya yang diandalkan untuk beradaptasi. Dan yang jelas, pemimpin generasi gen Y, harus bisa memberikan kejelasan kepada mereka. Kejelasan apa yang mereka butuhkan, dari mulai jobdesk yang jelas, KPI, hingga reward yang akan didapatkan. Intinya apa saja yang diharapkan oleh manajemen. Hal-hal ini disampaikan saja, karena akan mempermudah proses bekerja sama dengan gen Y.
  • Jangan berharap generasi Y punya pola pikir yang sama, artinya begini – sebagai pemimpin yang (mungkin) sudah terbiasa learning by doing, maka tidak dengan generasi Y – mereka butuh penjabaran job desk yang jelas hitam di atas putih. Mereka lebih senang sesuatu yang terstruktur. Karena mereka akan sangat memperhatikan timbal balik yang mereka dapatkan kelak.
  • Sementara itu bagi Mommies yang berkolega dengan gen Y, juga cukup mudah kok menghadapi mereka. Ini dia di antaranya:

  • Beritahukan dengan jelas, apa yang harus mereka penuhi sebagai rekan kerja.
  • Mesti lebih terbuka dengan gayanya gen Y, mereka biasanya tidak perlu basa-basi. Mareka menginginkan jelas dari awal.
  • Dan mengenal dunia mereka, misalnya cari tahu akan istilah-istilah dalam berkomunikasi yang kerap mereka gunakan.
  • Semoga informasi tadi bisa menjadi masukan berharga bagi Mommies, supaya bisa lebih bersinergi dengan gen Y.

    Share Article

    author

    -

    Panggil saya Thatha. I’m a mother of my son - Jordy. And the precious one for my spouse. Menjadi ibu dan isteri adalah komitmen terindah dan proses pembelajaran seumur hidup. Menjadi working mom adalah pilihan dan usaha atas asa yang membumbung tinggi. Menjadi jurnalis dan penulis adalah panggilan hati, saat deretan kata menjadi media doa.


    COMMENTS


    SISTER SITES SPOTLIGHT

    synergy-error

    Terjadi Kesalahan

    Halaman tidak dapat ditampilkan

    synergy-error

    Terjadi Kesalahan

    Halaman tidak dapat ditampilkan