7 Tanda Bahwa Kita Bahagia

Apa yang membedakan antara orang yang benar-benar bahagia dengan orang yang hanya pura-pura bahagia? Ini 7 tanda bahwa kita bahagia.

Beberapa hari lalu saat nyetir dari rumah ke kantor sambil mendengarkan siaran sebuah radio, saya mendengar penyiarnya bilang kalau untuk pura-pura bahagia itu dibutuhkan banyak sekali energi, hahaha. Ironis ya, untuk bahagia aja kita harus pura-pura. Mungkin memang lebih mudah begitu sih, daripada saat kita menunjukkan bahwa kita nggak happy dan kemudian banyak orang bertanya, kita malah capek untuk menjelaskannya. Belum tentu juga mereka yang bertanya itu benar-benar peduli. Antara peduli sama sekadar mau tahu itu bedanya tipiiiiiis tsaaaay :D.

Mungkin hanya mereka yang benar-benar dekat sama kita yang tahu bahwa senyum di bibir kita nggak sejalan dengan ‘senyum’ di mata kita (Ihiiiiks). Ternyata, menurut wholisticfitliving.com ada 7 kebiasaan yang sering dilakukan oleh mereka yang benar-benar bahagia. Apakah Anda melakukan semuanya?

1. Berani mengatakan TIDAK
Nah ini dia. Di mana-mana, kalau kita selalu nggak enak hati sama orang lain, yang ada lama kelamaan kita yang akan ‘diinjak-injak’ sama orang lain. Sebagai manusia (bukan keset) tentu saja kita nggak mau ini terjadi kan. Orang yang berbahagia tahu mana yang harus mereka utamakan, mana yang tidak bisa mereka kerjakan dan mereka menunjukkan hal itu, tidak peduli siapa yang menjadi lawan bicaranya. Jika Anda merasa bahwa selama ini Anda termasuk dalam kategori Yes Maam… mungkin sudah saatnya Anda menjadi pribadi yang sedikit egois!

GIVE ME SPACE

2. Berani membuat goal yang ambisius
Benar sih pepatah yang mengatakan “Bermimpilah setinggi-tingginya agar kalau kita jatuh kita masih bisa meraih bintang.” Kalau tujuan hidup kita tidak tinggi, maka saat gagal kita tidak akan mendapat apapun. Dengan merencanakan sesuatu yang ambisius, kita akan terpacu untuk meraihnya.

3. Berhenti membandingkan hidup dengan orang lain
Akan selalu ada orang yang lebih pintar dari kita, lebih kaya dari kita, lebih cantik, lebih keren dan seterusnya. Sibuk membandingkan diri hanya akan membuat kita semakin tertekan. Kalau mau, bandingkan dengan diri sendiri. Maksudnya? Misalnya, di akhir tahun 2016 coba kita bandingkan kondisi kita saat itu dengan kita di tahun 2015. Lebih baikkah? Lebih burukkah?

4. Membiasakan diri cukup tidur
Semakin kita tidak bahagia biasanya semakin sulit kita untuk tidur, karena terlalu banyak yang dipikirkan. Jadi, orang yang bahagia biasanya memiliki waktu tidur yang cukup dan berkualitas. Ada banyak cara kok membuat tidur menjadi lebih nyenyak.

5. Menyeimbangkan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi
Pernah melihat image yang mengatakan bahwa bekerja lembur terus menerus itu bukan wujud loyal pada perusahaan, tapi bukti nyata kalau kita kurang pandai menentukan skala prioritas. Benar sih yang namanya pekerjaan itu pasti nggak aka ada habisnya kalau diikutin terus menerus. Jadi, sebelum hidup kita ‘terkubur’ dengan tumpukan pekerjaan dan sadar-sadar kita telah kehilangan waktu untuk diri sendiri, coba kita belajar untuk menentukan skala prioritas. Selama kita tetap menyelesaikan tugas sesuai tenggat waktu dan ekspektasi perusahaan, harusnya sih bisa-bisa aja.

6. Mudah tertawa
Jumlah tawa antara orang dewasa dengan anak-anak sangat jauuuuuuh berbeda. Semakin dewasa seseorang semakin jarang ia tertawa. Kenapa begitu? Karena kita terlalu serius melihat hidup. Sibuk dengan tujuan hidup sampai lupa memerhatikan hal-hal ringan di sekitar kita yang sebenarnya lucu. Padahal ya, hanya dengan tertawa kita sudah menyumbang cukup besar untuk kesehatan kita. Seperti yang sudah pernah ditulis oleh Adis, mengenai manfaat tertawa. Buat saya pribadi, tertawa semacam terapi untuk meringankan beban kalau dada sudah terasa sesak dengan masalah. Jadi jangan pelit untuk tertawa mulai sekarang (Talk to my self :D).

TERTAWA (2)

7. Tidak pelit untuk memberi
Saya tidak bicara mengenai uang di sini, karena kalau sudah ngomongin tentang memberi, banyak hal kok yang bisa kita lakukan tanpa harus melibatkan uang. Nggak punya uang untuk berbagi? Kita bisa memberi waktu kita untuk menemani sahabat yang sedang berduka. Kita bisa memberi tenaga kita untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Kita juga bisa memberi pemikiran kita jika rekan kerja kesulitan dengan pekerjaan yang dilakukannya. Intinya lebih kepada rela hati untuk berbagi.

Jadi, dari ketujuh hal ini, poin mana yang sudah Anda lakukan, moms?