Belajar Jadi Perempuan Egois Itu Perlu

Sifat egois seringkali dinilai sebagai sesuatu yang berdampak negatif, padahal ada kalanya sifat yang satu ini membawa keuntungan buat kita.

Nggak tahu kenapa, ketika mendengar kata egois, banyak orang yang lantas berpikir dengan sesuatu yang sifatnya negatif. Tapi, sadar nggak, sih, kalau sebenarnya egois ini seperti dua sisi mata pisau, semua tergantung bagaimana kita mengendalikannya. Jadi, sebenarnya egois nggak selalu salah. Ada kalanya, kok, kita perlu bersikap egois.

belajar egois

Bisa dibilang, saya ini masuk dalam kategori ‘people pleaser’, orang yang serba nggak enakan karena sulit untuk menolak permintaan orang lain. Ndilalahnya saya pun ketemu jodoh dengan tipe serupa. Suatu kali saya sempat ngambek ke suami lantaran dirinya sering kali masuk kerja dengan sift malam ditambah lagi saat akhir pekan pun jarang libur. Alasanya, karena nggak enak dengan teman satu tim-nya. Akibatnya, ada kalanya hal ini memicu pertengkaran.

Nggak bisa dipungkiri, ya, dalam kehidupan ini kita sering kali dituntut untuk memahami  dan memperhatikan kepentingan orang banyak. Dari kecil saya memang sudah terbiasa dididik oleh orangtua untuk melatih diri melakukan hal kebaikan, tidak bersikap sesuka hati sehingga merugikan orang lain. Sebenarnya pola asuh seperti ini memang tidak salah. Setelah punya anak, saya pun menerapkan hal yang sama dan berharap anak saya tumbuh menjadi anak yang menyenangkan dan disukai oleh banyak orang.

Masalnya, nih, ketika kita ingin menyenangkan dan membahagikan  orang lain, kita jadi mengalahkan keinginan pribadi. Padahal, kondisi seperti ini tentu bisa bikin kesal sendiri. Ada riset psikologi yang membuktikan kalau bahwa keharusan mendahulukan orang lain menimbulkan kejengkelan. Oleh karena itulah, saya jadi tambah yakin kalau kalau nggak ada salahnya belajar bersikap egois. Syaratnya, kita memang harus bisa menakar tingkat egois sehingga nggak kebablasan. Ada beberapa alasan kenapa memang belajar menjadi egois itu perlu

Menjadi egois tidak memalukan.

Mungkin, ada baiknya kita harus mengubah pola pandang yang mengatakan kalau egois itu merupakan hal yang buruk. Memang, sih, kalau merujuk dari kata egois yang berarti sikap (kelakuan) yang mementingkan diri sendiri atau menganggap diri sendiri lebih penting daripada orang lain, sifat ini terlihat begitu buruk. Tapi, percaya, deh, belajar untuk bisa bersikap egois kadang juga perlu. Kalau kita termasuk orang yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain, cobalah periksa hari sendiri. Jangan-jangan hati kita ini meyuarakan orang lain? Jangan-jangan pilihan yang dipilih bukan yang diinginkan diri sendiri? Biar bagaimana pun, kita harus berbahagian dengan pilihan yang diambil kan? Termasuk pilhan untuk menjadi ibu bekerja.

Membuat lebih bahagia.

Kalau kita selalu menempatkan keinginan orang lain di atas diri sendiri, tent saja bisa mengahalangi apa yang inginkan. Singkatnya, kita jadi tidak diri sendiri. Percaya, deh, ketika kita mencoba untuk memuaskan orang lain, tentu bisa membuat frustasi, kecewa, dan tertekan. Dengan menjadi egois, kita dapat membuat diri menjadi lebih baik. Biar bagaimana pun, rasanya mustahil apabila kita berharap bisa menyenangkan hati semua orang.

Perhatikan kebutuhan sendiri.

Ketika memperhatikan kebutuhan orang lain, termasuk kebutuhan anak dan kebutuhan suami, sudahkah kita perhatikan kebutuhan diri sendiri? Mungurus kebutuhan diri sendiri ini bukan berarti mengabaikan kepentingan orang lain. Kalau kita sudah bisa melakukan hal ini, rasanya kita sudah bisa jadi oarang yang egois dalam takaran yang pas.

Berikan kalau diminta.

Belum lama ini seorang teman curhat ke saya, katanya ia merasa kesal dan kaget lantaran ada salah satu temannya yang mengatakan dirinya tidak tahu diri. “Gue sebel banget, deh, masa tahu-tahu dia bilang gue ini teman yang nggak tahu diri? Katanya, waktu gue susah dan kesulitan secara finansial, dia bersedia bantu dengan senang hati. Padahal, gue sama sekali nggak mengharapkan bantuan dari dia. Kalau gue tahu dia bantu gue karena berharap gue balas budi, bantuannya juga nggak akan gue terima.” Mendengar curhatan teman saya ini saya cuma bisa tersenyum dan menimpali seadanya. Tapi dari sini saya pun semakin belajar, kalau kerelaan membantu adalah hal yang luar biasa  untuk dilakukan. Sikap rela membantu ini juga harus sejalan dengan sikap toleransi  yang sangat tinggi. Yang perlu diingat adalah, tidak mungkin kita menyenangkan semua orang.

Bagaimana, egois nggak selamanya negatif kan?