Menjawab Pertanyaan Tentang Seks Dari Anak

Ditulis oleh: Nayu Novita

Suka keringat dingin kalau si kecil mengajukan pertanyaan tentang seks? (Saya sih pernah beberapa kali) Coba lihat cara menjawab 10 pertanyaan tentang seks dari anak. 

Menampung pertanyaan dari si kecil adalah “makanan” sehari-hari bagi para orangtua. Meski sebagian besar mudah dijawab, ada tipe pertanyaan tertentu yang sering bikin saya dag-dig-dug dan merasa serba salah. Yak, betul, itu adalah ketika si kakak dan si adik di rumah mulai bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan… seks!

Saya sempat merasa galau dan bingung mencari jawaban saat si kakak bertanya mengenai, “Apa itu diperkosa?”—ketika ia mendengarnya dari siaran berita televisi. Atau, menjelaskan definisi “seksi” kepada seorang anak TK yang mendengarnya dari penggalan lagu di radio. Tapi saya juga tahu kalau anak-anak ini butuh dijawab, jangan malah saya sok nggak dengar atau mengatakan “Anak kecil belum boleh tahu jawabannya.” Lah, kalau mereka malah sibuk cari tahu sendiri, bisa berabe kan. Karena bagaimanapun memang edukasi seks seharusnya diberikan oleh orangtua. Dan untuk urusan yang satu ini, saya nggak puas kalau hanya sharing dengan sesama ibu, saya butuh jawaban yang pasti bagaimana menghadapi kondisi seperti ini.

Nah, biar nggak salah jawab dan memberikan anak-anak pemahaman yang keliru, saya bertanya kepada psikolog anak Vera Itabiliana tentang cara yang tepat untuk menjawabnya. Ini beberapa di antaranya:

Menjawab pertanyaan tentang seks dari anak

*Image dari kaltura.com

1. Dada ibu, kok, besar?
Jelaskan kepadanya bahwa payudara yang membesar adalah ciri-ciri seorang perempuan yang sudah mulai dewasa. Jelaskan juga bahwa fungsi payudara adalah untuk menghasilkan ASI buat adik bayi—termasuk untuk dirinya ketika dia masih bayi. Menyusui adalah tugas Ibu, bukan Ayah. Itu sebabnya payudara laki-laki yang sudah dewasa tidak besar seperti payudara perempuan.

2. Ayah punya penis, tapi kok ibu tidak punya?
Katakan kepadanya bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam dua jenis yang berbeda, ada laki-laki dan ada perempuan. Untuk membedakannya, Tuhan memberikan ciri-ciri pada tubuhnya sebagai berikut: penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan. Kala menyebut alat kelamin, gunakan istilah yang benar, ya Mom. Misalnya, hindari menyebut penis sebagai “burung”. Ini supaya anak tidak merasa bingung memaknai istilah ini di masa depan.

3. Kenapa penisku suka berdiri?
Tanyakan kapan biasanya si kecil mendapati penisnya berdiri. Jika ia menjawab setiap pagi, maka kita bisa menjawabnya dengan memberikan analogi ketika anak bangun tidur di pagi hari. Seperti kita, penis juga “bangun tidur” setiap pagi. Ajari anak untuk tidak memegangi penisnya yang berdiri, karena akan kembali normal dengan sendirinya. Jelaskan dari sisi kesehatan dan kebersihan bahwa penis hanya perlu dipegang pada saat buang air kecil. Misalnya, kalau sering dipegang-pegang nanti penis bisa luka sehingga akan sakit ketika pipis.

Terus bagaimana kalau anak mengaku penisnya berdiri ketika ia melihat perempuan cantik? ;) Nah, kalau seperti ini, jawablah dengan menjelaskan bahwa tubuh kita suka bereaksi terhadap apa yang kita lihat atau dengar. Misalnya, kita tertawa pada saat ada yang lucu. Penis juga bisa bereaksi terhadap hal-hal tertentu. Selain karena kedua hal itu, jelaskan pula kepadanya bahwa penis pun bisa berdiri ketika ia sedang ingin buang air kecil.

4. Aku ini datang dari mana?
Penjelasannya bisa seperti ini. Ketika laki-laki dan perempuan sudah dewasa, saling menyayangi, dan sudah menikah, mereka akan minta diberikan anak oleh Tuhan. Lalu, Tuhan akan meletakkan bayi yang masih kecil sekali ke dalam perut ibunya. Kenapa perut ibu, bukannya perut ayah? Karena di dalam perut perempuan ada tempat untuk menyimpan bayi yang namanya rahim. Di dalam rahim ini, bayi lama-kelamaan tumbuh membesar dan setelah 9 bulan baru siap untuk dilahirkan.

Tetapi jangan lupa, kita juga harus menyiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan yang lebih mendetail tentang hal ini, dari anak yang sudah lebih besar. Siapkan diri untuk menjelaskan secara bertahap sesuai pertanyaan anak. Misalnya, untuk menjelaskan hingga tahapan bagaimana sperma dan sel telur bertemu di dalam rahim.

Biasanya, saat hamil anak kedua, si kakak juga suka bertanya nih, “Kok mama bisa hamil?” Daripada mengarang bebas dengan menjawab kalau adik bayi ini dibawa burung Bangau dan diletakkan di perut, mending cari tahu jawaban yang benar apa.


Post Comment