Keluarga Siaga Bencana, Investasi yang Tidak Kalah Penting

Sadar bahwa Indonesia adalah negara yang rawan bencana alam, sudahkah membuat kita menjadi keluarga yang siaga jika terjadi bencana?

Suatu hari, saya dan anak saya sedang menonton berita di televisi. Kebetulan, sedang ditayangkan kabar tentang gempa yang terjadi di sebuah daerah. Anak saya kontan bertanya, “Gempa itu apa, sih, ma?”

Mengingat usianya yang baru 5 tahun, saya berpikir sebentar sebelum menjawab dengan singkat namun (kalau bisa) sejelas mungkin. Tapi, rupanya penjelasan saya tentang gempa malah membuatnya semakin ingin tahu. Otomatis, daftar pertanyaannya juga semakin panjang.
“Di rumah kita bisa gempa nggak, ma?”
“Kalau kita lagi tidur terus gempa, gimana?”
“Kalau gempa, boleh ngumpet di lemari, nggak?’
Daaaan seterusnya.

Ada hal baik yang saya petik dari diskusi (panjang-lebar) kami tentang gempa sore itu. Yaitu bahwa saya perlu menyiapkan anak menghadapi bencana. Terlebih jika melihat fakta bahwa kami tinggal di Indonesia yang terbilang rawan bencana. Tapi, jika ditelaah lebih seksama, bencana seperti banjir dan kebakaran juga rawan terjadi di mana saja. Karenanya, akan lebih bijaksana jika kita sebagai orangtua mulai meningkatkan kesadaran anak agar siaga menghadapi bencana.

tumblr_lzxc0ez3w91qhdd1r

*Gambar dari sini

Selanjutnya, saya pun melakukan riset kecil-kecilan, terutama tentang bagaimana mengajarkan kesiapan menghadapi bencana pada anak, sekaligus untuk diri sendiri. Ternyata, kuncinya terletak pada beberapa langkah berikut.

1. Susun rencana untuk menghadapi bencana

Yap, sebagai orangtua, kita perlu menyusun rencana agar bisa tetap aman jika terjadi bencana, juga bagaimana agar kita bisa tetap nyaman, bersih, dan sehat sesudahnya. Ada baiknya kita mengajak anggota keluarga duduk bareng untuk membahas rencana jika terjadi bencana. Sadari bahwa bencana kerap terjadi tanpa pemberitahuan terlebih dulu, dan kemungkinan seluruh anggota keluarga tidak sedang berada di tempat yang sama. Bagaimana kita bisa saling menghubungi satu sama lain? Di mana bisa saling bertemu? Bagaimana cara keluar dari rumah jika terjadi kebakaran? Dari situ bisa disimpulkan bahwa penting untuk membuat rencana dari sekarang, yang meliputi:

- Family communication plan: Bagaimana mengabarkan sesama anggota keluarga lain tentang kondisi masing-masing. Supaya informasi tidak tumpang-tindih, pilih satu orang untuk dihubungi oleh setiap anggota keluarga.

- Meeting point
Buat denah atau jalur evakuasi jika terjadi kebakaran; usahakan ada dua cara keluar dari setiap ruangan, dan lakukan fire drill atau latihan evakuasi dua kali setiap tahun. Sepakati lokasi aman yang bisa digunakan sebagai tempat berkumpul jika terjadi bencana. Setelah ditentukan, lakukan latihan menuju tempat aman berkumpul itu.
Sepakati lokasi di luar kawasan tempat tinggal kita untuk mengantisipasi kemungkinan kita tidak bisa berkumpul di rumah. Lakukan latihan menuju tempat itu dari sekolah anak, dari tempat les atau ekskul anak, dan dari rumah saudara atau teman dekat.

- Daftar nomor telepon penting:
Siapkan informasi kontak setiap anggota keluarga dan lokasi pertemuan di dalam tas anak, di dompet, di dalam buku catatan sekolah anak atau di handphone jika anak sudah menggunakannya.
Ajak anak mengingat beberapa nomor telepon penting, contohnya:

  • Pemadam kebakaran 113
  • Polisi 110
  • Ambulans 118
  • Tim SAR 115

2. Buat emergency kit atau persediaan untuk kondisi darurat

Kita juga perlu menyusun skenario, katakanlah apabila listrik mati sehingga kulkas tidak bisa dipakai. Pun jika tidak memungkinkan untuk memasak, tidak bisa mendapat air bersih, dan sebagainya. Dari situ, kita bisa menyiapkan emergency kit sebelum bencana benar-benar terjadi. Setidaknya kita bisa memiliki persediaan makanan, air, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya untuk tiga hari.

Isi emergency kit bisa terdiri dari barang-barang berikut:

  • Makanan yang tidak mudah basi (buah kering, selai kacang, biskuit, dsb)
  • First aid kit
  • Baterai cadangan
  • Korek api yang ditaruh dalam tempat waterproof
  • Sikat gigi, pasta gigi, sabun
  • Piring kertas, gelas dan alat makan plastik, tisu
  • Air – sebanyak setidaknya satu galon per orang untuk sehari
  • Radio dengan tenaga baterai
  • Sleeping bag atau selimut hangat untuk setiap anggota keluarga
  • Senter
  • Peluit atau cara memberi sinyal untuk meminta bantuan
  • Pembuka kaleng manual
  • Peta kawasan tempat tinggal
  • Persediaan untuk kebutuhan hewan peliharaan
  • Persediaan untuk kebutuhan bayi (susu formula, popok)

3. Ketahui apa yang perlu dilakukan
Saya pernah mendengar bagaimana orang Jepang mewariskan cerita tentang bencana tsunami secara turun-menurun pada anak-anaknya. Pelatihan mengenai bencana juga kerap dilakukan di sekolah dan kantor. Kita bisa meniru kesiapan mereka dengan cara-cara berikut ini.

- Membuka diskusi tentang bencana dengan anak
Ceritakan pada anak tentang tanah yang bergoyang karena gempa, atau ombak yang menggulung tinggi saat terjadi tsunami. Ceritakan juga bahwa binatang sangat peka dan bisa merasakan bencana alam sebelum terjadi. Ada kemungkinan cerita tentang bencana dapat membuat anak merasa tidak nyaman atau bahkan takut. Maka, gunakanlah cara yang menyenangkan dan mudah diingat anak seperti lewat dongeng atau role play. Tak hanya itu, dengan buku cerita bergambar atau bermain, kita bisa menjelaskan pada anak apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana.

- Ajak anak mengenal situasi di sekitar rumah dan sekolah
Saat menyusun jalur evakuasi di dalam rumah, anak perlu mengenali dengan baik kondisi rumah. Mengenali lingkungan sekitar juga penting sehingga saat terjadi bencana, anak dapat lebih waspada dan tahu bagaimana bertindak. Ajak anak-anak berjalan di sekitar rumah untuk tahu di mana ada bangunan, tiang listrik, saluran got, pohon-pohon tinggi, atau sungai, serta bagaimana kontur wilayah sekitar.

- Safety steps
Mommies mungkin pernah melihat tayangan iklan kesiapan bencana di televisi? Langkah-langkah keselamatan juga penting untuk diajarkan pada anak, terutama jika ia sedang berada di sekolah atau tempat umum ketika bencana terjadi. Ajak anak untuk mengingat dan berlatih langkah-langkah ini secara teratur. Seperti halnya menceritakan bencana pada anak, safety steps juga dapat dikenalkan lewat cara menyenangkan seperti dengan komik, games, atau coloring book.

Safety steps saat terjadi gempa, kebakaran, dan banjir dapat diajarkan pada anak dengan cara yang simpel. Simak apa saja safety steps tersebut pada artikel Keluarga Siaga Bencana berikutnya, ya, Mommies!