10 Penyebab Utama Perceraian yang Mesti Diwaspadai

Beberapa tahun lalu, saya dikejutkan oleh kabar orang terdekat yang bercerai dengan pasangannya. Proses perceraian bahkan dibumbui drama memperebutkan kedua anak mereka, hingga sempat terjadi penjemputan dua buah hatinya oleh si ibu di sekolah tanpa sepengetahuan pihak sang Ayah, alhasil kisruh pun tak terhindari. Diduga dua anak tadi menjadi korban penculikan, hingga melibatkan polisi dalam proses pencariannya. Singkat cerita, kini dua anak mereka diurus oleh pihak ibu. Sayangnya, sang ayah menjadi tak leluasa menemui buah hatinya, bahkan untuk sekadar jalan bersama di akhir pekan.Alasan Perceraian                                                                                        Gambar dari sini

 

Dari kasus tadi, terlihat jelas bahwa anaklah yang terkenda dampak paling nyata dari sebuah perceraian. Anda atau saya pasti tak ingin hal serupa terjadi pada diri kita maupun orang-orang terdekat, tapi apa boleh buat jika perceraian dirasa jalan paling logis untuk beberapa situasi di mana tak mungkin lagi sebuah pasangan mempertahankan rumah tangganya.

Kami merangkum beberapa alasan yang dihimpun dari hasil bertanya di social media maupun wawancara langsung dengan mereka yang sudah becerai. Mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang sedang atau akan menjalani kehidupan rumah tangga.

  1. Kurangnya usaha untuk mempertahankan percikan-percikan asmara seperti waktu masa pacaran dulu. Sehingga hubungan pernikahan yang sudah berjalan sekian tahun terasa hambar. So, Mommies… luangkan waktu untuk pacaran berdua, ya, minimal 1 bulan sekali. Nggak hanya itu, harus loh, dandan cantik meski di rumah.
  2. Adanya orang ketiga. Media sosial dan berbagai chatting application sering menyamarkan batasan-batasan dan tanpa kita sadari, apa yang kita lakukan sudah cukup menyakiti pasangan kita.
  3. Faktor ekonomi. Women are awesome, buktinya banyak juga yang menjadi breadwinner di keluarga dan yang karirnya jauh lebih melesat daripada suaminya. Banyak memang yang tidak merasa bahwa itu masalah, yang menjadi masalah adalah ketika para suami tidak terlihat bersemangat untuk mengejar ketertinggalan tersebut dan malah keenakan. Kalau di luar masalah penghasilan sang suami tetap menjadi suami dan bapak jempolan, sih, masih bisa dimaklumi. Tapi banyak juga yang suaminya menjadi tidak percaya diri dan berusaha untuk mendapatkan confidence booster dari perempuan-perempuan yang karirnya masih jauh di bawahnya. Atau bahkan berlabuh di pijat plus-plus. Ewwhh.Read: The Breadwinner Wives
  4. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), baik yang berupa fisik maupun psikis. Contoh kekerasan psikis di antaranya mengeluarkan kata-kata kasar di depan anak dan orang lain yang seharusnya tidak pantas mendengarnya.
  5. Komunikasi tidak berjalan baik. Memang nggak bisa dipungkiri, sih, ketika sudah punya anak, momen untuk berdua dan diskusi panjang tentang sesuatu jadi lebih susah. Komunikasi lewat chatting pun sering diinterpretasikan berbeda. Terkadang, kita juga asik dengan kerjaan atau stalking akun tertentu dan menikmati kesendirian sampai lupa untuk bertukar kabar dengan suami sepanjang hari. Jadi, banyak masalah kecil yang tidak didiskusikan sampai akhirnya menumpuk. Kalau sudah begini, tinggal menunggu bom waktu saja, deh.
  6. Intervensi pihak keluarga atau mertua. Nah, ini biasanya terjadi pada yang masih tinggal bersama keluarga.
  7. Seperti nomor 3 di atas, banyak para istri yang mempunyai tekad kuat untuk selalu berkembang, baik dalam karir maupun pencapaian diri yang lainnya – misalnya dalam menjaga kesehatan, perbaikan kualitas hidup, menekuni hobi, mencari passion, sementara suami seperti diam di tempat. Efeknya ada semacam gap yang jauh antara value istri dan suami.
  8. Losing identity, biasanya hal ini lebih banyak terjadi di pihak perempuan. Maksudnya stay at home mom yang kurang upgrade pengetahuannya di luar urusan mengurus keluarga dan rumah. Akhirnya suami merasa tidak lagi bisa menjadikan mereka partner hidup.
  9. Tidak adanya kejujuran atau transparansi satu sama lain. Mulai dari urusan keuangan, kantor, dan sosial – dipendam sekian lama. Bahkan, mereka saling nggak tau siapa saja teman-teman kantor masing-masing. Coba, deh, dipikir lagi, apakah privacy dalam sebuah pernikahan itu masih diperlukan?
  10. Menikah terlalu muda, akibatnya ego masing-masing masih terlalu tinggi dan satu sama lain tidak mau mengalah. Walaupun umur memang bukan jaminan kedewasaan seseorang, ya. Tapi tidak bisa dipungkiri, ketika muda dulu, kita lebih berani mengambil risiko, ‘kan? Jadi memang lebih menyukai tantangan dan lebih emosional.

Sementara itu data lain yang tercatat di Badan Peradilan Agaman (Badilag) Mahkamah Agung (MA) menyatakan bahwa sepanjang 2013 lalu ada 319.066 pasangan yang melakukan perceraian. Berikut rinciannya:

  • Alasan tidak harmoni: 97.615 pasangan
  • Alasan tidak ada tanggung jawab: 81.266 pasangan
  • Alasan ekonomi: 74.559 pasangan
  • Alasan perselingkuhan: 25.310 pasangan
  • Alasan krisis akhlak: 10.649 pasangan
  • Alasan cemburu: 9.338 pasangan
  • Alasan kawin paksa: 3.380 pasangan
  • Alasan poligami: 1.951 pasangan

Saya sendiri yang usia pernikahannya masih seumur jagung belajar banyak dari data-data di atas. Salah satu hikmahnya, harus ikhlas meredam ego demi kepentingan bersama – apalagi kalau sudah ada anak. Mudah-mudahan pernikahan kita semua bisa langgeng sampai maut memisahkan. Atau bagi yang sudah berpisah, diberikan jalan kembali bertemu dengan belahan jiwa yang lebih baik. :)