Menyusui itu Sulit?

Breastfeeding

W_Putri・26 Mar 2014

detail-thumb

Saya nggak akan bohong. Menyusui itu sulit. Bukan sekedar buka beha trus clep. Bukan kayak di gambar-gambar ada ibu nyusuin bayinya, duduk tenang, damai, bahagia, dan sentosa.

Serius.

Okelah. Mungkin ada ibu-ibu yang nyusuin bayinya dengan lancar, atau malah langsung mahir. Tapi itu bukan saya. Karir menyusui saya diliputi puting lecet, payudara bengkak, anak gak naik berat badan, sampai kekurangan suplai ASI.

Tapi, saya bilang, wajar kok kalau banyak orang menganggap menyusui itu gampang. Kan alami? Iya, menyusui bayi itu alami. Tapi nggak semua yang alami itu gampang. Contohnya? Melahirkan. Iya, kan? Nah, kalau soal menyusui, ibu-ibu baru kan biasanya terbiasa melihat gambar ibu menyusui anaknya dengan yang itu tadi, duduk tenang, damai, bahagia, dan sentosa. Padahal, bayi dan ibu baru sama-sama belum pernah menyusu dan menyusui, jadi maklumlah kalau seperti awalan belajar, semuanya serba kikuk, serba salah.

Jadi, menyusui bayi dengan tenang, damai, bahagia, dan sentosa itu tepu-tepu? Nggak juga, sih. Saya juga akhirnya sampai ke fase itu, sebelum jungkir balik di fase sulit. Awal tahun ini, saya sudah menyusui Nara selama 2 tahun lebih. Sudah lulus seharusnya, tapi sampai hari ini anaknya masih suka sewot kalau dibilangin “Udah gedhe ya, nggak nana lagi.” Jadi sekarang kami berada pada fase menyapih dalam masa percobaan.

Jika ada yang saya pelajari dari pengalaman saya menyusui Nara, saya akan bilang bahwa pengetahuan dan dukungan itu sangat menentukan kesuksesan menyusui. Sampai hari ini, dengan segala ‘drama’ yang terjadi, saya tahu kalau saya nggak mungkin bisa menyusui Nara sampai 2 tahun tanpa dukungan orang-orang di sekeliling saya. Baik itu keluarga, teman-teman, atau bahkan pemerintah. Tapi terutama suami, sih. Kenapa dukungan itu penting? Nanti ya saya jelaskan.

Keputusan untuk memberikan ASI untuk anak saya berawal dari edukasi yang saya peroleh semasa kerja. Beberapa teman saya menyusui bayinya secara eksklusif. Ada satu orang yang akan dengan rajin memompa ASI di mana pun dia berada untuk dibawa pulang. Selain itu, karena pekerjaan, saya terekspos dengan banyak materi yang berbau menyusui. Jadi secara teori, saya cukup mahirlah ya soal ASI ini.

Namun, seperti kata Nia Umar dalam “Menyusui itu Sulit”, menyusui nggak bisa cuma teori. Ibarat naik sepeda, kita musti praktik sendiri supaya tahu gimana rasanya. Hal yang sama berlaku buat saya. Dengan segala bekal informasi yang saya peroleh sebelum punya anak, saya masuk ruang persalinan dengan niat akan IMD setelah anak saya lahir. Niat yang diamini dokter obgyn dan rumah sakit yang kami pilih.

Tapi namanya cerita kan bisa bergulir terserah apa kata yang Maha Kuasa, ya. Anak saya lahir hipoksia dan harus segera ditangani. Saya nggak nanya skor APGAR-nya berapa waktu itu, tapi dia lahir cukup biru karena terlalu lama di jalan lahir. Akhirnya, tanpa IMD, Nara dibawa ke ruang perawatan bayi dan dipasangi helm oksigen.

Saya baru bisa menyusui dia ketika dia berumur 24 jam, setelah kondisinya stabil. Pertama kali dia menyusu, dia belum bisa melekat dengan baik. Ya iyalah, namanya juga bayi baru lahir. Dia pasti juga baru belajar. Tapi setelah beberapa kali, anak saya ini terlihat lumayan jago menyusu. Perawat juga memuji 'keahlian' Nara menyusu. Hati saya lega. Okesip, dia udah bisa nyusu. Everything is gonna be all right.

Fast forward, ketika Nara berusia 3 minggu, dia gatal-gatal di sekujur badannya karena saya makan telur. Karena Nara sampai nggak bisa tidur 2 hari, saya pergi ke dokter. Sampai di sana, saya diberi tahu, selain alergi telur, berat badan Nara belum naik dengan baik. Apa pula ini?

Sepulang dari rumah sakit, saya evaluasi semuanya berdasar pengetahuan saya. Perlekatan? Kayaknya oke. Tapi emang gampang lepas-lepas. Posisi? Sip. Lecet dikit, sih. Tapi itu katanya biasa kalau baru mulai menyusui. Lalu apa masalahnya? Dokter anak saya waktu itu bilang, ASI saya kurang, tanpa bisa memberikan solusi kecuali pemberian susu formula. Saya dan suami waktu itu sudah bersepakat, jika memang kami tidak bisa memecahkan soal produksi ASI saya yang seret ini, pilihan kami memang akan jatuh ke susu formula. Anak kami perlu gizi dan cairan yang diperlukan tubuhnya. Itu lebih penting dari apa pun.

Maka kami mulai pencarian cara untuk meningkatkan produksi ASI saya. Saya makan sayur daun katuk, minum jus pare, sari kedelai, berusaha rileks, tidak menganggap bahwa ini persoalan besar, nanti akan ada solusinya. Hasilnya? Berat badan Nara tetap jalan di tempat.

Saya hampir patah arang ketika saya berkonsultasi dengan dokter lain dan dia memberikan jawaban yang sama, ASI saya kurang, tanpa saran atau solusi untuk meningkatkan produksinya. Saat itu, saya sadar bahwa mungkin banyak tenaga kesehatan yang tidak tahu benar apa yang harus dilakukan saat seorang ibu mengalami kesulitan dalam menyusui. Saya tahu, saya tidak akan mendapatkan jawaban dari sembarang dokter atau nakes.

Akhirnya, saya menemui konselor laktasi di kota tempat saya tinggal. Dia orang pertama yang mengatakan pada saya jika Nara memiliki tali lidah pendek (tongue-tie). Kondisi ini membuat dia sulit menggerakkan lidahnya sehingga dia tidak bisa menyusu dengan baik. Akibatnya, rangsangan yang diterima payudara saya juga tidak maksimal, menyebabkan produksi ASI saya tipis. Dia menyarankan saya menemui dokter anak untuk mendapatkan diagnosa.

Kami pun berburu dokter anak yang pro menyusui. Saya bertanya ke teman, forum, ke mana pun yang menyediakan informasi menyusui. Dapat satu dokter. Dia mengamini konselor laktasi saya. Dia akhirnya menyarankan pemotongan tali lidah karena, setelah observasi beberapa hari, kenaikan berat badan Nara masih jauh dari harapan. Gong-nya adalah dia tidak bisa melakukan pemotongan tali lidah karena di rumah sakit di kota kami, hal tersebut harus dilakukan dokter bedah anak. Dan, saat itu, tidak ada dokter bedah anak yang bersedia melakukannya.

Menengok sampai di titik ini saja, saya tidak mungkin bisa bertahan tanpa dukungan keluarga saya. Ibu saya, yang dulu sempat saya bawa ikut kelas edukasi ASI, mendukung penuh keputusan saya untuk terus berusaha. Beliau juga yang rajin membuatkan sayur katuk atau apa pun yang saya kepingin makan hari itu. Ayah saya sabar menemani saya dan Nara mondar-mandir pergi ke dokter. Suami saya mungkin yang paling hebat. Dia yang terus menyemangati saya untuk intensif menyusui Nara, menemani begadang, atau mentraktir makanan kesukaan saya. Dia juga yang dengan tenang mengantar saya dan Nara ke kota lain untuk menemui dokter yang bersedia melakukan frenotomi. Belakangan sih saya diberi tahu kalau mereka sebenarnya menahan kekhawatirannya agar saya tetap positif selama saya berusaha menyusui Nara.

Setelah frenotomi, keadaan berbalik. Lecet menghilang, pelekatan Nara membaik, dan produksi ASI saya meningkat perlahan dengan suplementasi. Dan yang paling penting, berat badan Nara sukses menyusul ketertinggalannya. Sejak itu, barulah saya mengalami fase damai, bahagia , dan sentosa tadi. Yeay!

Nara dan saya berhutang keberhasilan ini pada banyak orang. Suami? Pasti. Tanpa kekompakannya bekerja sama berusaha ‘menyusui’ Nara, nggak mungkin saya bisa melalui bulan pertama. He was a great Player 2 in this breastfeeding game.Keluarga? Tentu. Kebayang betapa ribetnya usaha saya jika sebentar-sebentar diinterupsi atau dikomentari. Teman? Ini juga. Kami mendapatkan nama dokter yang bersedia melakukan tindakan pada Nara dari seorang teman yang tinggal di Jakarta. Dokter anak pro menyusui yang sekarang jadi dokternya Nara? Dari forum pro ASI. Donor ASI suplementasi untuk Nara? Dari teman-teman lain yang rajin menyambangi jejaring sosial.

Yang jelas, kisah saya ini cuma satu dan jelas tidak mewakili pengalaman menyusui semua ibu, ya. Saya yakin banyak ibu-ibu yang lain perjalanan ngASI-nya lebih mulus dari saya. Saya ini terhitung beruntung banget karena di tengah drama-drama mendapat dukungan dari banyak orang. Pengetahuan diri sendiri saja kadang tidak cukup. Dan seandainya saja semua ibu menyusui di Indonesia, dan di seluruh dunia, bisa punya support system seperti saya waktu itu, pasti akan lebih banyak lagi yang mulus memberikan ASI untuk bayinya.

Wicahyaning Putri adalah editor di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua.