Puting Lecet? Not Anymore!

Pernah mengalami puting lecet? Biasanya derita ini menjamah Mommies baru yang pertama kali punya bayi, tapi nggak menutup kemungkinan Mommies yang sudah berpengalaman menyusui tak mengalami penderitaan ini, lho. So… kenapa saya bilang ‘penderitaan’? Well, terlepas dari nikmatnya menyusui baby, tapi kalau dikasih embel-embel puting lecet pasti nggak ada yang mau. Puting lecet ini menimbulkan trauma tersendiri sehingga takut menyusui yang menimbulkan perasaan galau luar biasa tiap si mungil membuka mulutnya. Beberapa Mommies malah ada yang jadi kapok menyusui, stop menyusui alias nggak mau lagi nyusuin baby-nya, lho! Sayang banget kan? Cuma karena nila setitik rusak program menyusui ekslusif.. haha…

Pasti sudah sering dibahas kalau penyebab puting lecet ini adalah latch on (perlekatan) yang salah. Saya share lagi, ya, latch on yang benar seperti apa.

So.. sudah bisa membedakan latch on yang benar dan salah, ya? Jadi, latch on yang benar itu mulut bayi terbuka lebar, areola (bagian hitam yang mengelilingi puting) masuk sempurna kedalam mulut bayi, sehingga hanya menyisakan sedikit areola yang menyembul di atas mulut bayi. O, ya.. dagu si mungil juga harus menempel di payudara Mommy, ya. Pokoknya, mulut si mungil mesti terbuka lebar, supaya yang dia hisap bukan puting, melainkan areola.

Selanjutnya, hal yang bikin nyaman Mommy dan bayi juga harus diperhatikan. Kalau saya, begini posisi enak dan nyaman saat menyusui:

Ini posisi yang paling umum, sebetulnya masih ada posisi lain sih, cuma saya bahas yang ini saja, karena paling umum dan gampang.

Penjelasannya, Mommy topang/sangga kepala, leher, punggung dan pantat baby, perlu diperhatikan juga, telinga, bahu dan pinggang baby mesti dalam garis lurus ya, supaya dia bisa menyusu dengan nyaman. Selain baby, Mommy juga harus duduk nyaman. Duduk tegak di kursi (saya sarankan kursi yang ada penopang tangan, supaya tangan Mommy nggak pegal) dan kalau perlu pakai bantal untuk menopang beban tubuh bayi. Sekarang kan banyak yang jual bantal menyusui, Mommy bisa beli online atau di toko perlengkapan bayi juga ada. Kalau saya sih, cukup pakai bantal biasa.

Ritual menyusui inilah yang menjadi concern saya setelah pengalaman buruk menderita puting lecet. Kondisi psikologis (baby blues) yang saya alami pascamelahirkan ditambah penderitaan akibat clogged breastmilk membuat saya cuek sama ritual menyusui. Kebodohan saya adalah latch on salah! Saya pikir bayi saya sudah pandai menyusui, secara bayi laki-laki konon kuat banget menyusunya. Ternyata justru hal inilah yang bikin puting saya lecet dan berdarah – darah di hari ke 7 pascamelahirkan.

Berbekal pengetahuan (bukan pengalaman) yang saya miliki, saya langsung tau kesalahan saya ada di latch on yang kurang tepat. Sayangnya penyesalan itu datang setelah puting saya sudah terbelah dan berdarah-darah akibat tanpa sengaja si mungil mengigit luka di puting saya!

Namun, kejadian itu pengalaman berharga untuk saya. Di saat orang-orang disekeliling menyarankan mengobati puting lecet yang luka dan berdarah itu dengan obat-obatan dan zat kimia yang beredar di pasaran, saya tetap “stay on track“, pakai yang alami yaitu ASI itu sendiri. Yang jadi pertimbangan saya, kalau pakai zat kimia, saya harus istirahat menyusui Haekal atau kalau nanti obatnya kemakan sama anak saya gimana?

Makanya, saya pilih ASI saja! Sebelum dan sesudah menyusui, puting yang terluka itu saya olesi dengan ASI (jangan pernah mencuci puting apalagi yang luka pakai sabun, ya, Mommies, hal itu menyebabkan puting jadi kering dan retak-retak, cukup cuci dengan air saja saat mandi). Ritual penyembuhan puting lecet ini belum lengkap tanpa proses latch on yang benar, saat bayi menyusu dengan latch on yang benar, puting yang luka ini otomatis akan terendam ASI yang ada di mulut bayi. Nah penyembuhan yang optimal bukan?

 

 

 


4 Comments - Write a Comment

Post Comment