Breastfeeding Support System

Breastfeeding Support System? Kedengarannya kok teknis sekali?

Saya adalah anggota baru klub ibu, tepatnya baru 4, 5 bulan. Tapi ada satu hal yang sangat berkesan sekali dalam perjalanan saya menjadi seorang ibu, terutama dalam hal menyusui, yang ingin saya bagikan ke sesama ibu, yaitu mengenai pendukung dalam menyusui atau bahasa teknisnya, breastfeeding support system.

Ketika hamil, saya lebih banyak mencari tahu bagaimana perkembangan janin dalam kandungan dan apa yang harus saya lakukan agar dia tumbuh sehat. Selain itu, tentu saya juga rajin mencari baju hamil yang nyaman dan gaya, terutama untuk dipakai ke kantor. Sama sekali tidak teringat oleh saya untuk mencari tahu mengenai perawatan bayi setelah lahir, termasuk mengenai menyusui. Saya pikir menyusui ya..tinggal templokin bayi aja ke payudara.. As easy as 1, 2, 3, gitu..

Sampai suatu ketika seorang teman saya menyarankan agar saya pergi ke klinik laktasi dan percakapan berikut pun terjadilah…:

M: Ngel, nanti sebelum lahiran sempatkan ke klinik laktasi ya.. Biar elo belajar cara menyusui.

A: Buat apa? Bukannya menyusui tu alami ya? Tinggal templokin aja gitu..

M: Ga segampang itu, Ngel. Gue ga tau apa-apa soal menyusui, jadinya pas awal menyusui puting gw lecet, sakiiit banget. Akhirnya baru ke klinik laktasi deh. Setelah ke klinik laktasi, baru ketahuan bahwa mulut bayi saat nyusu tuh ada posisinya biar ga sakit.

A: Ooo…begitu toh..ok nanti gw cari waktu ke klinik laktasi deh (sambil meringis membayangkan puting lecet).

Sejak percakapan dengan teman saya tersebut, saya baru sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa dan tidak mempersiapkan apapun untuk merawat si kecil nanti! Mulailah saya rajin membuka forum, bukan hanya di thread Pregnancy, tetapi juga sudah merambah ke Meal Time: Breastfeeding 0-6 months. Ternyata….banyak sekali problema ibu-ibu baru dalam menyusui ya!

Berbekal percakapan dan hasil sharing ibu-ibu di forum, maka saya memantapkan hati untuk pergi ke klinik laktasi sebelum melahirkan, tepatnya 2 minggu sebelum melahirkan. Hahahaha..nekat ya..padahal waktu itu bisa saja saya sudah melahirkan.

Suami saya ajak, supaya dia juga tahu seluk beluk menyusui dan bisa ngingetin kalau saya lupa :p Yang tidak disangka-sangka, ibu saya ingin ikut! Maka duduklah kami bertiga di depan dokter laktasi untuk mendengarkan penjelasan mengenai menyusui. Hal yang paling saya ingat adalah: bayi dapat bertahan selama 3 hari sejak lahir tanpa asupan makanan apapun.

Kunjungan ke klinik laktasi dan ilmu yang didapat ternyata tidak sia-sia karena ASI saya baru keluar 2 hari setelah melahirkan. Selama masa 2 hari tersebut, suami dan ibu tidak henti-hentinya mengingatkan saya untuk santai dan menjaga supaya saya tetap happy. Tidak satu kalipun mereka mendesak saya untuk memberikan susu formula walaupun saya sempat khawatir mengenai kondisi si kecil.

Setelah saya pulang ke rumah, beberapa hari sekali ibu datang untuk membawakan masakan kesukaan saya. Demikian pula dengan mertua, setiap berkunjung pasti membawakan makanan yang saya suka.  Kakak saya sampai khusus memborong suatu jenis makanan yang ia tahu bahwa saya suka ketika berkunjung ke apartemen saya. Tujuannya 1: supaya saya happy, makan banyak, sehingga saya sehat dan bisa memberikan ASI kepada anak saya.

Untunglah perjalanan menyusui saya (sampai saat ini) ternyata memang as easy as 1, 2, and 3. Tidak ada puting lecet, tidak ada ASI yang mampet, payudara membengkak atau sejuta permasalahan lain yang mungkin dialami ibu-ibu lain. Perlengkapan tempur menyusui saya (nipple cream, breast pump, bottle & teats, dll)  pun nyaris tak tersentuh.

Tentunya keberhasilan saya menyusui sampai sekarang (yang bahkan seumur jagung pun belum) tidak dapat dilepaskan dari dukungan seluruh keluarga dan teman-teman saya yang tak henti-hentinya menyemangati saya untuk dapat memberikan ASI eksklusif selama 2 tahun. Sebagai bentuk terima kasih, ketika ada teman saya yang hamil / melahirkan, maka saya berusaha memberikan dukungan yang sama kepada mereka. Dari menganjurkan mereka untuk mengikuti kelas laktasi, memberitahu website atau buku mengenai menyusui, sampai memberi kado berupa perlengkapan menyusui (breast pad, baju menyusui, nursing apron, dll).

Perjalanan menyusui saya masih panjang, dukungan keluarga dan teman-teman masih saya butuhkan.  Saya hanya bisa berdoa: semoga support system ini berlangsung terus sampai saya tutup pabrik. Hehehehe :p

PS: Beberapa bulan setelah melahirkan, ibu dan saya ngobrol mengenai proses menyusui saya. Beliau ngaku dosa: “Mama sebenarnya ga yakin dengan dokter di klinik laktasi itu, masa sih bayi bisa tahan 3 hari ga minum apa2? Tapi mama ga mau bikin kamu khawatir. Jadi mama konsultasi lagi sama Oom Gugel, setelah ketemu artikel2 yang mengatakan demikian, baru deh mama yakin..”. Hahahaha :D

 


Post Comment