Family Friday: Tike Priatnakusumah, Biasakan Bilang Sayang

Membangun keluarga harmonis memang bukan pekerjaan yang mudah. Banyak elemen penting di dalamnya. Salah satu contohnya adalah komunikasi. Walaupun terlihat sepele, kenyataannya banyak banget hal-hal yang menghambat komunikasi jadi nggak lancar. Makanya, saya  dan suami berusaha untuk menjalankan ritual pillow talk. Aktivitas yang datang karena saya dan suami butuh untuk menjaga komunikasi. Sedangkan Lita, demi menjaga intensitas komunikasi dengan suaminya memilih untuk melakukan tradisi satu kunci.

Mengingat keutamaan komunikasi yang begitu besar, baru-baru ini Sariwangi mengajak keluarga Indonesia yang dekat secara fisik, untuk meluangkan waktu. Setidaknya 15 menit sehari untuk membangun kebersamaan yang berkualitas. Kampanye ini rupanya lahir akibat makin banyaknya keluarga  yang sering menyia-nyiakan waktu sehingga tidak bisa melakukan komunikasi yang berkualitas secara rutin.

Di sana saya sempat berbincang dengan Teh Tike Priatnakusumah Ternyata ibu dari Latisya Raya Ariefti juga punya cara khusus untuk membangun kedekatan dengan anak dan suaminya. Simak obrolan saya, yuk…

Bagaimana, sih, cara Teh Tike membangun kedekatan dengan anak?

Jujur saja kalau saat pagi hari saya nggak bisa mengerjakan tugas yang sering dilakukan seorang ibu. Mulai dari nganter anak sekolah dan segala macamnya, kalau pulang juga seringnya sudah malam. Jadi yang bisa saya lakukan minimal ketika mejelang tidur. Sebisa mungkin ketika anak belum tidur saya sudah ada di rumah dan membacakan cerita untuknya. Katanya kalau menjelang tidur, alam bawah sadar juga lebih menerima apa yang diobrolin. Nah, jadi saya selalu bilang ke anak kalau saya sayang sekali dengan Neng Leta. Tapi belakangan ini dia memang sedang menuntut agak lebih, maunya saya makan malam bareng di rumah.

Susah nggak mewujudkannya?

Ya alhamdulillah saya selalu mengusahakannya. Tapi kan traffic Jakarta itu kan luar biasa banget, yah. Saya berangkat jam 4, supaya bisa sampai rumah lebih cepat, eh, nggak taunya bisa saja saya sampe rumah jam 8. Kalau sudah begini biasaya akan telepon dulu, dan bilang, supaya Neng makan duluan saja. Soalnya kan kalau anak makan terlalu malem juga nggak bagus. Jadi, dari awal saya memang nggak nggak mau ngejanjian.

Aduh, suka sedih, sih, kalau ngomongin kaya gini. Berkali-kali saya selalu bilang dan kasih pengertian ke anak apa alasannya saya bekerja. Misalnya, sekarang ini dia sedang senang sama Frozen dan Princess Sophia, saya akan tanya, Neng seneng nggak main ini? Nah, kalau mama kerja mama itu cari uang supaya bisa beliin mainan. Kalau misalnya, dia bilang, nggak mau dan bilang maunya saya di rumah aja. Ya, saya jawab lagi, ya udah berarti mama nggak punya uang dan beliin neng mainan macam-macam, ya. Eh, dia jawab, ya udah kalau gitu mama kerja aja lagi, deh. Hahahaha….

Pernah nggak terbersit mau pensiun dini dari kerjaan?

Dulu saya sempat mau pensiun di dunia hiburan atau penyiaran saat usia saya 40 tahun. Terus, saya ngobrol dengan teman yang memang full time mother, lalu dia bilang, ‘Loe tau nggak sih, kalau full time di rumah aja itu justru lebih stres. Karena menurutnya lebih capek dibandingkan dengan ibu pekerja. Tapi kalau buat saya, semua pasti ada plus minus.

Kalau full time mother pasti akan lebih banyak ngeluangin waktu bersama anaknya, tapi karena memang ketemu terus jadi kemungkinan besar juga bisa sering berantem. Kalau saya, mungkin karena jarang ketemu sama anak, saat ketemu itu jadi hal-hal yang selalu ditunggu. Ngobrol juga jadi lebih enak karena jadi banyak cerita. Tapi memang waktunya sangat sempit sekali, itu yang suka bikin sedih.

Untuk mengobati kerinduan sama anak, biasanya suka ngapain, sih, Teh? Ada ritual bersama anak nggak?

Kalau memang ada waktu, paling senang pergi ke Puncak. Kebetulan anak memang sukanya ke gunung, mungkin karena hawanya dingin, ya. Kalau ke pantai kan udaranya panas, tuh. Kurang cocok buat orang-orang yang tubuhnya besar, hahahaha.

Anak saya sekarang juga dalam proses penurunan berat badan karena memang obesitas. Tapi karena masih kecil, nggak belum boleh diet.  Jadi sekarang lebih senang olahraga bareng. Jadi tiap  weekend kita suka nge-gym bareng. Kalau anak sih lebih nge-gym yang untuk anak-anak, ya, nari, atau gymnastik.

Bisa diceritakan apa yang membuatnya obesitas?

Nah, ini adalah salah satu hal yang saya sesali karena tidak bisa selalu bersama dia. Jadi nggak bisa memperhatikan secara detail asupannya apa saja. Nggak tau pengasuh kasih makan apa saja. Tapi anak saya ini termasuk anak yang kekeh sumekeh yang menganggap kalau dia itu seksi. Yah, kaya ibunya dulu, deh, hehehe. Anggapannya big is beautiful. Tapi akhirnya saya ajak ngobrol dan kasih penjelasan kalau big itu nggak selamanya beutiful. Cantik itu justru kalau punya tubuh yang sehat. Karena sering ngobrol dan kasih pendekatan, ya, akhirnya lama-lama anak saya mau juga olahraga.

Memangnya dulu nggak mau, ya?

Wah, susah banget! Malah percaya diri dan bilang mau jadi model, hehehehe.

Nah, selain olahraga, cara apa lagi yang sudah dilakukan supaya berat Neng turun?

Karena usianya masih 6 tahun, jadi memang belum boleh diet. Sekarang lebih banyak mengajaknya untuk melakukan aktivitas fisik saja seperti nge-gym. Dengan banyak gerak, kan juga bisa bakar kalori. Selain itu sekarang saya sudah mengontrol berat badannya supaya nggak naik. Asupan makanan yang dikonsumsi juga sangat diperhatikan.

Oh, ya, kalau waktu berkualitas dengan anak saat menjelang tidur. Bagaimana dengan suami?

Kebetulan suami itu kan kerjanya di dunia yang sama, manajemen artis. Jadi obrolannya memang sangat nyambung. Setiap hari saya juga mengusahakan untuk nunggu suami pulang dulu. Jadi sebelum tidur, kita selalu ngobrol dulu suami.

Di tengah kesibukan, masih sempat couple time nggak?

Saya sih sebenarnya pengen banget. Tapi sayangnya susah, ya, kalau sekarang saya bukan lagi couple time, justru jadinya family time. Misalnya belum lama ini, saat olahraga bareng sama anak, saya minta tolong supir yang antar anak pulang. Sedangkan saya sama suami nonton. Jadi memang harus pintar-pintar curi waktu, ya.

——

Setiap keluarga memang punya cara masing-masing untuk membangun keluarga yang harmonis. Saya berbeda, Lita berbeda, begitu juga dengan Teh Tike. Kalau Mommies, bagaimana?


One Comment - Write a Comment

Post Comment