Pillow Talk, di Atas Bantal Kita Bercerita

Jika menikmati secangkir teh menjadi salah satu ritual saya dan suami di pagi hari, saat malam hari sebelum beranjak tidur ‘pillow talk’ adalah pengantar tidur sempurna untuk kami berdua.

Setelah menikah lebih dari tiga tahun, ada cukup banyak rutinitas – atau ritual– yang kami lakukan bersama-sama. Salah satunya, ya ‘pillow talk’ ini. Aktivitas ini sebenarnya sudah kami lakukan sejak setahun belakangan, namun itu cuma jadi semacam ‘selingan’ yang dilakukan satu-dua kali saja. Setelah dirasakan perlu dan PENTING, kami pun sepakat menjadikannya sebagai salah satu resolusi bersama di pergantian tahun lalu untuk dijadikan sebuah rutinitas.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa kami mengagendakan ‘pillow talk’ ini sebagai sebuah resolusi. Seperti saya katakan tadi, semua datang dari kebutuhan kami berdua untuk menjaga komunikasi,  yang intensitasnya terasa terus berkurang karena setumpuk aktivitas, dan dalih-dalih pembenaran lainnya.

Saya dan suami sebenarnya tidak sibuk-sibuk amat karena meski jadwal kerja yang kadang tak menentu, waktu senggang yang kami punya masih cukup banyak. Namun ya begitulah, beberapa hal kecil yang sebenarnya kami sadari punya peran penting dalam menjaga keharmonisan kadang terlupakan begitu saja, atau pada beberapa kesempatan memang dilupakan.

Buat kami, kok rasanya sayang ya untuk dilewatkan hal-hal kecil itu (baca: komunikasi)? Biar bagaimana pun, saya percaya bahwa bahwa yang mungkin terkesan sepele itu membuat saya dan suami bisa menjaga keintiman.

Aturan pertama untuk ‘pillow talk’ adalah mengharamkan gadget ikut naik ke atas tempat tidur. Ini sayangnya sudah jadi kebiasaan buruk kami berdua bahkan sebelum anak kami lahir. Maka selama berjam-jam, sampai akhirnya salah satu terlelap, saya dan suami lebih sering sibuk dengan ‘urusan masing-masing’.

No gadget on the bed. It’s a must! Kalau tidak, bisa-bisa mata hanya terpaku sibuk membalas BBM atau email, memeriksa panggilan tidak terjawab, atau (sekadar) memantau time line twitter. Jadi, jauhkan smartphone, matikan iPad dan kembalikan laptop ke meja kerja!

“Mulai sekarang no handphone ataupun perangkat gadget ya kalau di atas tempat  tidur,” ujar saya kepada suami  beberapa waktu lalu.

“Oke! Deal, ya, no excuse,” timpalnya sembil menjulurkan tangannya. Kemudian kami pun berjabat tangan. Pertanda bahwa perjanjian dimulai saat itu juga.

Mungkin sebelumnya kurang disadari, tapi handphone dan perangkat gadget lainnya telah menghadirkan tembok batasan antara saya dan suami. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, pengaruh buruk gadget pada hubungan suami istri memang benar adanya. Sering kali, saya dibuat jengkel karena suami terlalu sibuk  dan terlihat lebih intim dengan smartphone-nya.

Meskipun masih merespons dan menjawab saat saya ajak bicara, tapi tetap saja rasanya mangkel kalau pandangannya tidak beralih dari gadget yang ia pengang. Tapi jujur saja sih, saya juga suka lupa diri kalau sedang pegang handphone, hahahaha…

Aturan kedua kami soal ‘pillow talk’ adalah ‘no TV’. Meski kadang cuma jadi ‘pajangan’ dan dibiarkan tetap menyala sementara saya dan suami sibuk sendiri, tayangan televisi dalam beberapa kesempatan terbukti sukses merecoki sesi ‘pillow talk’. So, I choose to turn off the TV.

Dan benar saja, lho, setelah menjauhkan handphone dan mematikan televisi, saya pun mulai bisa ber-‘pillow talk’ ria dengan suami. Topiknya pun random. Apapun yang ada di kepala saat itu bisa dituangkan.

Mulai dari aktivitas saya bersama si kecil, Bumi, masalah pekerjaan, cerita tentang teman-teman, sampai soal fantasi seks, hahahaha! Percaya, deh, pasti bakal seru. Tanpa disadari saya dan suami sering sampai mengeluarkan air mata karena tertawa terpingkal-pingkal. Begitu lepas rasanya!

O, ya, biar tambah seru, perlu juga menyelipkan ‘permainan’ seru. Misalnya, adu kecepatan membicarakan hal- hal apa yang kami suka dan tidak suka. Atau, adu cepat menemukan apa saja yang menjadikan saya dan suami salah satu pasangan yang unik.

Biasanya, sih, kalau saya yang menang saya akan meminta hadiah. Paling nggak, memuaskan hasrat kuliner yang kadang tidak terbendung  :D *kalau hal yang satu ini, suami saya sering bilang hanya modus saya saja untuk “menodongnya” hahahaha…

Tak kalah penting juga, jangan membawa persoalan yang ‘berat’ atau  terlalu sensitif. Bukannya menciptakan suasana romantis, hal ini justru bisa memancing konflik dan terjadinya ‘perang mulut’.

Nah, mungkin di tanggal 14 Februari yang biasanya dirayakan sebagai Hari Kasih Sayang ini, ada yang tertarik menjadikan ‘pillow talk‘ menjadi sebuah ritual dengan  suami?