Say No to Naked Baby Pics on Socmed!

Beberapa waktu lalu, saat baru log in ke akun Facebook, saya tercengang melihat sebuah foto. Obyek foto adalah seorang bayi, yang sedang mandi dan mengangkang sehingga seluruh tubuhnya terlihat jelas tanpa ditutupi apapun. Si pengunggah foto adalah ibunya, yang merupakan teman dari teman saya.

Tampaknya sang ibu sedang bahagia betul karena baru punya anak setelah menanti beberapa lama. Dalam foto tadi, ia menulis caption kira-kira seperti ini: “Aku seksi ya. Yang jomblo dilarang lihat lhoo..”

Jelas benar, foto dan caption-nya diunggah ke Facebook untuk berbagi kebahagiaan plus lucu-lucuan. Foto itu pun menuai like dan komentar dari teman-temannya. Saya hanya bisa mengurut dada karena tampaknya sang ibu tidak memikirkan dampak lebih jauh dari tindakannya itu.

*gambar dari sini

Orangtua yang mengunggah foto-foto telanjang atau vulgar anaknya ke media sosial atau blog memang menjadi fenomena tersendiri seiring berkembangnya dunia teknologi. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saat ini, banyak orang yang lebih memilih memotret anaknya sesaat setelah lahir dan mengunggahnya ke media sosial, ketimbang mengetahui berapa berat badannya. Untuk pose-pose lucu sih, mungkin masih nggak apa-apa ya. Tapi kalo untuk foto anak telanjang, selucu apapun, lebih baik tidak.

Pernah dengar atau minimal, tahu, tentang pedofilia? Lalu, pernah baca artikel tentang pornografi anak dan industrinya? Kalo belum pernah, silakan cari di situs pencari ya. Akun twitter @BraveKidsVoices juga sering sharing headline berita di media massa tentang kasus-kasus yang melibatkan anak sebagai korban. Dijamin, membacanya saja sudah bikin bulu kuduk bergidik!

Dari berbagai artikel yang pernah saya baca, saya simpulkan, para ahli dan penegak hukum selalu menyarankan agar para orangtua tidak mengunggah foto-foto telanjang anak mereka di media sosial, baik itu Twitter, Facebook atau blog. Kenapa? Karena pedofil masa kini juga mencari mangsa di media sosial.

Mereka tak hanya mencari korban langsung seperti anak-anak pengguna media sosial, tapi juga korban tidak langsung. Artinya, mereka gemar mengumpulkan foto anak-anak dari akun media sosial para orangtuanya. Nah, kebayang kan jika Mommies mengunggah foto telanjang si kecil, tanpa diproteksi, dan kemudian diambil oleh pedofil lalu dijadikan salah satu koleksi mereka? Membayangkannya saja saya mau nangis lho.

Makanya, saya selalu miris jika membuka akun Facebook, atau media sosial lain, lalu di news feed saya terdapat foto-foto anak telanjang. Bahkan pernah ada seorang teman saya yang mengunggah foto “burung” anaknya sesudah disunat, lengkap dari beberapa angle, dalam satu folder tersendiri. Saya melihatnya saja nggak tega. Lah koq itu ortunya tega memamerkannya kepada publik? T_T

Kemarin teman saya bertanya, apa bedanya foto anak telanjang yang diunggah ortunya dengan foto seksi ibunya sendiri di media sosial. Menurut logika saya, dua kasus itu beda banget. Foto seksi sang ibu diunggah penuh kesadaran. Jadi, kalo ada dampak negatif di kemudian hari, sebagai orang dewasa dia harus bertanggungjawab penuh.

Nah, kalo foto seksi anak yang diunggah orangtuanya sendiri, itu dilakukan tanpa kesadaran dan persetujuan si anak. Jadi, si anak cuma jadi korban keegoisan ortunya. Kasian :(

Saat ini pun, saya sudah berusaha membatasi mengunggah foto-foto Nadira ke media social. Apalagi setelah baca dua artikel dari NY Times dan Daily Mirror. Ih sereeemm… :(((

Anyway, ada satu guideline yang menurut saya sih, bisa digunakan sebelum kita mengunggah foto-foto anak maupun diri kita sendiri. Seperti yang dikatakan mantan polisi dan ahli perlindungan anak dari Inggris, Mark Williams-Thomas dalam artikel Daily Mirror di atas, yakni:

“Every parent and child needs to ask this question before they post an image, ‘Are you happy with people not known to you, perhaps even a child sex offender, viewing your image?’. If you are happy with it then go ahead and post it. If you are not then don’t.”

What do you think, Mommies?