Balita Punya Akun Twitter?

Sejak saya bergabung di media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram, rasanya tiada hari timeline atau news feed tanpa foto bayi, status seputar parenting, atau foto-foto kehamilan. Sebagai seorang ibu, saya sih memahami ya euphoria yang dirasakan orangtua baru saat mendapatkan keturunan. Saya juga dulu pernah melakukannya, kok.

Nah sekarang saat euphoria-nya sudah habis, saya baru sadar. What was I thinking? Saya pun langsung mengunci private folder foto saya di Facebook yang berisi aktivitas Nadira saat bayi. Sesekali saya masih sharing foto dan aktivitas Nadira, tapi tidak sesering saat ia baru lahir dulu. Terus terang, saya khawatir oversharing dan membuat teman-teman saya eneg.

Apalagi saat seorang sahabat saya, sempat cerita begini. “Gue males buka Facebook sekarang. It’s like everybody’s getting pregnant, getting married and getting a baby. Gosh!” begitu katanya. Padahal teman saya ini seorang ibu juga lho. Tapi tampaknya tingginya frekuensi sharing teman-temannya di sosmed sudah membuatnya eneg juga, hehehe…

Lantas kami berbincang soal beberapa orang yang membuatkan akun sosmed bagi anak dan bayi mereka. Beberapa bahkan membuatnya sebelum anak-anak itu lahir. Sounds familiar, Mommies? :D

*gambar dari sini

Kalo kami sih, merasa tidak perlu-perlu amat mengikuti jejak para orangtua tersebut. Selain khawatir oversharing, kami juga sadar, dunia digital berubah cepat sekali seperti gunung pasir di tengah gurun. Lima tahun lalu, Twitter memang sudah lahir, tapi belum jadi hits seperti sekarang. Nah, siapa yang bisa menjamin, saat anak-anak kita cukup umur nanti, Twitter masih eksis?

Contohnya, Friendster deh. Delapan tahun lalu, Friendster jadi hits berat di antara pengguna internet karena menyediakan layanan media sosial. Tapi tahun 2011, pengelolanya harus mengubahnya menjadi situs games karena para pengguna Friendster beralih ke media sosial lain. Begitu pula dengan Multiply dan sebagainya.

Namun, kami juga menyadari, tiap orangtua pasti memiliki alasan di balik pembuatan akun sosmed untuk anak-anak mereka. Berikut ini adalah beberapa alasan yang paling populer berdasarkan beberapa teman yang membuat akun sosmed untuk anak mereka:

  • Ingin menjadikan akun sosmed anak sebagai sejenis diary, sehingga saat si anak dewasa, ia akan bisa melihat perjalanan hidupnya sejak lahir di sosmed.
  • Ingin mengamankan username sosmed (terutama untuk twitter dan email) sehingga di masa depan, si anak tinggal mengambil alih akun tersebut.
  • Ingin berbagi dengan keluarga dan kerabat, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari keluarga. Teman saya yang tinggal di luar negeri sengaja membuat akun Facebook atas nama anaknya dan rajin upload foto si anak untuk obat kangen orangtuanya yang tinggal di Jakarta.

Dan ternyata, ini tidak hanya dilakukan oleh orang awam lho. Banyak juga selebriti dunia yang membuatkan akun untuk anak-anak mereka, dengan jumlah teman atau follower ribuan pula.

Salah satunya pebalap sepeda, Lance Armstrong. Ia membuatkan akun Twitter untuk dua anaknya, Olivia Newton Armstrong dan Mark Armstrong, tak lama setelah mereka lahir. Saat ini, kedua bayi itu memiliki follower ribuan. Padahal umur mereka masih balita. Hebat ya? :)

Dalam artikel New York Times, disebutkan beberapa pesohor lain yang melakukan hal yang sama dengan Armstrong. Rata-rata berasal dari kalangan media dan penulis yang terkenal di Amerika Serikat.

Untuk data statistik tentang fenomena ini justru saya dapatkan di situs media Inggris, Daily Mail, di sini. Disebutkan bahwa 1 dari 8 orangtua baru akan membuatkan anak mereka akun di sosmed. Empat persen di antaranya bahkan membuatkan akun tersebut jauh sebelum si anak lahir.

Fakta lain yang tak kalah menarik adalah, 9% orangtua berpikir bahwa memotret anak sesaat setelah dilahirkan lebih penting ketimbang mengetahui berapa bobotnya saat lahir. 50 persen orangtua meng-upload foto anak mereka di sosmed dalam rentang waktu 24 jam setelah si anak lahir. Dan rata-rata, orangtua memotret anak mereka sebanyak 14 kali per hari pada saat ia dilahirkan.

Terus terang, saat membaca data statistik di atas, saya terkaget-kaget sendiri. Segitu luasnya ya ternyata fenomena akun bayi di sosmed ini. Itu cuma di Inggris lho. Gimana kalo riset dan surveinya dilakukan di negara lain, termasuk Indonesia?

Anyway, meski saya tidak membuat akun sosmed untuk anak saya, tapi saya merasa sosmed cukup membantu untuk menyimpan foto-foto. Dengan meng-upload-nya ke sosmed, saya jadi merasa cukup aman jika suatu hari nanti, komputer saya error atau memori external hard disk saya rusak. Setidaknya ada back up, ya nggak?

Tapi menurut saya, ada satu ide cukup brilian yang di-share dalam artikel New York Times di atas. Reporter CNBC, John Carney tidak membuat akun sosmed untuk anaknya, atau meng-upload foto si anak di sosmed. Alih-alih, ia membuatkan sebuah akun email untuk anaknya, dan rutin mengirimkan foto-foto si anak ke email tersebut, sejak ia lahir sampai sekarang. Kelak, bila anaknya dewasa, ia akan bisa melihat sendiri foto-foto tersebut, seolah-olah email itu adalah sebuah digital scrapbook.

Menurut saya, cara ini keren banget. Sebab, tidak semua anak akan senang kala melihat foto masa kecilnya saat berpose aneh dipublikasikan di sosmed dan diberi komen aneh oleh teman-teman orangtua mereka, bukan?

*duh nulis ini jadi #jleb sendiri secara saya suka posting foto Nadira lagi berpose aneh, hahaha..*

 


2 Comments - Write a Comment

  1. Plus harus ekstra hati2 juga bwt uplot foto2 pribadi si kecil, karena banyak sekali kasus kejahatan ‘predator’ anak yang berawal dari akun socmed yg dapat diakses oleh siapapun yang ga berstatus temen..
    Bijaksanalah dlm berteknologi tmasuk juga dgn akun socmed (⌒˛⌒)

Post Comment