My Journey to Become A Chef Wannabe

Dulu, dunia masak-memasak bukanlah dunia yang menarik buat saya. Meski mama dan nenek saya jago memasak, tapi saya nyaris nggak pernah turun ke dapur. Waktu kecil, setiap saya tertarik melihat mama masak, mama selalu mengusir dengan alasan “Kalau ada kamu, malah jadi berantakan dan ribet, nih”. Jadi saya pun lama-lama hilang minat pada dapur.

Saat menikah, saya masih gagap dapur. Maksimal saya hanya bisa memasak telur, mi instan, atau makanan kalengan. Karena masih tinggal bersama orang tua, saya jadi santai nggak perlu masak. Saat akhir pekan pun, saya lebih memilih makan di luar.

Dunia saya berubah 180 derajat saat Nadira lahir. Sejak hamil, saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya kelak. Jadi saya mau bersusah payah supaya asupan ASI-nya tetap terjaga meski saya bekerja.

Setelah itu, saya juga ingin memberi Nadira makanan yang saya masak sendiri. Apalagi setelah saya rajin browsing dan membaca banyak buku mengenai MPASI bayi. Nyaris semua sumber menyatakan, homemade food itu lebih baik daripada makanan pabrikan karena orangtua bisa menyesuaikan isi makanan dengan selera dan kebutuhan anaknya masing-masing. Kalau makanan pabrikan kan dibuat secara massal.

Saat Nadira berusia 5 bulan, saya pun mulai kelabakan sendiri mencari resep masakan bayi yang simple. Kemudian saya juga join dengan milis MPASI Rumahan dan rajin membuka thread Solid Food di MD, supaya bisa belajar dari sesama ibu-ibu lainnya. Di dua media ini saya senang karena merasa banyak teman, yaitu ibu-ibu yang sama-sama nggak bisa masak, hehehe .…

Makanan pertama Nadira waktu itu adalah bubur beras merah, sesuai saran di buku dan milis yang saya baca. Meski awalnya deg-degan, namun ternyata lama-kelamaan saya justru menikmati proses menyiapkan makanan untuk Nadira. Memasak itu ternyata adiktif ya. Saya pun langsung melebarkan sayap untuk belajar memasak yang lain, supaya nggak hanya Nadira saja yang makan makanan yang saya masak, tapi juga suami dan saya sendiri.

Namun karena masih nebeng sama orangtua, saya mengalihkan fokus ke baking. Target saya waktu itu adalah membuat kue ulang tahun Nadira sendiri. Setelah saya membeli oven dan loyang, bermodalkan mixer tua milik mama saya, saya pun iseng belajar membuat kue. Resep-resep yang saya incar haruslah resep yang mencantumkan takaran secara detil. Maklum, namanya juga amatiran. Saya masih deg-degan kalau menemukan resep dengan takaran kira-kira. Takut gagal! :D

Untuk baking ini, saya belajar secara otodidak di tempat mama saya. Modalnya hanya resep hasil browsing di internet. Kalau pun pernah diajak ikut baking class, saya lebih banyak makan dibanding menyimak pelajarannya, hehehe. Mama saya pun ikut terkagum-kagum karena meski doyan masak, beliau tidak suka baking. Dan karena akhir pekan adalah jadwal saya menginap di tempatnya, akhir pekan pula tempat mama selalu wangi kue-kue karena saya selalu praktik resep yang berbeda tiap pekan. Mulai dari yang mudah seperti macaroni schotel, bread pudding, dan cookies untuk MPASI Nadira hingga yang agak sulit seperti cheesecake.

Saat Nadira ulang tahun yang pertama, saya membuat sendiri cupcake untuk dia. Kenapa cupcake? Soalnya saya nggak pede membuat cake besar. Mungkin saya giat belajar membuat kue, tapi untuk urusan mendekor, saya (me)nyerah, deh. Makanya saya pilih cupcake karena menurut saya, mendekor cupcake sedikit lebih mudah.

Setelah kami pindah ke rumah sendiri, saya pun ditantang untuk memasak makanan keluarga sehari-hari sendiri. Apalagi suami minta supaya saya yang memasak karena dia merasa kurang cocok dengan masakan ART. Awalnya, sih, saya tegang juga karena berarti setiap pagi sebelum berangkat kerja, saya harus siap turun ke dapur. Nggak heran, seminggu pertama, masakan saya gosong, terlalu asin atau hambar karena dimasak saat nyawa belum ngumpul, hahaha .…

Lama-kelamaan, saya jadi tahu kiat-kiatnya, pernah saya ceritakan juga di sini. Karena saya susah bangun pagi, saya lebih suka masak malam, alias midnight cooking. Di pagi hari, ART tinggal menghangatkan dan menggoreng/mengukus yang perlu saja. Kebetulan suami dan saya membawa bekal ke kantor setiap hari. Jadi urusan masak ini memang esensial untuk keluarga kami.

Sekarang karena Nadira mulai sekolah, beban saya bertambah dengan menyiapkan bekal untuknya. Sebagai rabid mom wannabe, saya sok membuat bekal ala-ala bento, meski sederhana sekali. Yang penting anak senanglah :D

Kalau saya sedang bernostalgia dengan masa lalu, saya suka tertawa sendiri mengingat betapa malasnya saya dulu untuk turun ke dapur. Bahkan tak sedikit saudara dan teman yang terheran-heran saat mengetahui sekarang saya bisa masak dan bikin kue, meski tidak sempurna. Semua memang gara-gara anak, deh!


13 Comments - Write a Comment

  1. Sama doong, saya pun bs masak sejak merried. abis meried lngsung tinggal rumah sendiri, wah sebulan pertama kelabakan deh masaknya.trus rajin browsing cari masakan yg simpel2.
    klo cemilan atau kue2 gt suka juga buatnya, tapi suami ama anak kurang suka, jadinya males deh ngolahnya.

Post Comment