Masak Sendiri, Siapa Takut?

Banyak yang bilang, memasak itu adalah tugas yang butuh bakat dan skill yang tinggi. Saya sendiri juga dulu berpikir begitu. Makanya saya sempat alergi masuk ke dapur, sampai akhirnya saya punya anak, dan harus membuatkan MPASI untuknya. Dari situ saya kemudian belajar memasak lebih serius lagi, untuk anak dan juga seluruh anggota keluarga.

Yang patut diperhatikan dalam memasak adalah jangan jadikan sebagai beban. Don’t worry be happy. Serius, kalo sudah tahu “selah”-nya, memasak itu ternyata mudah dan menyenangkan. Sebagai seorang ibu bekerja, saya berusaha menyempatkan diri memasak sendiri untuk keluarga setiap hari. Selain lebih sehat, saya juga tahu apa saja yang dikonsumsi keluarga saya.

Lalu, memasak sendiri itu cukup menghemat lho, Mommies. Coba, deh, hitung biaya makan di restoran 3 kali sehari selama sepekan saja. Saya pernah iseng-iseng menghitung, dan jumlahnya bisa untuk belanja bulanan lengkap bahkan lebih.

*gambar dari sini

Kenapa saya tidak meminta ART untuk memasak? Karena suami saya hanya mau masakan yang saya buat. Lalu dia juga setiap hari membawa bekal makan siang ke kantor supaya sehat. Jadi, deh, mau nggak mau saya turun sendiri ke dapur.

Anyway, untuk para Mommies, mudah-mudahan tips berikut bisa membantu ya:
1. Buatlah daftar menu seminggu atau kalo sanggup, sebulan. Bisa di kertas lalu ditempel di dapur, atau seperti saya, diketik di memopad Blackberry. Daftar ini memudahkan perencanaan kegiatan memasak kita setiap harinya.

2. Beli daging/ikan/ayam per minggu sesuai daftar menu yang sudah dibuat. Untuk sayur, saya lebih prefer membeli di tukang sayur yang lewat di depan rumah. Selain lebih segar, saya juga sekaligus ingin memberdayakan pedagang kecil.

3. Daging/ikan/ayam bisa masuk freezer dulu sebelum diolah. Untuk daging dan ayam memang mampu bertahan cukup lama di freezer dalam kondisi mentah. Namun untuk ikan, ingat, ya, Mommies, hanya bisa bertahan selama maksimal 2 hari. Lebih dari itu, rasanya akan berubah.

4. Karena itu, biasanya saya mengolah semua daging/ikan/ayam terlebih dulu sebelum dimasukkan ke dalam freezer. Ikan bandeng, misalnya, saya buat bandeng presto, yang bisa bertahan di freezer selama 1-2 bulan. Daging dijadikan empal/dendeng, sementara ayam biasanya saya ungkep. Bandeng presto, empal dan ungkep ayam ini bisa langsung digoreng kalau dibutuhkan.

5. Buatlah stok bawang putih dan bawang merah halus. Ini sangat sangat memudahkan saya setiap memasak. Capek banget deh rasanya kalo tiap masak, harus keluarin ulekan dan cobek, hehehe.. Masing-masing bawang diletakkan dalam tempat terpisah ya Moms, karena nggak semua makanan menggunakan kedua bawang secara bersama-sama.

6. Jangan ragu untuk mendaur ulang bumbu masakan. Misalnya, setelah mengungkep ayam, masih ada kuahnya. Gunakan kuah itu untuk campuran membuat tempe goreng tepung, untuk mengungkep tempe/tahu, atau bumbu dasar soto ayam. Gunakan imajinasi dan analisa (ceileh) saat membaca resep masakan. Banyak, lho, sebenarnya resep yang bumbu-bumbu dasarnya mirip satu sama lain. Tinggal pintar-pintarnya kita aja untuk mendaur ulang bumbu-bumbu itu.

7. Masih ingat artikel tentang Kitchen Essential? Semua bumbu dan bahan-bahan yang ada di situ membantu sekali lho. Apalagi saat tiba-tiba sayuran yang kita inginkan untuk hari Senin absen dari gerobak si Abang Sayur, atau lauk ayam goreng untuk hari Rabu sudah habis dimakan saat ada tamu. Tinggal keluarkan jurus darurat deh, bikin tumis atau sop dari frozen veggies untuk hari Senin, dan mendayagunakan telor/sosis/bakso yang ada di kulkas.

8. Memasaklah di waktu yang paling nyaman menurut Anda. Berhubung saya bukan tipe yang rajin bangun pagi, saya lebih suka memasak di malam hari saat baru pulang kerja atau sebelum tidur. Biasanya untuk sayur, saya masak tengah malam hingga kondisi cukup matang namun belum empuk benar. Besoknya, ART saya tinggal menghangatkannya sebentar. Untuk lauk, ART saya tinggal menggoreng atau mengukus lauk yang sudah saya siapkan di dalam kulkas. Jika saya ingin membuat lauk seperti telur balado atau semur ayam, biasanya semua saya masak malam-malam. Besok pagi, setelah ART menghangatkan, tinggal dikemas ke dalam lunch box deh.

9. Jika Mommies punya ART, daya gunakan mereka untuk membantu memotong-motong sayuran, mengulek bumbu, menyiapkan peralatan masak dan membersihkan perabot setelah masak selesai. Namun jika tidak ada ART, jangan jadikan ini sebagai beban. Potong-potonglah sayur saat waktu senggang, kemudian segera kemas dan masukkan dalam kulkas. Beberapa sayuran mampu bertahan di dalam kulkas 1×24 jam bahkan lebih asal tidak dicuci terlebih dahulu.

10. Gunakan metode freezing untuk menyetok lauk dan kaldu. Artinya, masaklah sekaligus dalam porsi banyak, lalu bekukan. Di Jepang, sangatlah lumrah metode freezing untuk berbagai makanan, termasuk nasi. Saya juga menggunakan metode ini untuk beberapa jenis masakan yang menurut saya, ribet metode pembuatannya, seperti gudeg, rendang, atau semur. Masukkan makanan per porsi ke dalam kemasan lalu bekukan. Kalau mau dimakan, tinggal keluarkan dari kulkas, defrost di microwave, atau dikukus juga bisa. Lumayan lah, Mommies, meski belum frugal living-frugal living amat, tapi cukup kan untuk menghemat tenaga dan biaya?

11. Jika Mommies punya dana lebih dan sulit mendapatkan ART yang andal, jangan ragu untuk membeli peralatan masak modern seperti panci presto, food processor dan slow cooker. Alat-alat ini akan sangat membantu Mommies di dapur. Panci presto membantu untuk mengempukkan bahan makanan secara cepat dan efisien (akan saya tulis lain kali, ya). Food processor membantu menghaluskan bahan makanan tanpa repot. Selamat tinggal cobek dan ulekan, deh, judulnya hehehe. Sementara Slow Cooker cukup membantu kala ingin memasak berbagai resep makanan, dari makanan bayi hingga dewasa seperti gudeg, semur dan rendang. Review dari Mom Yudith cukup membantu kok.

12. Buat saya, bumbu masak instan itu nggak haram lho. Bahkan cukup membantu, terutama untuk masakan-masakan yang butuh beragam jenis rempah seperti rendang atau rawon. Tinggal kitanya saja yang harus pandai “menambal sulam” kekurangan si bumbu instan. Misalnya untuk bumbu instan Sayur Lodeh, saya selalu tambahkan ebi/teri, duo bawang, cabe iris dan tempe. Rasanya pun nggak “standar” dan terasa lebih lezat.

Segitu dulu aja ya Mommies kiatnya. Maaf kalau amatir banget karena sebenarnya, saya juga masih belajar masak, hehehe. Happy cooking!


32 Comments - Write a Comment

Post Comment