Financially Smart and Wonderful Women

Dibanding acara-acara serupa, Seminar & Workshop Smart Wonderful Woman yang diadakan pada 21 April 2012 lalu terasa berbeda. Aura ‘excitement’ sangat terasa saat memasuki ruangan, sejak sebelum acara dimulai. Semangat hari Kartini sepertinya sangat mempengaruhi antusiasme peserta, semua peserta ‘dress-up’ dengan  tema ‘Touch of Indonesia‘.

Quote dari Ibu Kartini ini rasanya harus saya teruskan di sini, yang menjadi pembuka dan ‘ruh’ materi seminar dari Ligwina Hananto:

Ibulah yang menjadi pusat rumah tangga. Berilah anak-anak gadis pendidikan yang sempurna. Jagalah supaya ia cakap, kelak memikul tanggung jawab sebesar itu.

The Role We Play, tema seminar ini mendefinisikan kembali peran kita sebagai istri dan ibu yang menjadi sentral pengelolaan keuangan keluarga. Ibu harus membekali diri dengan pengetahuan dan kemampuan pengelolaan keuangan keluarga. “Jangan lagi menjadi istri yang hanya ditinggali uang belanja di bawah TV,” pesan Ligwina.

Ada beberapa common mistake yang kerap terjadi pada perempuan, when it comes to ‘money matter’.

  • Anggapan “sudah ada suami” yang taken care of me.
  • Tidak bicara soal uang dengan pasangan.
  • Halusinasi, merasa punya uang padahal tidak
  • Financial literacy yang rendah
  • Menunda membuat plan

Walaupun ada hal yang saya tidak setuju, seperti financial literacy yang rendah. Karena kenyataan yang saya lihat, sekarang ini rasanya semua wanita sudah bisa nyambung kalau ngomongin tentang keuangan. Mulai dari soal produk keuangan, pilihan investasi, dll. Walaupun kedalaman pengetahuannya berbeda-beda. Namun untuk poin yang lain, rasanya saya ikut merasa tertohok, dan bener bangeeet. Walaupun punya pengetahuan dan skill finansial yang cukup, saat menghadapi suami untuk bicara mengenai rencana keuangan, selalu ada saja hambatan emosionalnya. Jangankan seperti Ligwina yang memetakan apa saja harta dan utang yang masing-masing dimiliki suami dan istri. Untuk bicara tentang penghasilan saja susah. (wah, ketahuan banget, ya, ini curcol pribadi). Tapi menurut Wina, hambatan komunikasi antar suami-istri tentang keuangan memang jamak terjadi di mana-mana. Nah, nanti kami bahas dalam artikel sendiri, deh, tentang membicarakan ‘uang’ dengan suami.

Poin ketiga di atas–halusinasi–maksudnya adalah kita biasa banget tu, merasa punya uang dalam kartu kredit! Walaupun saldo dalam kartu debit tidak cukup, namun tidak menghalangi untuk tetap belanja, dengan kartu kredit. Soal bayarnya, urusan nanti. Mungkiin, kenyataanya memang kita bisa mencicil ataupun menutup utang kartu kredit itu nantinya. Tapi yang sering tidak kita sadari, hal itu mengganggu cash-flow dan akhirnya mengganggu pos keuangan lain yang lebih penting. (duh, ternyata saya masih sering terjebak untuk kesalahan ini. kartu kredit digunakan untuk pengeluaran yang biasanya tidak saya rencanakan, atau istilahnya “impulse buying”).

Jadi, mengapa kita HARUS dan PERLU untuk membuat financial plan. Ternyata, apabila kita sudah mulai berproses untuk membuat suatu perencanaan keuangan yang serius dan komprehensif, common mistakes di atas biasanya akan teratasi lho. Prosesnya biasanya dimulai dengan awareness, pengetahuan yang kita dapatkan melalui media (TV, internet, Twitter, dll). Kemudian knowledge, kita mulai bisa memetakan apa yang harus dilakukan, melalui seminar, workshop, buku, dan research. Setelah itu action. Check up kesehatan keuangan pribadi, membuat perencanaan, implementasi dengan produk investasi.

Setelah menjalani proses di atas, pasti kita sudah menjadi seorang yang “financial literate”, apa pun latar belakang pendidikan kita. Dalam proses itu pula, mau tidak mau kita ‘dipaksa’ untuk bicara dan berdiskusi dengan suami, tentang rencana dan langkah yang akan kita lakukan. Bila memutuskan untuk menggunakan jasa perencana keuangan profesional, merekalah yang biasanya akan ‘memaksa’ kliennya untuk saling terbuka dan bicara mengenai keuangan keluarga. Dan akhirnya, bila telah membuat rencana keuangan, biasanya kita akan lebih memiliki self control, dan lebih bertanggung jawab terhadap semua pengeluaran kita.

Setelah seminar yang cukup heboh di sesi pertama, selanjutnya kami mengikuti workshop yang dibagi menjadi 2 pilihan. Plan for Moms atau Plan for Singles. Dalam workshop Plan for Moms, kami dipandu untuk bisa membuat rencana keuangan pilihan, dalam hal ini Dana Pendidikan Anak. Caranya, seperti yang pernah dibahas dalam artikel ini atau ini. Nah, dalam workshop ini, kemudian ditunjukkan dan dipraktikkan langsung bagaimana menggunakan tools keuangan untuk mendapatkan angka-angka proyeksi yang akan kita gunakan sebagai pedoman berinvestasi. Instrumen investasi apa yang dipilih? Tentu tidak bisa ditunjukkan dalam workshop, karena hal itu sangat tergantung pada ekspektasi return dan risk exposure yang memang berbeda-beda untuk setiap orang. Banyak buku, artikel, pelatihan, bahkan konsultan keuangan yang bisa kita manfaatkan untuk membantu dalam pemilihan instrumen investasi yang tepat.

Bila masih belum yakin, bisa, lho, menghubungi QM Financial untuk mendapatkan konsultasi dan membuat rencana keuangan keluarga!


2 Comments - Write a Comment

Post Comment