2012: Investasi untuk Dana Pendidikan Anak

Merencanakan dana pendidikan untuk anak? Isu ini pasti sudah ‘nempel’ banget, ya, bagi orangtua. Mulai dari anak kita lahir, entah dari mana informasinya, tiba-tiba ada saja agen asuransi atau bank yang menawarkan produk pendidikan anak. Mulai dari tabungan pendidikan, asuransi pendidikan, dll. Saya merasa semua orangtua sekarang pasti sudah melek pengetahuan tentang merencanakan dana pendidikan anak. Informasi yang berlimpah di internet, milis, seminar, hingga tawaran-tawaran seperti tadi.

Dengan semua informasi tersebut, sebenarnya berapa banyak dari kita semua yang benar-benar sudah memiliki perencanaan riil terkait dana pendidikan anak. Mempunyai jawaban pasti atas pertanyaan, “Apa yang sudah anda persiapkan untuk dana pendidikan anak sampai kuliah?”

Saya sendiri, dengan exposure pengetahuan finansial yang cukup, sampai beberapa waktu lalu belum memiliki perencanaan apapun untuk anak-anak saya. Dulu saya pernah memiliki asuransi pendidikan untuk anak pertama, namun akhirnya terbengkalai. Perlu mengikuti seminar kedua tentang dana pendidikan anak, untuk benar-benar membukakan mata saya tentang inflasi biaya pendidikan yang nyata! Sebesar ini lho jumlah yang nanti akan diperlukan untuk masuk ke universitas pilihan. Jumlah yang bila dilihat nominalnya sekarang, rasa-rasanya tidak akan mungkin kami mengumpulkan jumlah tersebut.

Salah satu ‘metode’ perencanaan dapend yang saya ikuti, adalah dari perencana keuangan Ligwina Hananto yang populer dengan tagline “Tujuan Lo Apa?” Tujuan ini harus dibuat serealistis mungkin. Untuk saya, yaitu mempersiapkan biaya SMP-perguruan tinggi untuk anak saya Akhtar, 7 tahun.

Lalu apa selanjutnya? Action! Mau bertindak apa? Untuk membuat sebuah ‘tabel’ rencana pendidikan anak, langkah pertama adalah memilih sekolah untuk anak, di tiap jenjangnya. Selanjutnya, mencari tahu berapa uang masuk dan SPP saat ini untuk sekolah tersebut. Informasi ini banyak sekali tersedia di internet. Apabila ingin pasti, kita bisa telepon langsung ke sekolah bersangkutan. Langkah berikutnya adalah membuat proyeksi berapa biaya tersebut pada masa depan, saat anak masuk sekolah di tiap jenjangnya. Di sini perhitungan dengan angka inflasi biaya pendidikan diperlukan. Menurut perhitungan QM Financial, angka ‘aman’ inflasi per tahun untuk biaya pendidikan adalah 15-20%.

Untuk menghitung dana pendidikan secara praktis dan mudah, bisa dilakukan di sini.

Eksekusinya -untuk mewujudkan rencana tersebut- hanya satu, yaitu investasi. Jumlah yang rasanya mustahil tadi, bisa lho dicapai dengan investasi. Kita bisa pilih instrumen investasi apa yang paling pas untuk kita. Bisa dalam emas, ORI, saham, dan reksadana. Saya sendiri pilih reksadana saham (yang risikonya paling besar dibanding tipe reksadana lainnya), karena saya merasa cukup memahami risiko pada instrumen saham, dan tahu apa yang harus dilakukan apabila risiko terburuk terjadi.

Setelah membuat ‘rencana pendidikan’ tadi, saya buka rekening di bank yang memungkinkan saya untuk auto-invest, yaitu setiap bulan dana kita akan ditarik untuk dimasukkan ke rekening reksadana.

Jadi, bisa kok membuat rencana pendidikan anak sendiri, tanpa bantuan perencana keuangan. Tentunya kita sendiri ya yang bisa mengukur, seberapa jauh exposure/pemahaman kita mengenai hal ini, terutama dalam pemilihan instrumen investasi.

Memasuki 2012, paling tidak untuk saya pertanyaan tentang rencana pendidikan di atas, sudah terjawab. Walaupun untuk rencana keuangan lainnya, dana pensiun, naik haji, dll, masih jadi PR besaaar :).

*gambar dari sini

 

 


30 Comments - Write a Comment

  1. kalau saya jelas asuransi pendidikan dulu nomor satu, karena di asuransi pendidikan punya anakku itu ada apa2 dengan salah satu dari kami orangtua (namaku en suami bisa masuk lohh jd pemegang polis), premi lgs stop bayar dan slanjutnya perusahaan asuransi yg nerusin bayar premi sampai anakku usia 30’an (lupaa!),jd tetep ada tabungan. Ini emang ajib deh asuransi pendidikannya, trus uangku di thn pertama jg ga hilang blas,msh bnyk saldonya yg tebentuk. Pemikiranku dan suamiku kalo salah satu dr kami kenapa2 kan ibarat kata masih ada yg mau nabungin buat anak2.
    Seterusnya ak beli emas TENTUNYAAH..hihiihi…lalu beli reksadana, tapi reksa ini blm kesampean sampe skrg, masih nyicil emas dulu. Naruh emas juga agak2 khawatir deh aku. Safe deposti box mahal pua yah ternyata.

  2. Kalau saya Alhamdulillah ke dua anak saya udah punya asuransi pendidikan. Itu sebenernya ditawarin sodara dan ikut2 aja deh :) selain itu jg “nabung” dinar yang fungsi na sebagai dana cadangan. karena jualna ga terlalu susah.

Post Comment