Kiat Membawa Anak Pergi Umrah

by: - Tuesday, May 1st, 2012 at 4:00 pm

In: Kids Destination Traveling 24 responses

0 share

Kalau tadi pagi sudah bercerita tentang pengalaman umrah bersama anak-anak, sekarang saya mau share beberapa kiat membawa anak-anak umrah.

  • Sebaiknya pilih waktu di bulan-bulan awal, jangan menunggu Juni dan sesudahnya karena akan panas sekali. Dua keponakan saya yang SD sampai bilang kapok nggak mau umrah lagi karena kepanasan. Ya, namanya juga anak-anak, belum bisa merasakan nikmatnya ibadah. Jadi jangan sampai niat kita untuk memperkenalkan ritual indah ini malah jadi momen yang bikin trauma untuk mereka.
  • Cek penerbangan apa yang digunakan. Pesawatnya jenis apa dan adakah inflight entertainment-nya? Saya menggunakan Saudi Arabian Airlines dan kebetulan tidak ada inflight entertainment, karena penerbangannya siang hari, jadi harus siap menghibur anak-anak :D. Untung ada iPad dan iPhone. Saya bawakan juga krayon, pensil warna serta buku gambar. Oh dan malam sebelumnya saya biarkan mereka tidur larut dan dibangunkan pagi-pagi, biar ngantuk di pesawat :D. Nggak masalah, sih, jadinya nggak ada inflight entertainment system karena sudah tahu dari awal, jadi sudah lebih siap
  • Jarak hotel yang semakin dekat dengan masjid tentunya akan sangat memudahkan karena nggak terlalu capek bolak-baliknya. Terutama di Mekah, ya, yang areanya lebih luas. O, ya, kita pasti dapat makan 3 kali dari turnya. Tapi kita sering juga beli makanan di luar karena kadang lebih praktis dan bosan dengan makanan dari pihak hotel. Kalau mau makan malam harus setelah Isya, yaitu sekitar pukul 21:30. Kami sering beli di pinggiran masjid saja, di antara Maghrib dan Isya supaya selesai salat bisa langsung tidur.
  • Manage your expectations. Kalo tawaf sama anak-anak, nggak usah ngotot untuk bisa mencium Hajar Aswad atau salat di saf pertama di Raudhah. Duh, daripada anak kita kenapa-kenapa, mendingan yang aman-aman saja. Pastinya membawa anak artinya kita nggak akan sefokus atau semaksimal kalau kita beribadah sendiri. Contohnya kalau kita mengaji, yang biasanya baca surat Yasin bisa selesai dalam 15 menit pasti kalau ada anak akan lebih, karena sebentar-sebentar ditanya atau diajak ngobrol. Dicuekin kok, ya, kasihan :). Momen-momen di mana saya lebih khusyuk adalah ketika anak-anak tidur di hotel dan saya sendirian di masjid. Pernah sekali menangis pas lagi di Raudhah, eh, yang ada Jehan juga ikutan nangis karena bingung melihat saya nangis :D. Tapi, ya, jangan sampai kesal saat anak ajak ngobrol atau main, just enjoy the process dan coba cari celahnya. Bisa juga bergantian sama suami untuk jagain anak. Momen untuk berdoa, kan, nggak hanya ketika waktu-waktu salat saja. Jam berapa pun kita bisa pergi ke masjid. Dan karena Jibran sudah 8 tahun, plus saya kasihan mereka kurang tidur terus (bayangkan pukul 22.00 baru sampai hotel lalu paling telat pukul 04.00 sudah ke masjid lagi), pada hari keempat saya tinggal saja di hotel ketika saya melakukan tahajud dan salat Subuh. Sudah saya kasih tahu kalau kami hanya pergi sebentar ke masjid. Biasanya ketika kami kembali ke hotel, mereka masih tidur, sih. Kalaupun sudah bangun, mereka tinggal melongok ke jendela untuk melihat keramaian orang berbondong-bondong datang dan pergi dari masjid, jadi nggak merasa takut.
  • Supaya anak-anak tidak bosan, ajak juga mereka jalan-jalan di luar rutinitas ke masjid. Bisa sekedar makan es krim dan duduk di pelataran toko/masjid sambil people-watching, atau memberi makan burung (terutama di Mekah, banyak sekali burungnya) sampai menunggangi unta atau naik mobil ATV di Jabal Rahmah. Dengan dibiarkan berlarian bebas, anak-anak sudah pasti senang, kok.

Naik Unta – Main ATV – Parkiran stroller di salah satu pintu masuk

  • Stroller is a must! Lumayan kalau anak capek jalan dari hotel ke masjid, tinggal duduk, deh. Dan juga untuk menaruh barang yang lumayan banyak. Sepatu juga saya taruh saja di stroller, nggak dibawa di tas atau ditaruh di tempat penitipan. Alhamdulillah barang nggak ada yang hilang, padahal suka ada kamera juga di stroller. Anak juga bisa tidur di stroller dan stroller diparkir di sebelah kita saat salat di area luar. Supaya nggak bosan, carilah tempat yang berbeda untuk salat. Untuk di Mekah, bisa di lantai bawah, atas, atau di pelataran luar. Saya sendiri paling suka salat Maghrib dan Isya di area luar masjid waktu di Madinah. Soalnya selain berdoa di bawah langit terbuka yang hampir nggak pernah dilakukan di sini kecuali sholat Ied, untuk anak-anak juga lebih menyenangkan karena mereka bisa berlarian dan banyak temannya. Di Masjid Nabawi, kalau di luar artinya anak-anak bisa bermain dengan gadget karena aturannya cukup ketat. Kita sama sekali nggak boleh bawa gadget yang ada kameranya ke dalam.
  • Begitu sampai, belanja grocery yang penting-penting dulu untuk selama trip tersebut. Sebenarnya ini juga saya terapkan ketika traveling ke tempat lain. Susu, yogurt, keju, buah-buahan yang gampang dimakan (anggur, pisang, dll), roti-rotian, sereal, dan camilan. Ketika ke masjid, bawa camilan yang banyak, sekalian juga untuk dibagikan kalau ada anak-anak di sekitar kita. Orang-orang di sana senang sekali membagikan camilan ke anak-anak. Rasanya setiap waktu salat, selalu ada yang memberikan cokelat, permen, biskuit, kacang-kacangan, dan kurma ke Jehan deh.
  • Masih soal makanan, jangan lupa juga bawa zip lock dan container kecil-kecil. Penting untuk membawa camilan karena kadang kita, kan, beli yang ukuran besar. Terus juga untuk membawa sisa makanan dari restoran. Botol minuman juga penting sekali untuk dibawa. Memang sih banyak air zam-zam di seputar masjid tapi seringnya area masjidnya super penuh, jadi mau beranjak dari spot kita takut nanti didudukin orang. Belum lagi kalo dapet tempat yang agak jauh dari area galon-galon air zam-zam tersebut. Nantinya botol minum itu kan bisa kita isi dengan air zam-zam juga. Oh ya kalau susu sih biasanya saya bawa susu Ultra dari Jakarta, daripada tau-tau anak-anak nggak doyan susu di supermarket sana. Memang lumayan nambah berat sih, tapi kan nggak dibawa balik.
  • Antiseptik perlu dibawa sih karena di sana orang-orang seneeeng banget nyoel-nyoel atau cium-cium anak kita :D. Kalo lewatin pertokoan, bisa setiap beberapa langkah dicolek sama yang jualan. Karena di bawah hotel itu pertokoan, jadi memang harus lewatin area itu setiap pergi dan pulang dari Masjid. Saya bawa sih tapi kayanya nggak sekalipun dipakai deh, emang karena nggak biasa juga pake antiseptik jadinya lupa terus. Padahal saya harusnya lebih extra hati-hati karena kami semua nggak dapet vaksin meningitis sebelum berangkat. Soalnya konfirmasi keberangkatan baru didapat 4 hari sebelumnya, sedangkan vaksin meningitis kan baru efektif setelah 10 hari dari waktu vaksin. Alhamdulillah anak-anak sehat-sehat aja selama perjalanan.

Puas lari-larian

  • Bawa diaper. Ehh ini tergantung anaknya umur berapa sih. Anak saya Jehan umurnya 4 tahun kurang sebulan dan udah nggak pakai diaper lagi. Tapi kalo lagi tidur sih masih suka kebablasan dan dia tipe yang rajin pipis. Jadi, kalau kira-kira saya akan menghabiskan waktu yang lumayan lama di Masjid, saya pakein atau paling tidak bawa diaper. Soalnya pe er juga lho kalo harus ke toilet yang letaknya lumayan jauh dari dalam masjid. Apalagi kalo di Mekkah. Jadi daripada rusuh, apalagi kalo sampai ngompol, mendingan siap sedia diaper deh.
  • Perintilan lain yang harus dibawa yaitu kacamata (penting banget karena matahari di sana benar-benar menyilaukan mata), sunscreen dan topi. Soal baju, Jehan sempat dibelikan beberapa baju muslim sama mama saya tapi karena modelnya dress yang agak ribet gitu, walaupun lucu, tapi banyak yang saya nggak bawa. Yang penting, anak harus nyaman aja deh, jadi saya hanya memakaikan kaos-kaos tangan panjang dan celana/rok panjang.
  • Mungkin bisa dicek juga sebelumnya kira-kira jadwal tawaf dan sai nya jam berapa. Tawaf adalah mengelilingi kabah selama 7 kali yang dilanjutkan dengan  Sai yaitu  jalan dari Safa dan Marwah selama 7 kali. Untuk menyelesaikan 2 ritual tersebut, memakan waktu 3 jam untuk kami. 3 hours of walking non stop. Nggak boleh bawa stroller, lho. Tapi untuk anak kecil bisa sewa kursi roda, bisa didorong oleh petugas atau oleh orang tuanya sendiri. Saya udah pesan sama Jehan kalau cape, kami nggak ada yang bisa gendong, tapi dia boleh naik di kursi roda. Namun kayanya anaknya malu untuk naik kursi roda, jadi ikut jalan aja terus. Walaupun sambil Sai ya sambil ngobrol dan bercanda “Jalannya nggak boleh injek garis ya, Mommy!“. Saya cukup terharu melihat mereka berdua sanggup menjalani itu semua, apalagi mengingat hal tersebut dilakukan dari jam 12 malem sampai jam 3 pagi. Itupun setelah 6 jam perjalanan Madinah-Mekah. Untungnya selama perjalanan, mereka tidur aja, jadi begitu sampai Mekah langsung segar bugar!. Nah jadi mommies harus tahu kondisi anak, kira-kira akan lebih gampang diajak Tawaf dan Sai jam berapa?. Memang sih ini hal bisa kita atur sendiri di luar dari jadwal yang ditentukan pihak tour. Tapi pastinya begitu sampai Mekah kita akan ingin cepat-cepat menyelesaikan ibadah umrah/kondisi ihramnya. Para bapak pasti nggak betah pengen cepat-cepat ganti baju dan pakai celana dalam :D. Oh iya setelah ritual umrah tersebut, ada juga yang namanya Tawaf Wada, dilakukan tepat beberapa jam sebelum meninggalkan Mekah. Selain itu, ada juga Tawaf-tawaf lainnya yang nggak diwajibkan, tapi akan sangat bagus untuk dilakukan. Untuk yang tawaf sunah sih kalau anak-anak kecapean, bisa bergantian aja dengan suami. Kita pun jadi lebih khusyuk dan cepat selesai.

Pas selesai melakukan Tawaf & Sai. Kangeeen sekali deh dengan suasananya. Kangen liat anak-anak sambil jalan dengan riang melantunkan “Labbaik allahuma labbaik” :’). Anak-anak juga sangat terkesan dengan Kabah lho. Mereka bisa duduk saja di pelataran sambil melihat ribuan orang mengitari Kabah. Sampai hotel pun, langsung menyalakan TV saluran siaran langsung dari Kabah dan kembali terpana oleh pemandangan magical tersebut. Mudah-mudahan bisa kembali ke sana yaa dan mudah-mudahan Mommies yang lain yang ingin ke sana, baik untuk pertama kali maupun kembali lagi, diizinkan untuk ke sana secepatnya. Amiiin :)

 

 

Share this story:

Recommended for you:

24 thoughts on “Kiat Membawa Anak Pergi Umrah

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: nika hanidhah
  3. Pingback: chia
  4. Pingback: Dwitya Kirana
  5. Pingback: divianti alfira
  6. Pingback: atik baroroh
  7. Pingback: Annisa Herviana
  8. Pingback: Dina Rismawati
  9. Pingback: lita iqtianti
  10. Pingback: widya wardani
  11. Pingback: Meilia Astuti
  12. Pingback: Bebby Astrika
  13. Pingback: DewiMorrow
  14. Pingback: Ethaa
  15. Pingback: Endah Nugroho
  16. Waaah senangnya liat mukanya anak2 yang ceria gitu. Minggu ini Hanif lagi umrah, sayangnya setelah 2 hari, dia sakit perut :( wuih sedihnya. Aku bawain obat2 standar, buat pilek, batuk dan panas, tapi nggak kepikiran kalau dia bakalan punya masalah dengan perut, wong dia doyan makan gitu. Ternyata pas di sana, dia nggak doyan makanannya, padahal dia adventruous eater lho *sniffs* Mungkin sakitnya karena dia kangen sama bunda dan adik2nya juga ya :D Tapi pelajaran buat aku juga ya, buat bawain stok obat yang lengkap, terus pastiin ada alternatif2 makanan selain yang disediain di hotel seperti yg Hanzky bilang. Insya Allah ada kesempatan berangkat bareng2. Amin :)

  17. Pingback: Mila I'anawati
  18. aahh.. akhirnya baca jugaaa artikel yang ditunggu2 :D
    eh iya ya Han, katanya orang-orang arab itu seneng banget njawili anak kecil. Bearti ga cuman di arabnya, duluuu sempet ketemu orang arab guede-guede di sebuah resto di sini *tapi bukan di puncak :p*, anakku dijawili, dikasih makanan, diajak ngobrol *pake bahasa arab*, sampe akunya yang parno trus pelan-pelan ajak melipir. Tapi ya nggak diapa2in sih, beneran cuman buat “mainan” aja. Tapi kenapa ya?

Leave a Reply