
Cek rekomendasi buku self help yang pas buat para ibu bekerja sebagai bahan bacaan tahun ini. Nomor 1 wajib baca, karena termasuk yang paling populer.
Buat yang lagi senang baca buku dan butuh rekomendasi bacaan non fiksi, seperti genre self-help dan self-development, berikut rekomendasi buku bacaan yang cocok buat Anda, ibu bekerja dan perempuan bekerja, yang cocok untuk jadi hiburan selama commuting, atau saat ada waktu senggang di akhir pekan, sebelum menjalani rutinitas harian. Bentuk bacaannya pun bebas, tinggal pilih, bisa buku fisik, e-reader, bahkan audio book.
Ditulis oleh Natasha Lunn
Tebal buku: 296 halaman
Bukankah kita semua berpikir kalau kita sudah paham betul apa itu cinta? Yang selama ini kita abaikan adalah bagaimana orang memahami cinta secara berbeda-beda. Dari percapakan antara penulis dengan berbagai narasumbernya, kita diajak untuk menyelami makna “cinta” dari berbagai sudut pandang. Pembaca jadi menemukan dunia yang lebih luas di mana cinta itu ada. Bukan hanya antara pasangan laki-laki dan perempuan, tapi cinta dibahas juga lewat persahabatan, hubungan orang tua dan anak, hubungan antara saudara, bahkan antara seseorang dengan orang lain yang sudah meninggal. Buku ini banyak mengajarkan empati karena membahas tentang kehilangan, yang justru memperkaya pengalaman seseorang akan cinta dan kesetiaan.

Ditulis oleh Elizabeth Day
Tebal buku: 148 halaman
Deskripsi: Buku ini berisi panduan saat segala sesuai berjalan “salah” (tidak sesuai harapan). Elizabeth Day mengumpulkan semua pelajaran yang telah ia pelajari dari kehidupannya sendiri dan dari percakapan dengan para tamu podcast-nya. Dari Malcolm Gladwell, Phoebe Waller-Bridge, Andrew Scott sampai Haemin Sunim, dan masih banyak lagi, yang membuat kita jadi bisa melihat sisi lain dari kegagalan yang kita alami. Buku ini cukup tipis dan bacanya nggak perlu dalam sekali duduk. Bisa untuk dikonsumsi harian, sehari satu chapter.
Ditulis oleh Fearne Cotton
Tebal buku: 149 halaman
Buku ini membahas tuntas tentang THE TRUTH atau kebenaran dalam diri, dari kebutuhan, ketidaksukaan, preferensi, sampai perasaan yang memang kalau dipendam itu berbahaya sekali buat diri sendiri. Kecenderungan kita untuk tidak mengungkapkan pendapat salah satunya bisa terlihat ketika kita “iya-iya aja” sama orang lain, padahal sebenarnya kita nggak sependapat. Ada juga bahasan soal emotional independence. Penulis juga mengingatkan, bahwa mengungkapkan sesuatu dengan jujur tidak berarti harus dengan berteriak. Sebaliknya, kita dapat dengan tenang menggunakan kata-kata kita untuk mengangkat kebutuhan kita sendiri atau kebutuhan orang lain jika kita ingin membuat sebuah perubahan.

Ditulis oleh Grace Beverley
Tebal buku: 224 halaman
Buku ini ditulis oleh Grace Beverley, seorang pengusaha yang menyebut dirinya sebagai ‘lazy workaholic‘. Sebagai seorang yang masih produktif, kita pasti sering mengalami tekanan saat harus “standby” di pekerjaan 24/7, sementara kita juga tahu betul pentingnya untuk bisa set boundaries dan memiliki waktu untuk break dari pekerjaan. Namun kenyataannya—terutama bagi wanita dan ibu—, seolah-olah kita jadi harus memilih antara sukses atau tetap waras. Terlebih di dunia kerja yang kompleks saat ini, di mana hobi dapat menjadi sumber penghasilan dan media sosial kita gunakan untuk melihat diri kita sendiri dan orang lain, sehingga menjalani keduanya dengan seimbang makin tampak mustahil. Buku ini menawarkan sudut pandang baru tentang cara menciptakan keseimbangan buat diri kita sendiri dan tetap produktif serta puas akan apa yang kita jalani sehari-hari.
Ditulis oleh Brianna Wiest
Tebal buku: 241 halaman
Brianna Wiest ini salah satu penulis favorit saya, karena setiap baca bukunya, reading journey yang saya rasakan selalu menyenangkan. Awalnya pembaca diberikan pengertian tentang hal-hal apa saja yang selama ini mengisi pikiran kita dan seringkali tidak kita sadari ternyata merupakan bagian dari self-sabotaging. Lalu, kita akan diantar ke cara untuk membangun emotional intelilligent, sampai how to release the past, hingga pada akhirnya bisa melewati “the mountain”.
Baca juga: 10 Rekomendasi Buku Parenting dan Keluarga yang Bikin Lebih Paham Jadi Orang Tua

Ditulis oleh Romi Neustadt
Tebal buku: 224 halaman
Relate banget buat para ibu bekerja. Pembahasan cukup dalam dan detil, dari cara mengetahui nilai diri (yes, kita bahkan harus tahu tarif per jam kita berapa dalam hal profesionalisme), cara mengatur waktu (menentukan mana yang bisa ditunda, mana yang mendesak), cara membangun kebiasaan (bukan soal “berapa lama waktu yang dibutuhkan” untuk menciptakan sebuah kebiasaan, tapi lebih ke kemampuan kita untuk hadir, melakukannya, dan membuat kemajuan), dan masih banyak lagi.

Ditulis oleh Tanya Dalton
Tebal buku: 224 halaman
Buku ini mengingatkan bahwa kita sebagai perempuan (dan ibu) sebetulnya mampu membuat hidup kita menjadi lebih berarti, bermakna, dan bertujuan. Bila ada kemauan, kita selalu punya kesempatan untuk tetap menjadi diri sendiri, hanya saja, dalam versi terbaik. Hal ini dikemukakan oleh penulis lewat tiga tahapan, yakni: Reflection (cara kita berpikir; bagaimana kita menghabiskan waktu; saat kita memilih untuk melakukan sesuatu), Projection (apa yang bisa kita pelajari untuk bergerak ke masa depan? Apa yang bakal jadi pilihan kita?), dan Action (bagaimana kita menjalani pilihan kita, bagaimana kita menginvestasikan diri, lewat usaha, kemampuan menyesuaikan diri dan tentunya bukan dari seberapa besar aksi kita tapi lewat langkah-langkah kecil yang kita ambil setiap harinya).

Ditulis oleh Meaghan B. Murphy
Tebal buku: 256 halaman
Buku ini ditulis oleh seorang ibu, penulis dan editor majalah, sekaligus seorang fitness trainer. Membahas berbagai aspek utama kehidupan dan bagaimana me-maintain supaya kita nggak selalu in a low-battery mode. Bahasannya cukup dalam dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

Ditulis oleh Desi Anwar
Tebal buku: 260 halaman
Kumpulan kisah yang cukup “menampar” kita yang sedang menikmati kesibukan, khususnya di dunia online. Namun, buat saya, buku ini sebetulnya merupakan ajakan agar bisa lebih mindful dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Siap-siap merasa kurang relate, kalau sampai sekarang ini kita masih menikmati kehidupan yang serba kejar-kejaran dengan waktu. Tapi kalau sudah sadar ingin lebih menikmati setiap waktu yang dilewati, buku ini akan sangat menginspirasi Anda.

Ditulis oleh Ken Robinson, Lou Aronica
Tebal buku: 288 halaman
Buku ini adalah deskripsi mendalam atas kalimat yang sering dipakai orang-orang: “In my Element”. Jadi, ya, isinya benar-benar mempelajari apa itu element (passion; what you love; what sparks joy to you; what gives you energy; things you feel worth your time spending), menarik banget, kan? Buat orang yang mungkin merasa sudah ketemu sama element-nya, buku ini akan tetap cocok, sih, buat dibaca, karena yang dibahas bukan hanya how to discover passion tapi juga how to maintain the passion itself. Sudah ketemu? Bagus! Habis itu, apa? Jika digali lebih dalam lagi, kita bakalan bisa menemukan tujuan hidup kita.
Kira-kira, mana yang mau dibaca duluan? Atau mungkin, sudah ada yang pernah Anda baca?
Image by Freepik