banner-detik
PARENTING & KIDS

Pagari Diri dari Pelecehan Seksual, Buat Para Orang Tua yang Anaknya di Asrama

author

Ficky Yusrini30 Aug 2022

Pagari Diri dari Pelecehan Seksual, Buat Para Orang Tua yang Anaknya di Asrama

Anak di asrama bisa rentan menjadi korban pelecehan seksual, cobaan buat para orang tua zaman sekarang. Bagaimana untuk mencegah hal buruk ini terjadi? 

Jadi, Anda sudah memutuskan untuk menyekolahkan anak ke asrama? Baik itu pesantren, boarding school, atau sekolah yang harus kos sendiri. Setiap pilihan pasti membawa konsekuensi. Kali ini, pengorbanan yang harus ‘dibayar’ adalah jarak yang jauh dengan anak. Tak sedikit yang galau, melepas anak nun jauh di sana, menyimak pemberitaan dengan terungkapnya beberapa tindak pelecehan seksual di sekolah asrama. Bagaimana sebagai orang tua bisa memagari dan membekali amunisi agar peristiwa buruk itu tak akan menimpa anak?

Baca juga: Cara Memulihkan Mental Anak dan Orang tua Korban Pelecehan Seksual

Berikut beberapa tips untuk orang tua yang anaknya di asrama

Membangun bonding yang kuat

Mau anak jauh atau dekat, semakin mereka beranjak remaja, bonding kuat perlu terus dibangun. Bedanya, kalau jauh, komunikasi jadi lebih terbatas. Optimalkan akses komunikasi yang ada. Lakukan komunikasi secara rutin, pada waktu dan hari yang sama. Misal, video call, kunjungan, ataupun liburan bareng, yang terjadwal secara rutin. Sesekali beri kejutan di luar rutinitas, seperti kirim makanan atau barang kebutuhan mereka. Jadwal yang rutin akan membuat anak merasa aman dan tahu kapan ia bisa menjangkau orang tua.

Baca juga: 8 Kesalahan yang Membuat Momen Bonding dengan Anak Gagal Total

Antena lebih peka

Tidak semua anak lancar berbahasa verbal dalam mengungkapkan isi hatinya kepada orang tua. Untuk itu, orang tua yang perlu lebih peka jika ada gerak-gerik anak yang janggal atau di luar kebiasaan. Tunjukkan empati saat anak menyampaikan masalah yang dihadapinya, walaupun mungkin buat kita itu sepele, tapi bisa jadi buat anak tidak. Lakukan validasi emosi pada apa yang sedang dihadapi anak. Hindari membuat anak merasa dihakimi saat ia mengutarakan kejujuran.

Baca juga: Tips Komunikasi dengan Anak Remaja

Hal tabu yang sering dihindari tapi harus dibicarakan

Saat anak memasuki usia remaja, ajak ia untuk berdiskusi masalah sensitif, seperti pendidikan seks, seksualitas, dan pandangan tentang lawan jenis. Anda bisa mencoba memancing pendapatnya. Ketahui juga seberapa jauh ia memahami tentang ancaman yang berkaitan dengan seksualitas, seperti pelecehan seks dan bagaimana menghadapi serta menjaga diri.

Baca juga: Tips Bicara Tentang Seks Kepada Anak Remaja

Bergaul dengan teman-teman anak dan orang tua mereka

Teman-teman dan guru-gurunya adalah keluarga baru anak. Dengan mereka, interaksi anak lebih intens. Untuk itu, orang tua juga perlu mengenal baik siapa saja teman-temannya, menyapa, mengobrol, memberi perhatian pada mereka selayaknya anak-anak sendiri. Selain bisa menjadi cara untuk menguatkan bonding, kalau terjadi apa-apa, Anda juga bisa mengorek informasi yang tidak semuanya tersampaikan oleh anak. Seringkali, anak jauh lebih terbuka mengungkapkan hal-hal pribadi ke teman dibanding orang tua.

Belajar menerima ketidaknyamanan

Karena anak jauh dari rumah, di awal-awal anak pasti akan mengeluhkan situasinya. Entah itu kamar, makanan, guru, pengawas, teman, dan sebagainya. Situasi baru dan keluar dari zona nyaman, pasti akan sangat berat buat anak. Sebagai orang tua, Anda perlu melepas dorongan untuk mengontrol, menenangkan, dan mengatasi semua masalah anak. Anda perlu belajar membiarkan anak menangani masalah dan mencari solusi sendiri. Di sisi lain, Anda juga perlu peka, kapan harus turun tangan dan mengambil tindakan tegas, mencegah peristiwa yang lebih buruk terjadi.

Apabila hal buruk terjadi

Photo by Nguyen Dang Hoang Nhu on Unsplash

Seperti, anak menemukan temannya mengalami pelecehan seksual, ungkapkan bahwa kejadian ini tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun. Berikan dukungan penuh pada anak untuk bisa mendampingi teman dan melakukan tindakan tegas yang diperlukan.

Apabila anak mengalaminya? Follow up segera dengan menggali informasi sebanyak mungkin, baik dari anak maupun teman-teman di lingkungannya, seperti apa bentuk pelecehan yang dialaminya. Tindak pelecehan seksual kategorinya cukup luas, mulai dari pelecehan jenis kelamin, perhatian seksual yang tidak diinginkan, pemaksaan seksual, penyuapan seksual, dan pelanggaran seksual.

Pada tingkat tertentu, jika dibutuhkan, tarik anak dari tempat tersebut. Biarkan anak mendapat penanganan secepat mungkin dari psikolog maupun tenaga medis. Setelah itu, lakukan investigasi dan melaporkannya pada pihak yang berwenang agar tak jatuh lagi korban-korban lainnnya.

Share Article

author

Ficky Yusrini

-


COMMENTS