Tips Berbicara Tentang Seks Kepada Anak Remaja

Seks, topik yang kerap masih dianggap tabu untuk menjadi obrolan antara orangtua dan anak. Masihkah itu kita rasakan? Jangan ya, agar anak kita nggak dapat informasi yang salah kaprah.

Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak yang melakukan survey pada 4.500 remaja di 12 kota besar di seluruh Indonesia pada tahun 2010, diperoleh data sebagai berikut:

– 62,7% remaja SMP di Indonesia sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah.

– 93,7% remaja yang duduk di bangku SMP dan SMA sudah pernah berciuman.

– 21.2% remaja SMP pernah melakukan aborsi.

– 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno.

Kebayang nggak, survey itu tahun 2010 alias sembilan tahun lalu. Bagaimana dengan kondisi sekarang? Kok jadi deg-degan ya….

Dulu zaman saya muda belia, nggak pernah sekalipun saya mendapat arahan atau wejangan dari orangtua atau bahkan sekolah mengenai edukasi seks. Semua belajar sendiri, semua mencari tahu sendiri. Terbengong-bengong ketika tahu sahabat saya hamil menjelang UN, kaget ketika teman lain ketahuan aborsi. Semua belajar sendiri. Tanya ke mama? Takut dimarahi.

Belajar dari pengalaman saya remaja, makanya saya nggak mau menganggap topik tentang seks ini adalah hal yang tabu untuk diobrolin sama anak-anak. Merasa nggak nyaman di awal? Iya banget, apalagi anak-anak saya cowok semua. Tapi daripada mereka mencari tahu ke sumber yang salah dan berujung dengan salah kaprah? Mending rasa sungkan saya pendam jauh-jauh.

Biasanya, yang paling susah itu di awal, hehehe, bagaimana membuka obrolan dengan anak remaja mengenai seks? Kalau awalnya sudah ada jalan, ke belakangnya jadi lebih mudah.

eye-for-ebony-415494-unsplash

Menurut mbak Vera Itabiliana, Psi, kita bisa langsung mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti:

- Seks menurut kamu apa sih, nak?
– Menurut pandangan kamu, untuk membuktikan sayang ke pacar harus seperti apa?
– Kalau teman-teman kamu gaya pacarannya bagaimana?

Intinya, pertanyaan-pertanyaan yang bisa mengarahkan kita ke obrolan mengenai seks guna mencari tahu sudah sejauh mana pemahaman anak kita mengenai seks tersebut. Asaaaaaaaaal, cari momen yang tepat untuk masuk ke topik ini. Misalnya, ketika sedang nonton film yang di dalamnya ternyata ada adegan percintaan. Nah, selesai nonton bisa kita bahas.

Salah satu topik yang bisa kita angkat, misalnya mengenai seks pranikah yang bisa jadi sekarang dianggap umum di kalangan remaja. Anak perlu dipaparkan pada pilihan-pilihan yang ada beserta konsekuensi-konsekuensinya. Contoh:

Pilihan A:

Melakukan seks pranikah. Konsekuensinya kehamilan di luar nikah, kondisi organ rahim yang belum siap di usia semuda itu, bisa jadi tidak bisa maksimal meraih cita-cita dan pendidikan yang kita inginkan, memiliki tanggung jawab seorang anak di usia yang masih muda, kematangan emosi yang belum cukup, dan seterusnya.

Pilihan B:

Menikah dulu. Konsekuensinya, ya kamu harus fokus belajar, meraih nilai yang baik, mencari pekerjaan yang bagus karena untuk menikah dan membangun sebuah keluarga itu nggak cukup hanya dengan cinta, tapi juga butuh biaya.

Dan pilihan-pilihan lain atau konsekuensi lain jika memang ada. Bimbing anak untuk sampai kepada pilihan yang tepat.

Jangan langsung mengarahkan anak “Kamu harus begini, kamu nggak boleh begitu, dll”. Ingat aja kalau remaja itu nggak suka dibatasi sepihak, sehingga segala keputusan atau tindakan harus datang dari pilihan mereka sendiri. Pilihan yang sehaat tentunyaaaa ya. Jangan mentang-mentang setiap putusan sebaiknya datang dari keinginan si anak, kita jadi diam aja begitu pilihannya adalah pilihan yang buruk. Setiap pilihan perlu dibahas tuntas konsekuensinya.

Nggak ada salahnya kok kalau kita mau memberikan contoh dari orang di sekitar kita yang salah pergaulan. Misalnya, dalam kasus saya, saya bilang ke anak-anak:

“Kamu tahu tante B yang temannya mama? Tante B itu dulu hamil di luar nikah, akhirnya nggak bisa melanjutkan sekolah, dan harus mengurus anak di usia muda. Karena umur si tante masih terlalu muda buat menjadi ibu, akhirnya hubungannya nggak bagus lho sama anak-anaknya. Ditambah tante B jadi kecil kesempatan untuk mencari pekerjaan di waktu itu karena latar belakang pendidikannya kurang.”

Anak jadi punya bayangan nyata mengenai apa yang akan terjadi ketika dia salah mengambil keputusan.

Bagaimana ketika kita ‘ketemu’ dengan kasus seperti kasus teman saya: Anaknya bicara jujur kalau pacarnya sudah mengajak untuk melakukan hubungan seks. Namun saat dia cerita, belum kejadian sih. Apa yang harus kita lakukan?

Menurut mbak Vera, cari cara untuk mengatasi ajakan ini. Bisa juga kita tanya dulu ke anak, kalau menurut dia bagaimana? Baru kita bisa tanamkan value-value yang ada di keluarga kita mengenai hal ini. Baru kemudian berlanjut membahas kriteria pacar atau pasangan yang baik seperti apa, sih? Apakah mengajak untuk berhubungan seks sebelum menikah termasuk kriteria pasangan yang baik? Bisa juga kita tambahkan, kalau dari sudut pandang kita sebagai orangtua, kriteria pasangan yang baik seperti apa, lengkap dengan alasan-alasannya.

Satu hal yang juga jangan kita lupakan adalah mengajarkan anak mengenai positive relationship with their body. Agar dia belajar untuk menghargai dan mencintai tubuhnya sehingga dia akan menjaga tubuhnya dengan baik.

Baca juga:

Membangun Self Esteem Pada Anak Remaja

Berdasarkan pengalaman praktik mbak Vera, cara yang paling ampuh adalah memberi contoh. Bagaimana kita sebagai orangtua memandang tubuh kita. Ada kasus, seorang anak yang mengalami bulimia karena ternyata ibunya sendiri setiap jam selalu menimbang badan :D.

Ajarkan anak untuk menjaga dan mencinta tubuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Bahwa banyak hal positif lain yang ada di dalam dirinya di luar seputar tubuh. Ingat mantra ini “your body is your temple,” dan kembangan self esteem anak sehingga tidak mudah terbujuk rayuan seperti “Kamu nggak keren kalau nggak melakukan seks pranikah,” dan sebagainya.

Baca juga:

Agar Anak Memiliki Self Esteem yang Baik


Post Comment