Now Reading
Craniosynostosis: Ubun-ubun Bayi Tertutup Ketika Baru Lahir

Craniosynostosis: Ubun-ubun Bayi Tertutup Ketika Baru Lahir

RachelKaloh

Craniosynostosis, kondisi di mana ketika bayi lahir, ubun-ubunnya menutup lebih cepat. Seberapa bahayakah kondisi ini?

Craniosynostosis adalah sebuah kondisi cacat lahir, di mana kepala bayi berkembang dengan tidak normal dan menyebabkan bentuk kepalanya tampak tidak sempurna. Data dari CDC menyatakan bahwa di Amerika Serikat setidaknya ada 1 dari 2,500 bayi yang lahir dengan kondisi craniosynostosis. Kondisi ini dialami juga oleh salah satu momfluencer, @namiramonda, yang ia ceritakan di sini. Bagaimana kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan anak dan apa yang harus dilakukan ketika anak mengalaminya? Simak penjelasannya berikut ini.

Craniosynostosis, ubun-ubun tertutup sejak lahir

Normalnya, tulang tengkorak merupakan gabungan dari beberapa tulang yang dihubungkan oleh ubun-ubun, yang ketika lahir masih tetap terbuka sampai bayi berusia kurang lebih dua tahun. Saat otak berkembang, ubun-ubun akan menutup dan membentuk tulang tengkorak yang padat.

Pada bayi dengan craniosynostosis, ubun-ubunnya menutup lebih cepat sebelum otaknya terbentuk sempurna. Akibatnya otak mendorong tulang tengkorak dan bentuk kepala bayi menjadi tidak proporsional. Bila tidak ditangani, anak akan mengalami perubahan bentuk kepala serta wajah secara permanen. Tidak hanya itu, tekanan di dalam rongga kepala bisa meningkat dan memicu kondisi yang serius, seperti kebutaan hingga kematian. 

Faktor pemicu anak mengalami craniosynostosis

Dilansir Klikdokter.com, craniosynostosis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  • Non-sindromik, tidak disertai cacat lahir lainnya dan umumnya tidak diketahui penyebabnya.
  • Sindromik, disebabkan berbagai sindrom yang umumnya timbul akibat kelainan genetik.

Terkait penyebabnya, craniosynostosis dapat terjadi akibat:

  • Kelainan darah yang menyebabkan hyperplasia sumsum tulang, seperti sickle cell dan thalassemia
  • Pertumbuhan otak yang kurang (mikrosefali)

Berdasarkan laporan CDC terkait hasil studi penelitian tentang faktor yang meningkatkan kemungkinan memiliki bayi dengan craniosynostosis, ditemukan bahwa:

  • Ibu yang mengalami penyakit tiroid saat hamil memiliki peluang lebih tinggi melahirkan bayi dengan craniosynostosis dibandingkan dengan yang tidak memiliki penyakit tiroid.
  • Wanita yang menggunakan obat-obatan tertentu, seperti clomiphene citrate (obat kesuburan) sebelum maupun di awal kehamilan lebih mungkin memiliki bayi dengan craniosynostosis, dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan obat tersebut.

Gejala craniosynostosis

Kelainan tulang kepala ini biasanya disertai gejala, seperti:

  • Bentuk kepala yang abnormal.
  • Adanya garis keras sepanjang area sutura atau ubun-ubun tampak sudah tertutup, tidak ada bagian yang terasa lunak.
  • Pertumbuhan kepala bayi tidak proporsional dengan pertumbuhan tubuhnya.
  • Peningkatan ICP (intracranial pressure) atau tekanan dalam tengkorak, biasanya disertai nyeri kepala, gangguan penglihatan, penurunan kemampuan akademik anak secara tiba-tiba, dan muntah.

Diagnosis craniosynostosis

Pemeriksaan perlu dilakukan oleh dokter untuk menemukan adanya bentuk kepala yang abnormal. Pada umumnya, begitu bayi lahir, ia akan melalui proses pemeriksaan pertama oleh dokter anak, termasuk pemeriksaan fisik. Pada beberapa kasus craniosynostosis, dokter bahkan sudah dapat melihat adanya kelainan yang terjadi pada tulang kepala begitu bayi lahir. Selain melakukan pengukuran kepala bayi, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat kondisi bayi. Pemeriksaan lanjutan mungkin juga diperlukan, seperti CT-scan, MRI atau rontgen untuk memastikan diagnosis. 

Baca juga: 7 Tes Kesehatan Wajib Pada Bayi Baru Lahir

Penanganan craniosynostosis yang bisa dilakukan

Pada dasarnya, penanganan craniosynostosis yang dilakukan berdasarkan tingkat keparahan yang dialami anak. Untuk tingkat keparahan ringan atau sedang, anak tidak membutuhkan pengobatan khusus. Dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk menggunakan helm khusus yang dapat membantu memperbaiki bentuk tengkorak dan membantu perkembangan otak.

Dari childrensnational.org, penanganan yang dilakukan terhadap kasus craniosynostosis berupa pengobatan untuk menghilangkan tekanan di dalam kepala, memastikan adanya ruang yang cukup bagi otak untuk tumbuh serta mengoreksi kelainan bentuk tengkorak dan wajah. 

Operasi atau pembedahan dapat dilakukan, tentunya dengan pemeriksaan yang dilakukan sebelumnya, di mana dokter akan menilai keadaan anak, apakah siap untuk melakukan operasi. Ada dua jenis operasi yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Bedah endoskopi

Bedah ini boleh dilakukan pada bayi di bawah usia 6 bulan. Prosedurnya biasanya memerlukan satu hari rawat inap dan tidak memerlukan transfusi darah. Setelah prosedur ini dilakukan, terapi dengan helm khusus tetap perlu dilakukan untuk memperbaiki bentuk tengkorak. 

  • Bedah terbuka

Biasanya dilakukan pada bayi di atas 6 bulan. Bedah terbuka ini memerlukan tiga sampai empat hari rawat inap dan transfusi darah.

Perlu diingat!

Bentuk kepala bayi yang tidak normal tidak selalu menandakan bahwa bayi mengalami craniosynostosis, bisa saja akibat bayi terlalu sering tidur pada salah satu sisi, tanpa berganti posisi. Bila Anda menduga ada keganjilan pada perkembangan atau bentuk kepala bayi Anda, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Baca juga:

Mengenal Kelainan Genetik: Sindrom Treacher Collins

3 Gangguan Pernapasan pada Bayi Baru Lahir

Photo by Jimmy Conover on Unsplash

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top