Fakta Kalung Eucalyptus dan Pendapat para Tenaga Kesehatan

Produk ini tidak layak disebut “Antivirus Corona”, sebut saja “Kalung Eucalyptus” – Dr. Dirga Sakti Rambey, M.Sc, Sp.PD

Saya pikir segala jenis kalung-kalungan anti virus sudah hilang dari peradaban alias sudah nggak ada lagi yang pakai, hahaha, ternyata saya salah, karena sampai saat ini masih saja ada anggapan bahwa kalung eucalyptus bisa berfungsi sebagai anti virus. Sesat banget, tapi setelah saya mencoba menelaah, ini, nih, fakta kalung eucalyptyus!

Kalung Eucalyptus dan Pendapat para Tenaga Kesehatan - Mommies Daily

Alkisah: Eucalyptus diklaim bisa mematikan Corona oleh Kementan

Kepala Balitbangtan Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjry Djufry pernah mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan uji laboratorium pada senyawa aktif tanaman eucalyptus, yakni eucalyptol atau 1,8-cineol. Dikatakan, tanaman tersebut memiliki dampak positif dalam menghambat pertumbuhan berbagai jenis virus influenza, termasuk Corona.

Menurut Fadjry, “Dari sekian banyak tanaman herbal yang diuji, minyak atsiri (eucalyptus)-lah yang memiliki potensi sangat besar, kemungkinan besar sangat bisa menekan pertumbuhan virus Corona”. Pernyataan ini ia sampaikan dalam telekonferensi Launching Anti Virus Corona berbasis Eucalyptus pada bulan Mei lalu. Karena itulah, Mentan memproduksi berbagai macam produk Eucalyptus dalam bentuk inhaler, roll on, oil diffuser, hingga kalung. Lihat, dong, nama produknya! Anti Virus Corona, WOW!

Kalung Eucalyptus digunakan oleh jajaran pemerintahan

Setelah kemudian dipatenkan oleh Balitbangtan, produk Eucalyptus jadi heboh di masyarakat. Terlebih ketika Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dan jajarannya yang kedapatan memakai kalung Eucalyptus saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI. Kalung tersebut terlihat sangat mencolok. Ditambah, maskernya tidak terlihat digunakan dengan benar. Pada 3 Juli 2020, di depan pers, Mentan mengatakan, “Jika kalung tersebut digunakan selama 15 menit, maka antivirus akan bekerja membunuh 42% Covid-19. Jika kalung digunakan selama 30 menit, maka dapat menangkal 80% Covid-19.”

Kalung Eucalyptus dan Pendapat para Tenaga Kesehatan - Mommies Daily

Bantahan Overclaim Kalung Eucalyptus

Hingga akhirnya, produk yang dinamakan Anti Virus Corona Eucalyptus keluaran Kementan tersebut lalu dibantah sebagai antivirus. Karena ternyata, pengujian yang dilakukan baru sampai tahap in vitro di laboratorium dan bukan spesifik pada jenis virus Corona SARS-Cov-2 yang menjadi penyebab Covid-19. Menurut Fadjry, kalung tersebut merupakan aromaterapi dan bukan antivirus Corona, “Kami tidak overclaim. Izin dari BPOM tidak menyebut antivirus, tapi sebagai jamu.” Saat konferensi pers di Kantor Balai Besar Penelitian Veteriner Kementan, Bogor, ia pun mengatakan, “Kalung ini sebagai aksesoris kesehatan, ini bukan jimat, tidak ada klaim antivirus di situ.”

Apa kata dokter dan para ahli kesehatan?

Dalam twitnya, Dr. Dirga Sakti Rambey, M.Sc, Sp.PD mengatakan bahwa produk ini tidak layak disebut “Antivirus Corona”. Klaim yang diajukan Kementan hanya berdasarkan penelitian pada sel, belum diuji pada manusia. Tidak ada bukti sahih produk ini dapat mencegah #Covid19. Ikuti saja yang sudah jelas, yakni jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan.

Sedangkan dr Jaka Pradipta SpP menyatakan mengapresiasi bagaimana masyarakat Indonesia dan pemerintah berupaya membuat inovasi pencegahan dan pengobatan penyakit covid19 yang berasal dari kekayaan Indonesia. Beberapa penelitian klinis menunjukan eucalyptus mampu mengurangi keluhan sesak dan mengencerkan dahak pada pasien Asma dan bronkhitis serta menunjukkan mampu bekerja sebagai zat desinfektan penghancur virus. Namun penelitian ini masih dilakukan di laboratorium dan virus yang digunakan bukan virus Sars cov2 penyebab  covid19. Sehingga perlu penelitian lanjutan. Selain itu penggunaan eucalyptus sebagai kalung juga dipertanyakan cara kerjanya, karena virus masuk ke tubuh melalui lubang hidung, mulut dan Mata. Sedangkan benda yang dikalungkan tentu saja tidak mampu melakukan perlindungan di wajah. Kalung virus shout out dari Jepang yg mengandung chloride yang sempat diperjual belikan juga sudah tidak boleh dikatakan bekerja sebagai antivirus

Sementara, ahli biologi molekuler, prof. Pratiwi Sudarmono menyebut bahwa pernyataan Kementan soal kalung antivirus ini overclaim. Hal ini berpotensi membuat masyarakat percaya, sehingga berimbas pada lengahnya masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan

Kalau sudah begini, sebaiknya, ya, memang, kembali ke akal kita saja. Obat dengan kandungan apapun kalau hanya digunakan sebagai kalung, apakah akan ampuhnya menangkal virus? Kita tahu, kok, jawabannya.

Baca juga:
Do’s and Dont’s Menggunakan Toilet Umum Saat Pandemi
Jenis Batuk Pada Anak: Beda Penyebab, Beda Penanganan


Post Comment