Now Reading
Kenapa Saya Tetap Butuh Berteman dengan Mereka yang Tidak Punya Anak

Kenapa Saya Tetap Butuh Berteman dengan Mereka yang Tidak Punya Anak

Kalau banyak ibu yang lingkungan pertemanannya didominasi oleh sesama ibu, itu nggak berlaku buat saya pribadi. Saya punya banyak teman yang belum menikah dan belum punya anak. 

Pertemanan Beragam Usia - Mommies Daily

Beberapa teman pernah terheran-heran ketika melihat lingkup ‘tongkrongan’ pertemanan saya yang ternyata nyariiis seimbang antara mereka yang nggak punya anak dengan mereka yang masih kinyis-kinyis, single, belum nikah dan belum punya anak.

Saya, yang merasa sebagai mahluk setengah-setengah: setengah introvert dan setengah ekstrovert memang semakin tua semakin merasa perlu menyortir jumlah teman. Lebih penting sedikit tapi berkualitas dibanding banyak tapi begitu lagi butuh curhat susah cari telinga, ahahaha.

Akhirnya, di usia yang mau memasuki 40 tahun ini, teman-teman dengan siapa saya bisa berbagi sampah, meminta masukan yang sepahit pare dari mulut tapi sayangnya masukan mereka memang benar bisa dihitung. Total jumlah mereka itu ada 30 orang.

Berhitung antara yang sudah menikah dan punya anak, dengan yang belum menikah dan tentu belum punya anak, ternyata perbandingannya itu 17: 13. Beda tipis kan, hehehe. Nah yang belum menikah atau tidak punya anak pun juga rentang usianya beragam, mulai dari yang paling muda 23 tahun sampai yang paling tua 43 tahun. Rutinitas sering kumpulnya juga imbang , ahahaha. Pernah juga ada netizen yang heran, kok saya bisa kenal dan berteman baik dengan anggota tim di kantornya yang usianya hampir setengahnya saya. Hihihi.

Entah kenapa, saya senang berteman dengan mereka-mereka yang tidak punya anak. Kenapa?

1. Mereka bisa memberikan sudut pandang yang berbeda untuk suatu masalah yang saya hadapi. Sudut pandang, solusi atau masukan yang seringkali berbeda dari mereka yang kondisinya sama-sama punya anak seperti saya. Sudut pandang yang meskipun keluar dari mulut manusia-manusia yang nikah aja belum dan nggak tahu ribetnya urusan memenuhi kebutuhan emosi anak, ternyata, surprisingly bisa banget diterapkan, hehehe.

2. Saya bisa mendapat informasi-informasi baru tentang tempat makan enak yang terbaru dengan ambience anak muda yang cukup aman untuk saya kunjungi bersama anak-anak saya.

3. Saya jadi tahu apa yang lagi happening di dunia mereka yang ternyata cukup nyambung dengan dunia anak-anak saya. Apalagi kalau bicara tentang influencer-influencer masa kini, vlogger, musisi atau artis. Ini membuat saya jadi nyambung ngobrol dengan anak-anak saya.

4. Saya belajar lebih menikmati dan lebih santai dalam menjalani hidup. Mereka yang mengajak saya untuk rehat sebentar sebagai orang tua, istirahat sejenak dari status ibu saya, dan belajar untuk memberi ruang untuk diri sendiri. Traveling, nonton konser musik, belajar sesuatu yang baru. Mereka membuat saya memberi waktu bagi diri saya sendiri.

Baca juga:

Habis-habisan demi Anak, Benarkah Itu yang Terbaik?

5. Topik obrolan yang jauh lebih beragam tak hanya mengenai anak, pasangan, tagihan bulanan, hingga sulitnya me time di tengah-tengah urusan rumah dan pekerjaan.

6. Dan di sisi lain, mereka juga membuat saya menjadi ‘sedikit’ lebih bijak, ahahahah. Karena saya dianggap lebih berpengalaman kalau dilihat secara usia (zzzttttt), tak jarang saya menjadi tempat curhat dengan berbagai macam topik. Urusan berantem sama pacar, berantem sama orang tua, mau nikah atau nggak, hingga tentang orang tua pacar yang tak merestui. Saya kan nggak mungkin asal memberi masukan, harus mikir dengan benar supaya nggak menjerumuskan orang ke lubang hitam, hehehehe.

Jadi, mari lebarkan sayap pertemanan kita ya bu ibu – ibu …..

Baca juga:

Mari Lebih Banyak Menggunakan Adult Brain

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top