Habis-habisan, Semua Demi Anak. Benarkah Cara Itu Terbaik?

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Anak memang seperi nyawa kedua kita. Dijaga sepenuh hati, dijaga sebaik mungkin. Tapi jangan sampai sebagai orangtua punya standar yang terlalu tinggi, tidak mengukur kemampuan, untuk memenuhi semua kebutuhannya. 

Habis-habisan, Semua Demi Anak. Benarkah Cara Itu Terbaik?

Saat berlibur ke Yogyakarta bersama keluarga besar, beberapa waktu lalu, adik saya menghabiskan waktu seharian buat keliling kota mencari oleh-oleh untuk anak balitanya yang perempuan, Alicya (3). Ia ingin membawakan boneka Elsa Frozen yang bisa dipeluk. Di sebuah toko mainan yang cukup besar, mbak pegawai toko mengeluarkan sejumlah koleksi boneka Elsa, tetapi adik saya menggeleng. “Yang itu udah punya semua,” jawabnya. “Wow!” saya jadi kaget sendiri. “Memangnya berapa banyak koleksi mainan Alicya?” Adik saya senyum-senyum. “Banyak, deh, pokoknya!”

Sebagai orangtua, kita memang cenderung royal dalam mengekspresikan rasa cinta kita kepada anak. Itu baru soal mainan. Belum yang lain-lain. Lama tak punya bayi lagi, iseng saya mengecek gear untuk bayi yang kekinian, ternyata ada banyak sekali gear baru. Mungkin sebetulnya sudah ada sejak dulu, tetapi sekarang beralih rupa, dengan tampilan  yang lebih canggih dan pilihan lebih banyak. Misalnya, jumparoo. Kalau dulu namanya gledekan bayi :p. Lalu, gendongan, sekarang ada banyak jenisnya. ‘Gear’ menyusui, soother, gadget untuk menemani bayi tidur, sampai, ada lho, gadget untuk memonitor detak jantung dan kadar oksigen bayi saat ia tidur! Gedean dikit, sudah waktunya dibelikan smart watch yang bisa buat telepon. Yeay. Welcome to the future!

Saya sendiri, dulu terbilang royal dalam belanja buku untuk bayi (oops!). Kategori children book dengan kemasan hard cover, pop up, soft book, dengan gambar-gambar animasi yang menggoda, rasanya pingin dibeli semuaa! Padahal, ya, kalau sekarang saya pikir-pikir lagi, anak saya waktu masih bayi bisa apa, sih. Lebih penting koleksi buku cerita buat bacain read aloud kayaknya, daripada koleksi buku bergambar yang costly (untuk ukuran dompet pas-pasan seperti saya). Lain cerita kalau anaknya Nia Ramadhani. 

Baru soal showering bayi dengan berbagai jenis belanjaan. Kita sebagai orangtua, suka enggak tega, kalau anak tidak dibelikan macam-macam gear terkini. Takutnya, setelah anak besar nanti jadi MKKB (masa kecil kurang bahagia).

Belum lagi untuk aktivitas. Terlalu banyak membaca teori parenting, kata teori, anak sekarang harus mendapat stimulasi yang optimal lewat kegiatan ini itu, kudu diperhatiin banget, kalau perlu dari detik ke detik, apakah anak kita bahagia atau tidak. 

Baca juga: Begin with the End in Mind: Ingin Dikenang Sebagai Ibu yang Seperti Apa?

Turunkan ekspektasi   

Tentang tingginya ekspektasi orangtua zaman sekarang, disinyalir oleh Dr. Pooja Lakshmin, M.D., psikiater ibu dan anak yang berbasis di Washington, D.C. “Saya banyak menangani kasus para ibu yang mengalami depresi dan kecemasan. Mereka mengalami tekanan luar biasa akibat ekspektasi yang tinggi dalam mengasuh anak. Di samping itu, mereka juga harus bekerja, dan merawat diri.” Dalam masyarakat kita, standar untuk menjadi seorang ibu dipatok amat tinggi. Makanya ada istilah supermom. The power of emak-emak. 

Di sisi lain, kita sendiri yang tidak bisa berkompromi dengan ketidaksempurnaan. Ningrum, salah seorang teman saya, pernah bercerita, ia tak bisa mempercayakan pekerjaan bersih-bersih rumah pada pembantu ataupun meng-hire pekerja dari aplikasi. Kenapa tidak? Tanya saya heran. “Lebih kesal rasanya kalau sudah bayar orang, tapi pekerjaan mereka tidak bisa sebersih kalau aku yang ngerjain. Ya mending kerjain sendiri, lah,” jawaban Ningrum, yang membuat saya gemas. Begitupun untuk urusan cucian. Meski Ningrum selalu mengirim baju kotor ke laundry, di rumah ia seterika ulang semua cucian dari laundry tersebut. Duh, saya tak sanggup membayangkan kalau saya jadi dia. 

Buat skala prioritas

Mungkin sudah dari sananya, sebagai perempuan kita selalu dihantui perasaan bersalah, takut dihakimi, takut dinyinyiri. Seringkali ketakutan-ketakutan tersebut memengaruhi persepsi kita. Apa yang bagus untuk kita, adalah apa yang bagus kata orang, di mata orang. Bukan betul-betul datang dari kebutuhan kita. Segala yang kita lakukan pun seolah memenuhi tuntutan ideal dan sempurna di mata orang lain. Contoh sederhana, tanpa sadar, kita senang bercerita ke orang lain jika ada ‘kehebatan’ yang ditunjukkan oleh anak kita. Tanpa sadar, ya (walau banyak juga yang secara sadar). Sebab, orangtua mana sih, yang tidak bangga sama anaknya. Tapi, orang lain yang melihat, kesannya seperti pamer. 

Yang bahaya adalah, ketika ‘tuntutan sosial’ tersebut membuat kita mati-matian, mencurahkan seluruh waktu untuk anak, sampai kita burn out. Kelelahan fisik dan mental. Habis-habisan demi anak, sampai dibela-belain gali lubang tutup lubang. 

Saatnya untuk merefleksikan apa yang paling penting menurut kita sendiri, bukan pakai standar orang lain. Berani bilang ‘tidak’ untuk hal-hal yang tidak ada dalam daftar kita, baik ke orang lain maupun ke anak kita. 

Baca juga: Ketika Anak Bisa Menjadi Pengajar bagi Kita para Orangtua

 


Post Comment